Oleh : SETIA RAHMAN, S.Pi
(Penyulun Perikanan Kabupaten Kotawaringin Timur)
Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dengan ibu kotanya Sampit, dikenal sebagai salah satu pusat urat nadi perekonomian, perikanan, dan perkebunan di Kalimantan Tengah.
Wilayah yang dibelah oleh keagungan Sungai Mentaya ini umumnya beriklim tropis basah dengan curah hujan tinggi. Namun, ketika siklus kemarau melintas, wajah Kotawaringin Timur berubah drastis menghadirkan tantangan ekologis dan sosial yang menguji ketahanan masyarakatnya.
Kemarau panjang di Kotawaringin Timur selalu membawa dampak fenomena alam yang saling berkaitan secara langsung yaitu suhu ekstrem dan dari hamparan lahan gambut tebal.
Saat hujan tak kunjung turun berbulan-bulan, tinggi muka air tanah menyusut drastis. Gambut yang mengering berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar bahkan oleh percikan api sekecil apa pun.
Kemudian fenomena alam yang tak bisa dihindari adalah kabut asap akibat dampak dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjadi aroma dan pemandangan yang tidak asing.
Asap tebal sering kali menyelimuti Kota Sampit dan sekitarnya, menekan kualitas udara hingga level tidak sehat, mengganggu aktivitas manusia, serta memaksa anak-anak sekolah belajar dari rumah.
Kemudian dampak yang sangat nyata dari pengeruh kemarau ini adalah terjadinya intrusi air laut. Masuknya air asin dari laut Jawa ke kawasan hilir hingga tengah aliran Sungai Mentaya.
Fenomena ini menyebabkan perubahan kualitas air secara mendadak dari air tawar menjadi payau. ini bukan sekadar perubahan alami biasa, melainkan ancaman serius bagi keberlanjutan usaha budidaya perikanan air tawar di sepanjang perairan Kotawaringin Timur.
Atau para pembudidaya ikan di daratan seperti kolam terpal, kolam tanah, kolam beton yang mengandalkan air sungai sebagai sumber air untuk kegiatan budidaya ikan juga terdampak akibat perubahan kadar air ini.
Dari Hasil pengukuran kualitas air di aliran sungai mentaya di aliran sungai wilayah kota sampit dan sekitarnya beberapa hari yang lalu (rabu, 14 Oktober 2026), kualitas air menunjukkan dengan kadar yang tidak biasa atau tidak normal.
Batas normal kualitas air tawar untuk pH biasanya berkisar antara 6 -7, sedangkan untuk kadar garam atau salinitas air adalah 0 ppt (part per thousand). Namun dari hasil pengukuran menunjukkan bahwa untuk pH cenderung normal yaitu berkisar antara 6-7 sedangkan salinitas atau kadar garam ketika diukur pada saat air surut menunjukkan angka 2 ppt (bagian per seribu).
Sedangkan salinitas atau kadar garam ketika diukur pada saat air pasang menunjukkan angka 5 ppt. Ini berarti bahwa kandungan air sungai Mentaya sudah masuk ke kualitas payau, artinya terdapat sedikit kadar garam yang diduga akibat masuknya air laut ke aliran sungai mentaya karena pengaruh instrtusi air laut dampak dari kemarau panjang.
Fenomen semacam ini akan berdampak pada keberlangsungkan hidup pada ikan-ikan yang hidup di air tawar. Ikan air tawar seperti patin, gurame, nila, dan lele dan jenis ikan air tawar lainnya, pada dasarnya memiliki sistem organ yang dirancang untuk hidup pada lingkungan beroksigen baik dengan kadar garam (salinitas) mendekati 0 ppt. Ketika salinitas meningkat drastis, maka dampak psikologis dan fisiologis akan terjadi pada ikan tawar yang diantaranya adalah :
1. Gangguan Osmoregulasi dan Stres Fisiologis
Ikan tawar mempertahankan kadar cairan tubuh dengan cara menyerap air dan mengeluarkan garam. Ketika air tempat hidupnya berubah menjadi payau/asin, maka proses osmoregulasi bekerja ekstra keras hingga menyebabkan ikan stres parah. Selain itu juga akan menyebabkan laju pertumbuhan ikan melambat drastis akibat energi ikan habis digunakan untuk menyesuaikan osmoregulasi, bukan untuk pertumbuhan fisik.
2. Kematian Massal
Ikan jenis sensitif misalnya seperti benih ikan patin dan gurami rentan mengalami dehidrasi selular akibat air di luar tubuh mengambil cairan dalam organ ikan secara alami (osmosis). Jika salinitas melonjak melebihi toleransi lebih dari 5-8 ppt,maka mortalitas/kematian massal dapat terjadi dalam waktu singkat.
3. Nafsu Makan Menurun
Ikan yang mengalami stres akibat perubahan salinitas akan merespons dengan penurunan nafsu makan. Pakan yang tersisa di dalam wadah budidaya (keramba/kolam) tidak terkonsumsi, sehingga membusuk dan memperburuk kualitas air dengan memicu amonia tinggi.
4. Kerentanan Terhadap Penyakit dan Parasit
Perubahan mendadak parameter fisika-kimia air menurunkan sistem kekebalan tubuh ikan. Hal ini membuka celah bagi munculnya serangan bakteri sekunder, jamur, maupun parasit kulit/insang.
Dalam kondisi yang seperti ini ada beberapa langkah konkret yang dapat kita antisipasi terutama bagi para pelaku usaha budidaya ikan yang memanfaatkan aliran airt di sungai Mentaya dalam rangka untuk meminimalkan kerugian ekonomi akibat fenomena masuknya air laut ini, yaitu :
A. Pengawasan dan Pemantauan Kualitas Air
Cek Salinitas Secara Berkala dengan cara memnggunakan alat refraktometer atau salinometer portabel untuk memantau kadar garam air sungai, terutama saat pasang naik. Kemudian gunakan sumber Air alternatif, iika memungkinkan, manfaatkan sumur bor atau sumber air tawar darat yang terisolasi dari pengaruh pasang air laut.
B. Manajemen Operasional Budidaya
1. Apabila ikan sudah mendekati ukuran konsumsi (panen) dan kadar garam di sungai mulai merambat naik, segera lakukan panen parsial atau total guna menghindari risiko kematian massal.
2. Kurangi / Hentikan Pemberian Pakan Sementara: Saat kondisi air berada pada puncak salinitas/pasang asin, kurangi porsi pakan hingga 30–50%, atau hentikan pakan sementara waktu agar tidak mengotori perairan dan menekan stres pada pencernaan ikan.
3. Penyekatan kolam darat bagi pembudidaya berbasis kolam tanah/terpal, tutup atau atur pintu masuk air (inlet) dari sungai selama masa pasang asin tinggi.
4. Hentikan penebaran benih jika kondisi kualitas air masih belum normal.
C. Penguatan Imunitas Ikan
Tambahkan Vitamin C dan Imunostimulan ke dalam pakan mandiri maupun pakan pabrikan secara teratur untuk memperkuat daya tahan tubuh ikan menghadapi tekanan stres lingkungan.
Sahabat budidaya dimanapun berada, fenomena kemarau panjang yang memicu masuknya air laut ke aliran sungai merupakan ancaman nyata bagi keberlanjutan usaha budidaya ikan air tawar. Kewaspadaan, pemantauan kualitas air secara disiplin, serta kesiapan infrastruktur tandon dan air cadangan adalah kunci utama agar para pembudidaya dapat melewati musim kemarau dengan risiko seminimal mungkin.(*)
Editor : Agus Jaka Purnama