Berita lanjutan dari Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) ini bikin kita makin mikir keras. Kemarau tahun 2026 ini ternyata ndak cuma membawa ancaman kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tapi juga melahirkan simalakama baru yang ndak kalah mengiris hati: Krisis Air Bersih.
Pemerintah Daerah lewat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim kini dihadapkan pada pilihan yang sangat berat.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Pak Multazam, blak-blakan menyebut kalau kondisi makin memburuk, pemerintah bakal dipaksa memilih: menggunakan cadangan air yang makin tipis buat memadamkan lidah api, atau membagikannya sebagai air minum buat warga.
Sebuah pilihan yang ibarat memakan buah simalakama. Kalau air dipakai buat padamkan api, warga terancam kehausan dan krisis sanitasi.
Tapi kalau air dipakai buat konsumsi warga, api di lahan gambut bakal makin merajalela dan mengepung kota dengan asap beracun.
Tanda-Tanda Krisis Mulai Menggerogoti Desa
Meskipun baru memasuki bulan Juli 2026, tanda-tanda krisis air bersih sudah mulai dirasakan langsung oleh warga:
-
Laporan dari Desa Tanah Putih: Salah satu dukuh di desa ini dikabarkan sudah mulai kesulitan mendapatkan air bersih.
-
Kelompok Paling Rentan: Warga berpenghasilan rendah, lansia, ibu hamil, ibu menyusui, penyandang disabilitas, dan anak-anak jadi kelompok yang paling menderita kalau pasokan air makin terbatas. Ndak semua orang punya dompet tebal buat terus-terusan beli air galon isi ulang.
-
Kualitas Air Isi Ulang: Pak Multazam juga mewanti-wanti agar kualitas depot air isi ulang tetap diawasi ketat dan sesuai standar kesehatan, jangan sampai di tengah krisis air malah muncul wabah penyakit baru.
Harapan pada Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR)
Melihat keterbatasan armada dan sumber daya pemerintah, BPBD Kotim mendorong adanya kolaborasi dan uluran tangan dari pihak swasta (perusahaan perkebunan/tambang) di sekitar kawasan perizinan.
Diharapkan perusahaan bisa membantu desa-desa penyangga lewat program Corporate Social Responsibility (CSR), khususnya pembuatan sumur bor dalam.
Contoh suksesnya sudah ada di Desa Bagendang Tengah, di mana fasilitas sumur bor dari program CSR pihak ketiga terbukti masih berfungsi dengan baik dan menjadi penyelamat warga dari ancaman kekeringan.
Rekor Hotspot Melampaui Tahun Lalu
Dilema air ini kian menggenting karena grafik karhutla di Kotim memang sedang berada di titik yang sangat mengkhawatirkan:
-
Hotspot Melonjak: Per 24 Juli 2026, jumlah hotspot (titik panas) sudah menembus angka 559 titik. Angka ini resmi melampaui rekor sepanjang tahun 2025 lalu yang tercatat "cuma" 453 titik.
-
Luas Lahan Terbakar: Tercatat ada 93 kejadian karhutla dengan total luas lahan hangus mencapai 192 hektare.
-
Peta Sebaran Kebakaran: Wilayah tengah Kotim menjadi yang paling parah dilalap api (110,1 hektare atau 57,38%), disusul wilayah selatan (80,3 hektare atau 41,86%), dan wilayah utara (1,4 hektare atau 0,76%).
Situasi di Kotim ini jadi pengingat keras buat kita semua. Dampak karhutla itu ndak cuma bikin mata perih gara-gara asap, tapi juga menyedot dan menghabiskan cadangan air yang seharusnya jadi penambang kehidupan warga.
Semoga hujan bisa segera turun membasahi bumi Kotim, dan semoga pihak perusahaan swasta di sana terketuk hatinya buat saling bahu-membahu menyediakan sumur bor air bersih bagi warga sekitar. (*)