SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Deru mesin itu tak lagi sekencang motor keluaran terbaru. Bentuknya pun sederhana. Namun, setiap kali melintas di jalanan Sampit, motor-motor lawas itu selalu mengundang lirikan.
Bagi sebagian orang, ia bukan sekadar alat transportasi, melainkan pengantar kenangan tentang masa muda, perjalanan pertama, dan cerita yang tak lekang oleh waktu.
Di tengah arus kendaraan modern, motor lawas justru menemukan kembali tempatnya. Pelan tapi pasti, ia kembali dicintai.
Bukan hanya oleh mereka yang pernah memilikinya di masa lalu, tetapi juga oleh generasi muda yang mencari makna di balik kesederhanaan.
Di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, kecintaan itu tumbuh menjadi ikatan. Sejumlah penggemar motor lawas kini rutin berkumpul, saling menyapa, dan berbagi cerita.
Mereka datang dari latar belakang berbeda, namun disatukan oleh ketertarikan yang sama motor kecil yang pernah menjadi primadona di masanya.
“Awalnya cuma suka saja. Lama-lama jadi sering ketemu orang-orang yang punya minat sama,” ujar Muhammad Jimi, salah satu penggemar motor lawas, yang tergabung dalam anggota Mio Family di Sampit, Senin (5/1/2026).
Pertemuan-pertemuan itu sederhana. Kadang hanya duduk santai di pinggir jalan, membicarakan perawatan mesin, berburu suku cadang, atau sekadar mengenang perjalanan yang pernah dilalui.
Dari obrolan ringan, tumbuh rasa kebersamaan. Dari hobi, lahir persahabatan.
Motor-motor lawas itu tetap setia mengaspal. Digunakan untuk aktivitas harian, mengantar anak sekolah, berangkat kerja, hingga berkeliling kota di sore hari.
Beberapa pemilik memilih mempertahankan bentuk aslinya. Yang lain memberi sentuhan kecil, tanpa menghilangkan karakter bawaan.
“Enak dipakai harian. Perawatannya juga tidak ribet,” kata Jimi singkat, sembari tersenyum.
Lebih dari sekadar hobi, motor lawas menjadi ruang berbagi. Ada yang saling membantu mencari suku cadang, ada pula yang berbagi pengalaman saat mesin bermasalah.
Semua dilakukan tanpa pamrih, dengan satu tujuan: menjaga agar motor kesayangan tetap hidup dan terus berjalan.
Di tengah cepatnya perubahan zaman, motor lawas itu seakan mengajarkan satu hal bahwa tidak semua yang lama harus ditinggalkan. Sebab, dari sesuatu yang sederhana, bisa tumbuh cerita, persahabatan, dan rasa memiliki.
Di jalanan Sampit, motor-motor itu terus melaju. Membawa bukan hanya penumpang, tetapi juga kenangan dan cerita yang terus bertambah. (oes)
Editor : Slamet Harmoko