PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Alih-alih menjadi pusat ekonomi rakyat, Pasar Palagan kini bak bangunan mati tanpa denyut kehidupan.
Sejumlah pedagang terus mengeluhkan kondisi pasar yang kian hari makin sepi, nyaris tanpa pengunjung.
Ironisnya, kios-kios yang masih tampak baru justru berderet kosong, ditinggalkan para penyewa yang menyerah pada nasib.
Dari sekian banyak lapak, hanya pedagang penggiling pentol yang masih bertahan, sementara pedagang sayur dan ikan satu per satu angkat kaki.
“Sudah hampir setahun begini. Bukan karena pedagang malas, tapi karena memang tidak ada pembeli,” keluh Mama Nisa, salah satu pedagang makanan, Rabu (8/10/2025).
Pasar yang seharusnya menjadi denyut aktivitas ekonomi sejak dini hari, kini hanya hidup sebentar.
Setelah pukul 09.30 WIB, suasana kembali senyap—seolah pasar ini hanya berdiri untuk menggiling pentol, bukan tempat jual beli masyarakat.
Lebih parah lagi, persaingan tidak sehat justru datang dari depan pintu pasar. Sejumlah pedagang memilih berjualan di luar area resmi dan menolak masuk ke dalam, menyebabkan arus pembeli berhenti di luar saja.
Akibatnya, pedagang di dalam pasar merana tanpa omzet.
“Mereka yang di depan sudah sering disuruh masuk, tapi tidak mau. Akhirnya pembeli hanya di luar, kami yang di dalam merugi,” ujarnya dengan nada kesal.
Kondisi semakin terpuruk ketika penggilingan pentol libur. Begitu tempat itu tutup, pasar benar-benar mati total. Dulu pasar ini dikenal hidup dengan penjual ikan dan kebutuhan harian, kini semua beralih menjual pentol demi sekadar bertahan.
“Kami tidak minta banyak, hanya ingin pemerintah menertibkan pedagang liar di luar agar semuanya masuk ke dalam pasar. Kalau itu dilakukan, pasar ini pasti hidup lagi,” pinta Mama Nisa.
Pasar Palagan kini menjadi potret buram tata kelola pasar tradisional yang gagal. Bangunan megah tanpa strategi pengelolaan hanya melahirkan pasar kosong dan pedagang yang terpinggirkan. (jpg)
Editor : Slamet Harmoko