Kabut Asap Tak Hentikan Terapi ABK, PLA Jemput Bola, Terapis Datangi Rumah Anak

Dodi Abdul Qadir • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 22:26 WIB

 

TERAPI : Pusat Layanan Autis (PLA) Kota Palangka Raya di bawah naungan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palangka Raya mengalihkan terapi tatap muka menjadi pendampingan langsung ke rumah anak. FOTO: DODI/RADAR SAMPIT
TERAPI : Pusat Layanan Autis (PLA) Kota Palangka Raya di bawah naungan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palangka Raya mengalihkan terapi tatap muka menjadi pendampingan langsung ke rumah anak. FOTO: DODI/RADAR SAMPIT

 

PALANGKA RAYA, Radarsampit.jawapos.com – Kabut asap yang menyelimuti Palangka Raya tak menyurutkan langkah Pusat Layanan Autis (PLA) Kota Palangka Raya. Demi memastikan anak berkebutuhan khusus (ABK) tetap mendapatkan terapi, layanan tatap muka untuk sementara dialihkan ke rumah masing-masing anak.

Langkah tersebut dilakukan PLA di bawah naungan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palangka Raya sebagai respons terhadap kualitas udara yang berada pada kategori tidak sehat.

Sekretaris Disdik Kota Palangka Raya Aprae Vico Ranan mengatakan, kondisi udara menjadi pertimbangan utama dalam memindahkan sementara kegiatan terapi dari pusat layanan ke rumah.

Baca Juga: Karhutla Makin Mengkhawatirkan, Kalteng Naikkan Status Jadi Tanggap Darurat

“Kesehatan anak adalah prioritas utama kami. Kabut asap tidak boleh menghentikan program terapi dan stimulasi anak-anak berkebutuhan khusus,” kata Aprae, Selasa (1/9/2026).

Meski lokasi terapi berpindah, program yang diberikan tetap disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak. Terapis dan guru PLA mendatangi rumah untuk memberikan pendampingan secara langsung.

Bedanya, terapi disesuaikan dengan kondisi dan fasilitas yang tersedia di rumah. Orang tua pun ikut dilibatkan dalam setiap proses pendampingan.

Baca Juga: Udara Gumas Masuk Kategori Berbahaya, Siswa Kembali Belajar dari Rumah

Dengan pola tersebut, orang tua tak sekadar menjadi pendamping. Mereka juga mendapat kesempatan mempelajari aktivitas dan stimulasi yang bisa diterapkan secara mandiri kepada anak setelah terapis meninggalkan rumah.

“Melalui pendampingan terapis dan guru ke rumah serta kolaborasi yang erat bersama orang tua, kami memastikan program anak tetap berjalan aman di dalam rumah,” ujarnya.

Selama kabut asap, terapi lebih diarahkan pada penguatan sensori motorik dan kemandirian. Anak tetap didorong aktif bergerak dan melakukan berbagai aktivitas menggunakan media sederhana yang ada di lingkungan rumah.

Baca Juga: Ketua DPRD Kalteng: Pelaku Karhutla Harus Ditindak Tegas, Jangan Pandang Bulu

Menurut Aprae, hal itu penting karena pembatasan aktivitas di luar ruangan dalam waktu cukup lama dapat memicu kecemasan maupun kebosanan pada anak berkebutuhan khusus.

Karena itu, stimulasi tidak boleh berhenti hanya karena kondisi udara sedang buruk. Aktivitas fisik dan terapi tetap diberikan, tetapi dengan memindahkan ruang belajar dan bermain ke lingkungan yang lebih aman.

Baca Juga: Selamatkan Bandara Sampit dari Kepungan Karhutla, Dua Ekskavator Bikin Kanal dan Sekat Api

PLA juga meminta orang tua mengambil peran lebih besar selama kondisi darurat kabut asap. Kesinambungan terapi diharapkan tetap terjaga melalui aktivitas sederhana yang dapat dilakukan bersama anak di rumah.

“Konkretnya, Pusat Layanan Autis Kota Palangka Raya memastikan seluruh anak berkebutuhan khusus di Kota Palangka Raya tetap mendapatkan penanganan optimal meskipun dalam kondisi darurat kabut asap,” tandasnya. (soc/daq/fm)

 

Editor : Farid Mahliyannor
Pusat layanan autis jemput bola anak berkebutuhan khusus (ABK) PALANGKA RAYA pendidikan