PADA era saat ini, tugas sekolah yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit dengan cukup membuka gawai, memasukkan perintah, lalu jawaban lengkap muncul di layar.
Kalimatnya rapi, gagasannya tersusun, bahkan terkadang jauh lebih sempurna daripada tulisan anak sendiri. Itulah wajah baru pendidikan di tengah perkembangan kecerdasan artificial intelligence (AI).
Terjadinya proses perubahan belajar anak yang dapat dengan mudah memperoleh jawaban membuat anak melewati proses yang justru paling penting dalam pendidikan, seperti membaca, mengamati, mencoba, berdiskusi, menganalisis, dan membangun pemahaman dengan pikirannya sendiri.
Oleh karena itu, Anak perlu dibiasakan untuk mencoba berpikir terlebih dahulu sebelum meminta bantuan AI.
Ketika menghadapi sebuah persoalan, mereka dapat diminta menyampaikan pendapat awal, membuat dugaan, mencari kemungkinan solusi, kemudian menggunakan AI sebagai alat untuk memperkaya atau menguji pemikirannya.
Dengan demikian, teknologi tidak mengambil alih proses berpikir anak, tetapi membantu memperluas proses belajar tersebut.
Ketika anak meminta bantuan AI untuk mengerjakan tugas, pertanyaan yang perlu dibangun bukan apakah tugas tersebut selesai, tetapi memastikan anak memahaminya.
Pada akhirnya, persoalan utama bukan terletak pada semakin pintarnya AI, melainkan bagaimana menggunakan kepintaran tersebut.
AI dapat membantu menghasilkan tulisan, tetapi anak perlu memiliki gagasan. AI dapat memberikan jawaban, tetapi anak perlu memahami alasan di balik jawaban tersebut.
AI dapat membantu menyelesaikan persoalan, tetapi anak perlu belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas pilihannya. AI boleh semakin pintar.
Teknologi boleh semakin canggih. Namun, pendidikan harus tetap memastikan anak berada di pusat proses belajar.
Sebab, tujuan pendidikan bukan menciptakan anak yang cepat menghasilkan jawaban, tetapi membentuk manusia yang mampu berpikir, memahami, berkarya, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab. AI boleh semakin pintar.
Teknologi boleh semakin canggih. Namun, anak jangan sampai berhenti berpikir.
Anak Harus Menggunakan AI, Bukan Digunakan AI
Terdapat perbedaan mendasar antara menggunakan AI sebagai alat bantu belajar dengan menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI. Ketika AI digunakan sebagai alat bantu, anak tetap menjadi pelaku utama dalam proses belajar. Dalam posisi seperti ini, AI berfungsi sebagai pendamping yang mampu memperluas kemampuan belajar anak, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir anak.
Sebaliknya, ketika seluruh tugas berpikir diserahkan kepada AI, anak hanya menjadi penerima hasil. Tugas yang seharusnya menjadi ruang untuk berpikir berubah menjadi aktivitas menyalin jawaban.
Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, maka proses belajar dapat kehilangan makna karena mereka tidak terbiasa mencari alasan, menguji kebenaran, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, atau mempertanggungjawabkan jawaban yang mereka berikan.
Padahal, kemampuan-kemampuan tersebut merupakan bagian penting dari pendidikan yang tidak dapat digantikan hanya dengan kecepatan teknologi.
Literasi AI tidak cukup hanya dengan mengajarkan cara membuat prompt yang efektif. Kemampuan teknis dalam memberikan perintah kepada AI memang penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah kemampuan untuk menilai hasil yang diberikan AI.
Anak perlu memahami bahwa AI tidak selalu menghasilkan informasi yang benar, lengkap, atau sesuai dengan konteks. Karena itu, setiap informasi yang diperoleh dari AI perlu diperiksa dan ditinjau kembali.
Anak dapat diarahkan untuk membandingkan informasi dari AI dengan buku pelajaran atau sumber terpercaya lainnya yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Dengan cara tersebut, anak tidak hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga belajar menjadi pengguna teknologi yang bijak dan kritis.
Selain kemampuan akademik, penggunaan AI juga perlu berjalan bersama pendidikan etika. Anak perlu memahami bahwa teknologi memiliki batas penggunaan. Menggunakan AI untuk mencari inspirasi atau memahami materi tentu berbeda dengan meminta AI mengerjakan seluruh tugas kemudian mengakuinya sebagai hasil pemikiran sendiri.
Anak juga perlu dikenalkan pada pentingnya menghargai karya orang lain, tidak melakukan plagiarisme, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta menjaga privasi ketika menggunakan teknologi digital.
Pendidikan semacam ini penting agar anak tidak hanya menjadi pengguna AI yang terampil, tetapi juga menjadi pengguna yang bertanggung jawab.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan menghasilkan anak yang paling cepat mendapatkan jawaban, melainkan anak yang mampu memahami mengapa sebuah jawaban dianggap benar, mampu mempertanyakan ketika menemukan sesuatu yang tidak sesuai, dan mampu menggunakan pengetahuannya dalam menghadapi persoalan nyata.
AI dapat membantu mencapai tujuan tersebut apabila ditempatkan pada posisi yang tepat. Dengan demikian yang menjadi tantangan saat ini adalah membangun budaya belajar yang menempatkan AI sebagai alat bantu untuk menyelesaikan berbagai persoalan pembelajaran, sementara anak tetap menjadi pusat proses berpikir.
Penilaian Tidak Cukup Melihat Hasil Akhir
Era AI juga menjadi momentum bagi sekolah untuk meninjau kembali cara menilai tugas anak. Tulisan yang sempurna tidak selalu menunjukkan pemahaman yang sempurna.
Sebuah jawaban yang benar tidak selalu menunjukkan proses berpikir yang benar. Dengan demikian, guru tidak hanya melihat apa yang dihasilkan, tetapi melihat proses mereka berpikir.
Guru dapat mulai menggeser sebagian bentuk penilaian dari sekadar tugas tertulis menuju penilaian yang memberikan kesempatan anak untuk menunjukkan pemahamannya secara langsung.
Misalnya, setelah menyelesaikan sebuah tugas, anak diminta menjelaskan alasan memilih jawaban tersebut, menunjukkan sumber informasi yang digunakan, menceritakan tahapan penyelesaian, atau menjelaskan bagian mana yang mengalami kesulitan.
Aktivitas sederhana tersebut dapat membantu guru membedakan antara anak memahami materi dan anak yang hanya memperoleh jawaban dari AI.
Penilaian juga perlu memberi ruang terhadap kesalahan. Dalam proses berpikir, kesalahan bukan tanda kegagalan, melainkan bukti anak sedang mencoba, menguji gagasan, dan memperbaiki pemahamannya.
Ketika anak diminta menjelaskan kesalahan yang pernah dibuat dan bagaimana cara memperbaikinya, guru dapat melihat perkembangan cara berpikir mereka. Proses semacam ini sulit tergantikan oleh sekadar melihat angka atau jawaban akhir pada lembar tugas.
Penilaian proyek, presentasi, portofolio, diskusi, demonstrasi, jurnal reflektif, dan penilaian kinerja dapat menjadi bagian dari strategi untuk melihat kemampuan anak secara lebih utuh. Bukan berarti tes tertulis menjadi tidak relevan, tetapi tes tidak seharusnya menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui kemampuan anak.
Kemampuan memahami, bernalar, berkomunikasi, berkolaborasi, memecahkan masalah, dan merefleksikan pengalaman belajar juga perlu mendapatkan ruang dalam penilaian.
Dengan demikian, tantangannya adalah memastikan anak tetap memiliki kemampuan berpikir meskipun AI tersedia di sekeliling mereka.
Oleh karena itu, sekolah perlu membangun sistem penilaian yang tidak mudah tertipu oleh hasil yang tampak sempurna, tetapi mampu membaca proses di balik hasil tersebut.
Nilai bukan hanya tentang jawaban yang benar, melainkan juga tentang bagaimana seseorang anak sampai pada jawaban itu, alasan yang digunakan, proses yang ditempuh, serta kemampuan mempertanggungjawabkan hasil pemikirannya sendiri. (Sri Yuliani, Mahasiswa Magister Pedagogi, Universitas Muhammadiyah Malang)
Editor : Slamet Harmoko