Oleh Muhamad Indra, S.Pi*
KETAHANAN pangan sesungguhnya bisa dimulai dari halaman rumah sendiri, bukan dari halaman tetangga apalagi mantan yang sudah jauh di hati dan tidak pula harus menunggu menjadi pelaku usaha perikanan besar, memiliki tambak berhektare-hektare, atau mempunyai kolam sebesar lapangan sepak bola. Bahkan, ember yang selama ini hanya menjadi tempat menampung air hujan pun bisa naik pangkat jadi hotel Bintang 5 menjadi kolam ikan. Di situlah menariknya memelihara ikan skala rumahan: sederhana, relatif murah, bisa dilakukan di lahan terbatas, dan yang paling penting, hasilnya dapat menjadi sumber pangan keluarga, Syukur-syukur bisa nambahin uang jajan untuk beli Pajero, eits deh!
Selama ini, ketika mendengar istilah ketahanan pangan, pikiran kita sering langsung loading kepada sawah luas, gudang beras, peternakan besar, atau kapal-kapal yang membawa hasil laut. Padahal, ketahanan pangan juga memiliki wajah yang sangat sederhana, sesederhana baju daster yang dipakai emak-emak; seorang ibu yang memanen ikan dari halaman rumah untuk lauk makan siang, seorang bapak yang memberi pakan ikan sebelum berangkat kerja, atau anak-anak yang belajar bahwa ikan tidak selalu datang dari pasar dalam keadaan sudah dibungkus plastik.
Memelihara ikan di rumah memang tidak serta-merta membuat sebuah keluarga terbebas dari persoalan pangan. Jangan dibayangkan besok pagi kita bisa memanen ikan sebanyak satu ton hanya karena menebar benih sepuluh ekor. Ikan pun punya prinsip ekonomi: diberi makan, tumbuh; tidak diberi makan, mungkin tumbuh juga jadi stunting, namun pemilik ikannya yang ikut kurus karena menunggu panen yang tak kunjung terjadwalkan sesuai siklus produksi.
Namun, dari skala kecil itulah ketahanan pangan dapat dibangun. Sedikit demi sedikit. Ember demi ember. Kolam demi kolam. Karena ketahanan pangan bukan hanya soal seberapa banyak makanan yang tersedia, tetapi juga tentang kemampuan keluarga untuk memiliki akses terhadap pangan yang cukup, bergizi, dan berkelanjutan dan pastinya dapat dikerjakan oleh seluruh anggota keluarga.
Dari Ember Bekas Menjadi “Tambang” Protein bernilai tinggi
Memelihara ikan skala rumahan memiliki keunggulan yang cukup masuk akal. Ikan merupakan sumber protein yang dapat menjadi bagian dari menu keluarga. Dengan memelihara sendiri, keluarga tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan ikan dari pasar bahkan ketika ikan dipasar kosong supplaynya, kita masih dapat menikmati ikan dari peliharaan di halaman rumah.
Ketika harga bahan pangan mengalami perubahan, memiliki sumber pangan sendiri tentu memberikan sedikit ruang bernapas. Setidaknya, ketika harga ikan di pasar naik, kita masih bisa melihat ikan berenang di halaman sambil berkata dalam hati, “Tenang, sobat. Belum waktunya masuk wajan.”
Tentu ikan di kolam rumah bukan berarti gratis. Tetap ada biaya membeli benih, pakan, membuat atau membeli wadah, serta kebutuhan pemeliharaan lainnya. Akan tetapi, kegiatan ini dapat menjadi bentuk investasi pangan sederhana yang dapat kita rencanakan dengan program mencicil. Hasilnya bukan hanya ikan yang bisa dikonsumsi, tetapi juga pengalaman mengelola sumber pangan secara mandiri dari rumah
Jenis ikan yang dipelihara pun dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kemampuan pemilik. Lele, Nila, Patin, Gurami, Betok dan beberapa jenis ikan lainnya sering menjadi pilihan dalam budidaya skala kecil. Pemilihannya tentu perlu mempertimbangkan kondisi air, luas lahan, biaya, ketersediaan benih, serta pengetahuan mengenai cara pemeliharaannya.
Yang menarik, teknologi budidaya ikan rumahan kini juga semakin beragam bentuknya. Orang yang tidak memiliki lahan luas tidak perlu langsung menyerah atau mewek seperti anak-anak kehilangan arah. Ada berbagai metode yang memungkinkan ikan dipelihara dalam wadah sederhana. Bahkan, lahan sempit pun masih bisa dimanfaatkan selama pengelolaannya dilakukan dengan baik, tepat dan benar,
Dengan kata lain, keterbatasan lahan bukan selalu menjadi alas an absolut untuk berhenti mencoba. Kadang-kadang yang kurang bukanlah lahan, melainkan keberanian untuk mengubah sudut halaman yang selama ini kosong menjadi sesuatu yang produktif.
Ketahanan Pangan Dimulai dari Kebiasaan
Ketahanan pangan sering kali dibicarakan dalam bahasa yang terlalu besar. Kita membicarakan produksi nasional, distribusi, impor, harga pangan, perubahan iklim, hingga kebijakan pemerintah. Semua itu penting. Tetapi ada satu bagian yang sering luput: kebiasaan keluarga sehari-hari di rumah.
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Jika banyak keluarga memiliki kebiasaan memproduksi sebagian kebutuhan pangannya sendiri, dampaknya tentu tidak berhenti di halaman rumah. Kebiasaan tersebut dapat membentuk budaya pangan yang lebih mandiri, dari keluarga ke keluarga menjadi akhirnya komunitas masyarakat
Bayangkan jika satu rumah memiliki satu kolam kecil. Kemudian rumah di sebelahnya memiliki kolam kecil juga. Rumah berikutnya memelihara ikan dalam ember. Di ujung gang, ada orang yang mengembangkan kolam terpal. Lama-kelaman, sebuah lingkungan tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang produksi pangan sederhana yang berkonstribusi dalam rantai pasok pangan.
Tidak perlu membayangkan satu kompleks perumahan berubah menjadi tambak raksasa seluas lapangan sepak bola. Cukup membayangkan bahwa setiap rumah memiliki sedikit kontribusi terhadap kebutuhan pangannya sendiri. Tidak lebih!
Prinsipnya sederhana: jangan hanya menjadi konsumen kalau masih ada kesempatan menjadi produsen yang baik dengan segala kepemilikan ruang di rumah yang dapat dimanfaatkan secara bijak.
Menjadi produsen di sini, tentu tidak berarti harus berhenti membeli ikan di pasar, ntar pasarnya sepi dong?!. Kalau sedang ingin makan ikan laut, ya tetap pergi ke pasar. Ikan di ember tidak perlu dipaksa menjalani karier sebagai ikan laut. Yang penting adalah menambah sumber pangan keluarga sesuai kemampuan saja, jika suka sama ikan lele ya pelihara lele, sesimpel itu.
Memelihara Ikan Juga Mengajarkan Kesabaran
Ada manfaat lain yang kadang tidak masuk hitungan ekonomi, yaitu pendidikan.
Memelihara ikan mengajarkan bahwa makanan membutuhkan proses. Di zaman ketika hampir semua hal dapat diperoleh dengan beberapa sentuhan layer gawai, melihat ikan tumbuh dari benih menjadi ukuran konsumsi merupakan pengalaman yang menarik bahkan terkadang unik
Anak-anak dapat belajar bahwa ikan yang tersaji di meja makan tidak muncul secara ajaib bim salabim dari kulkas. Ada proses memilih benih, menyiapkan wadah, memberi pakan, menjaga kualitas air, mengamati pertumbuhan termasuk jika ikannya sakit hingga akhirnya melakukan panen.
Kalau anak bertanya, “Ayah, ikannya kapan besar?”
Jawabannya bukan, “Sebentar, Ayah pesan lewat aplikasi.”
Di sinilah pendidikan pangan berlangsung secara alami, dan melatih hidup yang penuh dengan proses tahapan demi tahapan. Tidak ada buah itu langsung besar dan masak di pohon.
Jika kita punya anak, maka anak-anak juga bisa belajar tentang tanggung jawab. Ikan perlu diberi makan secara teratur. Air perlu diperhatikan. Kondisi ikan perlu diamati. Jika terjadi masalah, harus dicari penyebabnya dan harus segera dilakukan Tindakan yang benar, salah itu biasa apalagi sebagai pemula.
Dengan demikian, kolam kecil di halaman rumah dapat menjadi semacam laboratorium kehidupan. Bedanya, laboratoriumnya tidak memakai jas putih dan tidak perlu mengeluarkan bunyi “bip” seperti di film-film ilmiah.
Jangan Sampai Ikan Lebih Terawat daripada Pemiliknya
Meski terdengar mudah, memelihara ikan tetap membutuhkan pengetahuan. Jangan sampai semangat di hari pertama begitu luar biasa, tetapi pada hari ketujuh dan seterusnya pemiliknya sudah lupa bahwa di halaman ada makhluk hidup yang sedang menunggu sarapan dan perhatian harian.
Kesalahan dalam pengelolaan dapat menyebabkan ikan stres, pertumbuhan terganggu, bahkan menyebabkan kematian. Karena itu, budidaya ikan rumahan sebaiknya dilakukan berdasarkan pengetahuan dasar mengenai jenis ikan, kepadatan, pakan, kualitas air, dan kebersihan wadah pemeliharaan, serta sirkulasi lingkungannya.
Di sinilah pentingnya belajar sebelum memulai.
Internet menyediakan banyak informasi mengenai budidaya ikan. Kelompok pembudidaya, penyuluh, komunitas, maupun orang yang sudah berpengalaman juga dapat menjadi sumber pengetahuan. Jangan malu bertanya. Dalam urusan ikan, bertanya lebih murah daripada membeli benih untuk kedua kalinya karena ikan pertama kali gagal dipelihara.
Selain itu, jangan terlalu berambisi pada awal memulai. Jika halaman rumah hanya cukup untuk beberapa wadah, mulailah dari jumlah yang mampu dikelola. Budidaya ikan bukan perlombaan siapa yang paling banyak memiliki kolam.
Tujuannya sebenarnya adalah menciptakan sumber pangan yang dapat dikelola secara berkelanjutan dari rumah yang efesien, murah dan ramah lingkungan, ini yang perlu ditanamkan dalam mindset kita.
Dari Konsumsi Menjadi Produksi
Hal paling menarik dari memelihara ikan di rumah adalah perubahan cara pandang. Kita tidak lagi hanya melihat makanan sebagai sesuatu yang tersedia di pasar. Kita mulai memahami bahwa pangan berasal dari proses Panjang yang berjalan terus menerus.
Ikan yang terlihat sederhana di meja makan sebenarnya melibatkan banyak hal: benih, pakan, air, tenaga, pengetahuan, waktu, dan perawatan.
Kesadaran semacam ini penting karena ketahanan pangan tidak hanya membutuhkan produksi, tetapi juga masyarakat yang memahami pangan.
Ketika masyarakat memahami bagaimana pangan diproduksi, mereka akan lebih menghargai makanan. Membuang ikan atau makanan bukan lagi sekadar membuang lauk, tetapi juga membuang proses dan sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan lauk itu sendiri.
Dari kolam kecil, kita bisa belajar mengenai ekonomi, lingkungan, gizi, tanggung jawab, dan kemandirian keluarga serta personal.
Dan semuanya dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: memberi makan ikan dan mengamati perubahannya disetiap tahapan.
Kolam Kecil, Gagasan Besar
Pada akhirnya, memelihara ikan skala rumahan bukanlah solusi tunggal untuk seluruh persoalan ketahanan pangan. Kita tetap membutuhkan sistem pangan yang kuat, distribusi yang baik, produksi pertanian dan perikanan yang berkelanjutan, serta kebijakan yang mendukung Masyarakat agar tidak menyia-nyiakan pangan yang tersedia. Namun, bukan berarti keluarga harus menunggu semua persoalan tersebut selesai sebelum mulai berbuat sesuatu. Karena perjalanan jauh, dimulai dari langkah kecil yang dimulai
Ketahanan pangan nasional memang memiliki skala besar, tetapi fondasinya berada di masyarakat. Dan masyarakat itu terdiri atas keluarga-keluarga dengan berbagai latar belakang yang berbeda-beda.
Satu keluarga memelihara ikan mungkin terlihat kecil. Bahkan terlalu kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan pangan sebuah kota. Tetapi perubahan besar sering kali memang dimulai dari tindakan yang tampaknya sepele dan remeh temeh.
Satu ember ikan. Satu kolam terpal. Beberapa ekor benih. Lalu berkembang menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan, muncul keterampilan. Dari keterampilan, lahir produksi. Dan dari produksi kecil yang dilakukan banyak keluarga, terbentuk kontribusi terhadap ketahanan pangan.
Jadi, kalau halaman rumah masih kosong, mungkin sudah waktunya bertanya: apakah kita benar-benar membutuhkan halaman kosong itu, atau sebenarnya kita sedang menyia-nyiakan sebuah kesempatan?
Tidak perlu langsung membangun kolam yang membuat tetangga mengira kita membuka cabang perusahaan perikanan. Mulailah secukupnya. Pelajari caranya. Rawat dengan konsisten. Panen ketika waktunya tiba.
Sebab ketahanan pangan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang-kadang ia dimulai dari sebuah ember yang diberi air, beberapa ekor ikan, dan seseorang yang cukup sabar untuk menunggu.
Dan tentu saja, seseorang yang tidak lupa memberi makan ikan peliharaannya. (***)
*Penulis adalah Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Kotawaringin Timur
Editor : Heru Prayitno