Oleh dr. Megawati Yulia Wina Pratiwi
Kebakaran hutan dan lahan bukan hanya persoalan lingkungan. Asap yang dihasilkan juga dapat memberikan dampak langsung terhadap kesehatan masyarakat, termasuk kesehatan mata. Ketika kualitas udara menurun akibat asap kebakaran, keluhan seperti mata merah, perih, berair, terasa kering, hingga seperti kemasukan pasir dapat semakin sering dirasakan.
Mata merupakan salah satu organ tubuh yang paling langsung berhubungan dengan lingkungan. Permukaan mata, atau ocular surface, dilindungi oleh lapisan air mata yang berfungsi menjaga kelembapan, memberikan nutrisi, serta melindungi kornea dan konjungtiva. Ketika mata terpapar asap dalam jumlah tinggi, keseimbangan tersebut dapat terganggu.
Asap kebakaran hutan mengandung berbagai zat pencemar, salah satunya adalah partikulat berukuran sangat kecil yang dikenal sebagai PM2.5. Selain partikulat, asap juga dapat mengandung berbagai gas dan senyawa kimia hasil pembakaran vegetasi. Partikel dan zat iritan tersebut dapat menempel pada permukaan mata dan memicu iritasi serta proses peradangan.
Sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Pollution pada 2022 menunjukkan bahwa iritasi mata merupakan salah satu dampak yang paling sering dilaporkan akibat paparan asap kebakaran hutan. Keluhan yang dapat muncul antara lain rasa terbakar, gatal, mata berair, mata kering, dan sensasi benda asing.
Dampaknya tidak hanya berupa keluhan sementara. Paparan asap juga dapat memengaruhi stabilitas lapisan air mata. Lapisan air mata yang tidak stabil menyebabkan permukaan kornea lebih mudah mengalami kekeringan dan iritasi. Kondisi ini dapat memperburuk keluhan pada orang yang sebelumnya sudah mengalami mata kering.
Penelitian mengenai d ampak asap kebakaran di Buenos Aires juga menemukan adanya peningkatan hiperemia atau kemerahan konjungtiva serta perubahan stabilitas lapisan air mata selama periode dengan paparan asap. Orang yang sebelumnya sudah memiliki gangguan permukaan mata dapat mengalami dampak yang lebih berat.
Penelitian yang lebih baru pada petugas pemadam kebakaran memberikan gambaran yang semakin jelas. Petugas yang terpapar asap selama kegiatan pembakaran terkendali mengalami peningkatan keluhan seperti rasa tidak nyaman pada mata, kekeringan, dan sensasi benda asing. Pemeriksaan mata juga menunjukkan perubahan pada permukaan mata dan stabilitas lapisan air mata.
Menariknya, penelitian eksperimental pada manusia juga menemukan perubahan objektif setelah paparan asap vegetasi. Selain perubahan pada permukaan mata, ditemukan peningkatan kadar interleukin-1β pada air mata. Zat tersebut merupakan salah satu mediator yang berhubungan dengan proses inflamasi.
Siapa yang Perlu Lebih Waspada?
Masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak asap merupakan kelompok yang perlu memperhatikan kondisi mata, terutama ketika kualitas udara memburuk. Risiko juga dapat lebih besar pada orang yang memang sudah memiliki masalah permukaan mata, seperti mata kering.
Kelompok lain yang perlu mendapatkan perhatian khusus adalah petugas pemadam kebakaran karena mereka dapat mengalami paparan asap dengan konsentrasi yang jauh lebih tinggi dan dalam durasi lebih lama.
Paparan asap juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Mata yang sangat berair, perih, atau mengalami pandangan kabur sementara dapat mengganggu aktivitas yang membutuhkan ketelitian visual, termasuk bekerja dan berkendara.
Bagaimana Melindungi Mata?
Langkah pertama adalah mengurangi paparan. Ketika kualitas udara sedang buruk, masyarakat sebaiknya membatasi aktivitas di luar ruangan dan menghindari lokasi dengan konsentrasi asap tinggi.
Penggunaan kacamata pelindung dapat membantu mengurangi kontak langsung antara asap dan permukaan mata. Untuk kondisi kualitas udara yang buruk, perlindungan terhadap sistem pernapasan juga tetap penting karena asap kebakaran memberikan dampak terhadap berbagai organ tubuh.
Bagi seseorang yang menggunakan lensa kontak dan mengalami mata merah, kering, atau tidak nyaman ketika terpapar asap, penggunaan lensa kontak sebaiknya dihentikan sementara dan diganti dengan kacamata sampai kondisi membaik.
Air mata buatan atau artificial tears juga dapat membantu mengurangi gejala kekeringan dan rasa tidak nyaman pada sebagian orang.
Namun, masyarakat perlu berhati-hati dalam menggunakan obat tetes mata, terutama obat tetes yang mengandung vasokonstriktor atau steroid. Penggunaan obat mata sebaiknya dilakukan berdasarkan rekomendasi tenaga kesehatan karena tidak semua mata merah disebabkan oleh iritasi asap.
Kapan Harus ke Dokter Mata?
Sebagian besar iritasi ringan akibat paparan asap dapat membaik setelah paparan dihentikan. Namun, pemeriksaan dokter mata diperlukan apabila keluhan menetap atau semakin berat.
Segera periksakan mata apabila terdapat:
penurunan penglihatan;
nyeri mata yang berat;
silau atau fotofobia yang signifikan;
sensasi benda asing yang tidak membaik;
mata merah berat;
keluar cairan dari mata;
atau riwayat paparan asap yang sangat berat.
Hal ini penting karena keluhan setelah paparan asap tidak selalu hanya berupa iritasi ringan. Kondisi kornea dan permukaan mata perlu diperiksa apabila terdapat gejala yang berat.
Menjaga Mata di Tengah Ancaman Kebakaran Hutan
Kebakaran hutan dan lahan sering kali dipandang terutama sebagai masalah lingkungan dan kesehatan pernapasan. Padahal, mata juga merupakan organ yang secara langsung terpapar polusi udara.
Bukti ilmiah saat ini menunjukkan bahwa asap kebakaran hutan dapat menyebabkan iritasi, gangguan lapisan air mata, kemerahan konjungtiva, dan peradangan pada permukaan mata. Meskipun penelitian mengenai dampak jangka panjang masih terus berkembang, langkah pencegahan sederhana dapat dilakukan untuk mengurangi risiko.
Ketika udara dipenuhi asap, menjaga kesehatan mata bukan sekadar soal kenyamanan. Mata merupakan bagian penting dari kemampuan seseorang untuk bekerja, belajar, berkendara, dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Karena itu, ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi, pesan kesehatan kepada masyarakat sebaiknya tidak hanya berbunyi “lindungi paru-paru”, tetapi juga “lindungi mata dari paparan asap.” (***)
Referensi
Jaiswal S, Jalbert I, Schmid K, Tein N, Wang S, Golebiowski B. Smoke and the eyes: A review of the harmful effects of wildfire smoke and air pollution on the ocular surface. Environmental Pollution. 2022;309:119732.
Miyashita K, et al. Impact of wildfire smoke in Buenos Aires, Argentina, on ocular surface. Arquivos Brasileiros de Oftalmologia. 2015.
Jaiswal S, Golebiowski B, Duong HT, Madigan MC, Jalbert I. Adverse eye effects of smoke exposure at prescribed burns in wildland firefighters. International Journal of Environmental Health Research. 2026.
Jaiswal S, et al. Wildfire smoke exposure and eye irritation in Australian wildland firefighters. 2024.
Jaiswal S, et al. Wildfire smoke induces eye surface inflammation and tear film changes in a human experimental model. 2025.