
Sebuah laporan mengejutkan baru saja mengungkap dampak tak terduga dari digitalisasi pendidikan skala masif di Amerika Serikat (AS). Pemerintah AS dilaporkan telah menggelontorkan dana fantastis mencapai 30 miliar dolar AS (sekitar Rp480 triliun) untuk membagikan laptop dan perangkat digital kepada para pelajar di sekolah-sekolah.
Namun, bukannya mencetak generasi yang lebih cerdas, investasi jumbo tersebut justru memicu fenomena memprihatinkan. Laporan terbaru pada Minggu (9/8/2026) mengungkapkan bahwa generasi muda AS saat ini berisiko menjadi generasi pertama yang memiliki kemampuan kognitif lebih rendah dibandingkan orang tua mereka.
Penggunaan layar digital secara terus-menerus di kelas, dinilai telah mengikis kemampuan berpikir kritis, fokus membaca teks panjang, hingga keterampilan menulis tangan yang krusial bagi perkembangan otak anak.
Banyak pakar pendidikan dan psikolog anak menilai bahwa ketergantungan pada perangkat digital secara berlebihan telah menggantikan metode belajar interaktif yang jauh lebih efektif.
Baca Juga: SMPN 13 Palangka Raya Jadi KSRG Keenam, Transformasi Digital Makin Digenjot
"Pemberian laptop secara masif tanpa skema kurikulum yang teruji justru menjadi distraksi raksasa di ruang kelas. Kita melihat adanya penurunan signifikan dalam pemahaman bacaan mendalam serta kemampuan memecahkan masalah secara mandiri pada anak-anak." Ungkap salah satu peneliti pendidikan dalam laporannya.
Temuan ini menjadi peringatan keras bagi para pembuat kebijakan pendidikan di seluruh dunia agar tidak terburu-buru menggantikan metode belajar konvensional dengan teknologi digital tanpa evaluasi yang matang. (rm-111)
Editor : Agus Jaka Purnama