PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Banjir yang melanda Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), memutus akses jalan utama di Desa Rungun. Akibatnya, jalur penghubung antar desa serta akses menuju ibu kota kecamatan tidak dapat dilalui kendaraan maupun pejalan kaki.
Ketinggian air yang mencapai lebih dari satu meter serta arus yang deras membuat masyarakat terpaksa menggunakan transportasi air seperti perahu, dengan ongkos antara Rp10.000 hingga Rp20.000 sekali jalan.
Tak hanya infrastruktur jalan, satu-satunya sekolah di desa tersebut juga ikut terendam. Dampaknya, aktivitas belajar mengajar dihentikan sementara dan para siswa diliburkan.
Banjir juga memutus akses utama keluar kampung di Jalan Belitung Laut, RT 01, Kelurahan Kotawaringin Hilir. Warga kini mengalihkan lokasi parkir kendaraan ke sekitar Jembatan Pile Slab Sugianto Sabran.
Meski wilayah terdampak cukup luas, banjir yang disebabkan oleh luapan Sungai Lamandau ini tercatat baru merendam beberapa rumah. Namun, kondisi air terus meningkat meski dua hari terakhir tidak turun hujan.
"Air yang masuk merupakan banjir kiriman dari wilayah Kabupaten Lamandau," ujar Ketua RT 01, Kelurahan Kotawaringin Hilir, Selasa (23/9).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD Kotawaringin Barat, Andang Santana, membenarkan bahwa jalan utama penghubung antar desa saat ini sudah tidak dapat digunakan.
“Untuk saat ini, baru jalan dan sekolah yang terdampak. Air belum masuk secara signifikan ke rumah-rumah warga, baru beberapa saja,” jelas Andang.
Ia menambahkan, pihaknya akan melakukan pengecekan langsung ke lokasi terdampak di Desa Rungun hingga Desa Kondang, serta wilayah Kelurahan Kotawaringin Hilir dan Kotawaringin Hulu.
“Dari hasil ground check besok, kami akan menentukan langkah penanganan selanjutnya,” katanya.
Sementara itu, banjir juga mulai mengancam wilayah di dalam Kota Pangkalan Bun akibat luapan Sungai Arut. Di Kelurahan Baru, air sudah menggenangi permukiman warga di Gang Banteng.
Kondisi serupa terjadi di Raja Seberang, Mendawai Seberang, Kelurahan Raja, dan Kelurahan Mendawai. Permukiman di bantaran sungai terendam dengan ketinggian air mencapai satu meter, menyisakan hanya sekitar 10–15 sentimeter di bawah lantai rumah warga. (tyo/yit)
Editor : Heru Prayitno