Detik-Detik Evakuasi Dramatis ODGJ di Palangka Raya, Mengamuk di Warung, Bergelayut di Atap

Dodi Abdul Qadir • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 22:32 WIB

 

EVAKUASI : Polisi mengevakuasi Perempuan ODGJ yang membuat resah warga Jalan Merak, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya. FOTO: IST/RADAR SAMPIT
EVAKUASI : Polisi mengevakuasi Perempuan ODGJ yang membuat resah warga Jalan Merak, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya. FOTO: IST/RADAR SAMPIT

 

PALANGKA RAYA, Radarsampit.jawapos.com - Di balik kepulan debu warung yang porak-poranda, jerit tangis dan ketegangan menyelimuti Jalan Merak saat seorang perempuan bergelayut di punggung atap. Sinergi kemanusiaan akhirnya meredam amuk yang nyaris merenggut nyawa.

Sore itu, ketenangan Jalan Merak, Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya mendadak buyar. Suara barang pecah belah berderai disusul riuh warga yang berlarian keluar rumah memecah keheningan. 

Di sebuah warung kelontong kecil, sisa-sisa kepanikan masih mengudara. Etalase berantakan, barang dagangan berserakan di lantai, dan di atas bubungan atap seng yang rapuh, seorang perempuan berdiri dengan tatapan kosong nan tajam.

Baca Juga: Kabut Asap Tak Hentikan Terapi ABK, PLA Jemput Bola, Terapis Datangi Rumah Anak

Perempuan berinisial SF itu menunjukkan gejala gangguan jiwa yang kambuh. Tanpa peringatan, ia mengamuk, menghancurkan apa saja yang ada di dalam warung, lalu memanjat hingga ke titik tertinggi bangunan.

Warga hanya bisa menelan ludah, cemas bukan kepalang. Bukan hanya karena kerugian materil yang diderita pemilik warung, melainkan kekhawatiran luar biasa bahwa perempuan malang itu bisa terpeleset atau nekat melompat kapan saja.

Tak berselang lama, deru mobil patroli memecah kerumunan. Personel Polsek Pahandut bersama Polsubsektor Jekan Raya tiba di lokasi. Alih-alih menggunakan pendekatan represif, aparat kepolisian mengambil langkah taktis yang penuh kehati-hatian.

Baca Juga: Karhutla Makin Mengkhawatirkan, Kalteng Naikkan Status Jadi Tanggap Darurat

Menyaksikan situasi yang kian rawan, Kapolsek Pahandut AKP Iyudi Hertanto langsung menginstruksikan anggotanya untuk membangun perimeter pengaman sekaligus menggandeng pihak terkait.

"Kondisi di atas atap sangat labil dan membahayakan keselamatan yang bersangkutan maupun warga sekitar. Kami tidak bisa bertindak gegabah," ungkap Iyudi di sela-sela ketegangan evakuasi.

Sadar bahwa penanganan ODGJ membutuhkan keahlian khusus, polisi tidak bekerja sendirian. Koordinasi kilat langsung dihubungkan dengan Dinas Sosial Kota Palangka Raya dan tim medis dari Puskesmas Kayon.

Baca Juga: Udara Gumas Masuk Kategori Berbahaya, Siswa Kembali Belajar dari Rumah

Di bawah terik matahari yang mulai condong ke barat, sebuah drama kemanusiaan berlapis kesabaran pun dimulai. Petugas kepolisian bersama tenaga medis berupaya mendekati SF dengan pendekatan persuasif, melontarkan kalimat-kalimat penenang pelan-pelan untuk meredam emosinya yang meletup-letup.

Tegangan di lokasi sempat mencapai puncaknya ketika SF menolak dibujuk dan bergerak semakin mendekati tepi atap yang curam. Warga yang menyaksikan dari bawah menahan napas.

Setiap gerakan sekecil apapun di atas sana dirasakan sebagai ancaman. Namun, berkat ketenangan dan keluwesan petugas dalam merangkul sisi psikologisnya, perlahan-lahan amarah perempuan itu mulai melunak.

Baca Juga: Ketua DPRD Kalteng: Pelaku Karhutla Harus Ditindak Tegas, Jangan Pandang Bulu

Dengan koordinasi yang matang, tim gabungan akhirnya berhasil membujuk SF untuk turun perlahan melalui tangga darurat yang disiapkan. Sorot mata cemas warga seketika berubah menjadi kelegaan saat kaki SF menyentuh tanah dengan selamat.

Tak berhenti di situ, petugas kesehatan yang sejak awal siaga langsung merangsek maju. Pemeriksaan medis darurat dilakukan di tempat guna memastikan tidak ada luka fisik serius.

Setelah kondisinya sedikit lebih stabil, sebuah ambulans milik Puskesmas Kayon bersiap membawa SF meninggalkan lokasi. Perjalanan malam itu menjadi awal baru baginya, sebuah tiket menuju Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Kalawa Atei tempat di mana ia akan mendapatkan perawatan medis intensif yang layak dan manusiawi.

Baca Juga: Kasus Karhutla di Kalteng Jerat 23 Tersangka. Keterlibatan Korporasi masih Diselidiki Kepolisian

Peristiwa di Jalan Merak ini menyisakan sebuah pelajaran penting tentang arti empati kolektif. Kepolisian kembali mengingatkan masyarakat agar tidak menghakimi atau mengambil tindakan sendiri apabila menghadapi situasi serupa di lingkungan sekitar.

Sebab di balik amuk yang merusak, ada jiwa rentan yang sedang berteriak meminta pertolongan dan malam itu, Palangka Raya membuktikan bahwa kemanusiaan masih menjadi garis pertahanan yang paling utama. (*/fm)

Editor : Farid Mahliyannor
bikin resah PALANGKA RAYA mengamuk evakuasi ODGJ