PALANGKA RAYA, radarsampit.jawapos.com – Srikandi PLN Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Barat (UIP KLB) melalui PLN Unit Pelaksana Proyek Kalimantan Bagian Barat 3 (UPP KLB 3) terus menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya keselamatan sejak dini.
Kali ini, edukasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) diberikan kepada siswa SMP Negeri 6 Palangka Raya dengan menghadirkan dua narasumber perempuan dari PLN, yakni Hayun Saputri dan Pawestri Cendani Jantiningrum.
Sebagai pemateri, Hayun Saputri menegaskan bahwa edukasi K3 penting dipahami oleh semua kalangan, termasuk perempuan.
“Keselamatan bukan hanya urusan laki-laki, perempuan juga harus sadar K3. Kalau kita paham bahaya dan tahu apa yang harus dilakukan saat darurat, kita bisa melindungi diri sendiri sekaligus orang di sekitar,” ujarnya, Selasa (2/12/2025).
Materi yang disampaikan meliputi prinsip dasar K3, cara mengenali potensi bahaya di lingkungan sekitar, hingga tindakan yang tepat saat menghadapi kondisi darurat seperti kebakaran.
Penyampaian dikemas secara interaktif dan sederhana agar mudah dipahami oleh pelajar tingkat SMP, termasuk contoh situasi nyata yang sering dijumpai di rumah maupun di sekolah.
Kehadiran dua narasumber perempuan ini juga menjadi inspirasi bagi para siswa, khususnya siswi SMP Negeri 6 Palangka Raya. Melalui peran aktif Srikandi PLN, pesan keselamatan disampaikan sembari menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam pekerjaan teknis, edukasi keselamatan, dan penanggulangan bencana.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMP Negeri 6 Palangka Raya, Samsullianor Perdana, menyampaikan apresiasinya.
“Siswa kami tidak hanya mendapat teori, tetapi juga dibangun kesadarannya untuk peduli terhadap keselamatan. Ini sangat bermanfaat karena ilmu seperti ini tidak selalu mereka dapatkan di kelas, dan bisa langsung diterapkan di rumah maupun lingkungan sekitar,” ujarnya.
Sementara itu, Manager PLN UPP KLB 3, Muhamad Indra Firdaus, menegaskan bahwa kegiatan edukasi K3 akan terus dilakukan sebagai bentuk kepedulian PLN terhadap keselamatan masyarakat. “Kami ingin membentuk rantai pengetahuan keselamatan di masyarakat, dimulai dari anak-anak, agar ketika mereka dewasa, mereka sudah terbiasa dengan budaya peduli bahaya dan tanggap darurat,” katanya.
General Manager PLN UIP KLB, Susilo, menambahkan bahwa keterlibatan pegawai perempuan dalam kegiatan edukasi merupakan bagian dari komitmen PLN dalam memperkuat nilai keberagaman dan kesetaraan.
“Srikandi PLN bukan hanya simbol keberagaman, tetapi motor perubahan. Kehadiran mereka di sekolah-sekolah membuktikan bahwa perempuan PLN dapat menjadi juru keselamatan sekaligus inspirasi bagi generasi muda,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kepedulian terhadap potensi bahaya di lingkungan sekitar, membentuk perilaku tanggap darurat, serta mendorong siswa menjadi agen keselamatan bagi keluarga dan masyarakat. “Ini langkah luar biasa dan kami meyakini siswa dapat menjadi agen keselamatan,” tandasnya. (daq/yit)
Editor : Heru Prayitno