Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Guru SDN 2 Petuk Bukit Bersinar Di Tingkat Nasional

Dodi Abdul Qadir • Senin, 11 Mei 2026 | 11:24 WIB
Qasim Al Qusyairi
Qasim Al Qusyairi

 

PALANGKA RAYA, radarsampit.jawapos.com – Dunia pendidikan di Kalimantan Tengah kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional.

Guru muda dari SDN 2 Petuk Bukit, Kecamatan Rakumpit, Qasim Al Qusyairi berhasil mengharumkan nama daerah setelah masuk sebagai tiga finalis terbaik nasional dalam ajang “Insan Pendidikan Berdampak 2026” kategori Inovator Pendidikan Formal yang digelar platform GuruInovatif.id.

Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi dunia pendidikan Kota Palangka Raya. Dalam kompetisi nasional itu, Qasim mampu menyisihkan ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia mulai jenjang TK hingga SMA. Pengumuman finalis terbaik dilakukan pada puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional, 8 Mei 2026.

Pemerintah daerah dan masyarakat pun diharapkan terus memberikan dukungan terhadap pengembangan inovasi pendidikan, terutama di wilayah terpencil dan pinggiran kota. Dengan kolaborasi yang kuat, dunia pendidikan di Kalimantan Tengah diyakini mampu melahirkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Qasim Al Qusyairi menyampaikan,keberhasilan itu diraih melalui inovasi pendidikan bertajuk HUMA ITAH, sebuah program transformasi pendidikan yang lahir dari kepedulian terhadap kondisi sekolah di wilayah pinggiran kota.

“SDN 2 Petuk Bukit sebelumnya sempat mengalami berbagai keterbatasan, mulai dari minimnya fasilitas belajar, kekurangan tenaga pendidik hingga rapor pendidikan sekolah yang bertahun-tahun berada pada kategori merah,”ungkapnya,Minggu (10/5/2026).

Lanjutnya, melihat kondisi tersebut, dirinya bersama pihak sekolah berupaya menghadirkan perubahan nyata melalui pendekatan inovatif berbasis teknologi dan budaya sekolah positif. Salah satu terobosan utama yang dikembangkan ialah aplikasi SI DIKI (Sistem Informasi Digital Keren dan Kreatif).

Bebebrnya, Aplikasi berbasis Android tersebut bahkan telah terdaftar Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Kehadiran SI DIKI menjadi solusi alternatif di tengah keterbatasan buku paket dan sumber belajar bagi siswa di daerah pelosok.

“Melalui aplikasi itu, para siswa dapat mengakses materi pembelajaran digital secara gratis, mudah dan sesuai kebutuhan pembelajaran mereka,” tuturnya.

Lanjutnya, tak hanya berfokus pada digitalisasi pembelajaran, inovasi HUMA ITAH juga mendorong perubahan budaya sekolah secara menyeluruh. Berbagai gerakan positif harian diterapkan untuk membentuk lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan bagi siswa. Program GASPOL 10 dan Jumat Barasih menjadi bagian dari upaya membangun sekolah yang bersih, sehat dan penuh semangat kolaborasi.

Dampak dari inovasi tersebut mulai terlihat secara nyata. Rapor pendidikan sekolah yang sebelumnya berada pada kategori merah kini berubah menjadi hijau.

Selain itu, para siswa mulai menunjukkan peningkatan prestasi di berbagai bidang, mulai tingkat kecamatan hingga provinsi.

Qasim mengatakan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berinovasi dalam dunia pendidikan. Menurutnya, sekolah di wilayah pinggiran juga memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan bersaing di tingkat nasional.

“Pendidikan adalah tentang menyalakan lilin, bukan sekadar meratapi kegelapan. Jarak geografis dan keterbatasan fasilitas bukanlah penghalang untuk melahirkan inovasi yang berpusat pada siswa,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi para pendidik lainnya di Kalimantan Tengah untuk terus menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi peserta didik.

“Selain itu, capaian ini juga membuktikan bahwa sekolah di daerah pelosok mampu tampil dan bersaing di panggung nasional melalui kreativitas serta dedikasi para guru,”tandasnya.(daq/sla)

Editor : Slamet Harmoko
#guru inovatif #sdn 2 petuk bukit #Qasim Al Qusyairi #PALANGKA RAYA