PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Cuaca ekstrem yang melanda perairan Kumai, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), memaksa sebagian besar nelayan di Desa Teluk Pulai beralih profesi menjadi petani.
Cuaca laut yang tidak menentu di perairan Laut Jawa menyebabkan hasil tangkapan nelayan menurun drastis. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada pendapatan, tetapi juga membahayakan keselamatan nelayan saat melaut.
Selain itu, cuaca buruk turut menghambat mobilisasi orang dan barang dari dan menuju ibu kota Kecamatan Kumai. Kondisi ini menjadi semakin sulit karena satu-satunya akses transportasi warga hanya melalui jalur laut, baik menggunakan perahu, kelotok, maupun speedboat.
Kepala Desa Teluk Pulai, Herlius Cristian, mengatakan bahwa cuaca ekstrem pada bulan Desember merupakan fenomena tahunan yang biasa dihadapi warganya, khususnya nelayan.
“Namun karena hasil tangkapan sudah tidak sebanding dengan risiko yang dihadapi di laut, sebagian warga memilih beralih profesi menjadi petani,” ujarnya, Senin (15/12).
Ia menambahkan, saat ini mayoritas warga Desa Teluk Pulai menekuni usaha pertanian sayur-mayur, perkebunan kelapa sawit, serta pekerjaan lain di ibu kota Kecamatan Kumai.
Menurut Herlius, cuaca buruk yang sulit diprediksi juga memengaruhi mobilisasi warga. Mereka kerap menunggu cuaca teduh untuk melakukan perjalanan, baik pada malam hari maupun menjelang subuh.
“Jika ada warga yang sakit dan harus dirujuk, terpaksa kami nekat menerjang gelombang tinggi,” pungkasnya. (tyo/yit)
Editor : Heru Prayitno