Takut Tersaingi, AS kembali Tuding China Ambil Untung Lewat Ekspansi Teknologi Global

Rafii Hamdan • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 14:42 WIB
Salah satu teknologi milik China. (net)
Salah satu teknologi milik China. (net)

Ketegangan antara dua negara adidaya dunia kembali memanas di sektor teknologi. Pada Kamis (23/7/2026), Amerika Serikat (AS) secara terbuka melayangkan tuduhan keras kepada China yang dinilai terus memanfaatkan dominasi teknologinya untuk keuntungan sepihak di pasar global.

Pemerintah AS menuding bahwa pesatnya adopsi teknologi asal China di berbagai negara berkembang bukan sekadar persaingan bisnis biasa, melainkan ada praktik persaingan tidak sehat serta dugaan pencurian data dan kekayaan intelektual di baliknya.

Tudingan keras ini muncul setelah semakin banyaknya negara—termasuk di kawasan Asia Tenggara dan Afrika—yang memilih menggunakan infrastruktur digital, jaringan telekomunikasi, hingga perangkat kecerdasan buatan (AI) buatan produsen asal Negeri Tirai Bambu tersebut.

Langkah masif negara-negara berkembang berpaling ke teknologi China ini memicu kecemasan mendalam bagi pihak Washington yang khawatir pengaruh dominasi teknologinya di tingkat global makin tergerus.

Baca Juga: Gak Cuma SpaceX, China Juga Sukses Uji Coba Roket 'Reusable' Pertama. Mendarat Pakai Jaring di Tengah Laut

"Kami melihat adanya pola yang sangat mengkhawatirkan di mana ekspansi teknologi ini dilakukan dengan cara-cara yang merugikan standar persaingan sehat global serta mengancam keamanan data di berbagai wilayah." Ujar salah satu pejabat senior Kementerian Perdagangan AS dalam keterangannya, Kamis (23/7/2026).

Menanggapi tuduhan tersebut, pihak Beijing langsung melayangkan bantahan keras. China menegaskan bahwa keberhasilan teknologi mereka di pasar internasional murni karena efisiensi biaya, kualitas produk yang kompetitif, dan kerja sama yang saling menguntungkan tanpa ada ikatan politik.

Perseteruan yang kembali memuncak ini diprediksi bakal makin memperkeruh iklim rantai pasok teknologi global, sekaligus memaksa negara-negara berkembang untuk lebih berhati-hati dalam menentukan mitra digital mereka ke depan. (pel)

Editor : Agus Jaka Purnama
amerika serikat teknologi tuduhan digital china