Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Kotim Zona Merah Karhutla: Ketika Tanah Gambut Mulai "Batuk" dan Air Tawar Jadi Barang Mewah

Slamet Harmoko • Sabtu, 18 Juli 2026 | 09:29 WIB
KARHUTLA: Petugas saat proses pemadaman karhutla beberapa waktu lalu. (BPBD Kotim/Radar Sampit)
KARHUTLA: Petugas saat proses pemadaman karhutla beberapa waktu lalu. (BPBD Kotim/Radar Sampit)
 
Kabar dari Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) akhir pekan ini bener-bener bikin dada sesak. Kalau beberapa hari lalu kita masih bisa memilah wilayah mana yang aman dan mana yang rawan, per hari Jumat kemarin BMKG Haji Asan Sampit sudah ketok palu: ndak ada lagi sejengkal tanah pun di Kotim yang bebas dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Bayangkan saja, seluruh 17 kecamatan di Kotim sekarang kompak berubah warna jadi merah membara. Istilah kerennya masuk kategori "sangat mudah terbakar".

Kepala Stasiun BMKG Sampit, Pak Mulyono Leo Nardo, blak-blakan bilang kalau status horor ini dipicu oleh absennya guyuran hujan sejak pertengahan Juni lalu, ditambah cuaca panas menyengat yang hobinya manggang wilayah Kotim tiap hari.

Baca Juga: Berebut Kursi Panas UPR 1: Saat Putri Mantan Rektor Memimpin Klasemen Sementara Menuju Singgasana

Awalnya, titik-titik rawan ini cuma genit muncul di wilayah selatan. Tapi pelan tapi pasti, merembet naik ke utara sampai akhirnya mengepung seluruh kabupaten. Kategori "sangat mudah terbakar" ini ndak boleh disepelekan. 

Di atas tanah gambut yang kering kerontang karena berhari-hari ndak ketemu air, percikan api sekecil puntung rokok pun bisa memicu kebakaran yang merembet cepat mirip gosip tetangga.

Sialnya lagi, ramalan cuaca buat beberapa hari ke depan masih nihil hilal hujan besar. Kalaupun ada awan yang kasihan lalu menurunkan air, sifatnya cuma lokal dan cuma berupa rintik-rintik gerimis yang lewat numpang tanya. Belum cukup buat mendinginkan perut bumi Kotim.

Peringkat Kotim di Level Provinsi (Data BPBD):

Frekuensi Kejadian: Peringkat 1 (Paling sering terjadi kebakaran)

Luas Lahan Terbakar: Peringkat 2 (Di bawah Kabupaten Pulang Pisau)

Melihat data yang dipaparkan Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Pak Multazam, dahi kita pasti makin mengkerut. Sampai pertengahan Juli ini, tercatat sudah ada sekitar 145 hektare lahan yang hangus jadi abu.

Baca Juga:  Menakar Visi Prof. Bhayu Rhama, Membawa Huma Betang Terbang ke Panggung Dunia

Titik panas (hotspot) yang terdeteksi sejak awal tahun sudah tembus di angka 300, dan rekor tertingginya pecah di bulan Juli ini dengan 115 titik.

Padahal, badai kemarau ini diprediksi masih bakal setia menemani kita sampai empat atau lima bulan ke depan. Kebayang ndak, Lur, gimana gersangnya nanti?

Bencana di Kotim ini ternyata ndak datang sendirian, tapi hobi bawa rombongan. Di saat petugas pemadam kebakaran pontang-panting menjinakkan api di atas lahan, warga di tingkat tapak mulai megap-megap menghadapi hantu krisis air bersih.

Saat ini saja, sudah ada empat desa yang resmi angkat tangan dan mengajukan surat permohonan bantuan air bersih secara berkala: Desa Kuin Permai, Lempuyang, Regei Lestari, dan Jaya Karet.

Sekali kirim bantuan ndak cukup seember-dua ember, Lur. Butuh sekitar 15.000 sampai 20.000 liter air bersih, yang artinya BPBD harus menggerakkan konvoi empat sampai lima mobil tangki sekaligus.

Dan ancaman sesungguhnya justru ada di wilayah Pulau Hanaut dan Seranau. Dua wilayah ini punya kerentanan yang bikin merinding kalau kemarau panjang datang: intrusi air laut.

Karena debit air sungai menyusut drastis, air asin dari laut dengan leluasa merangsek naik ke daratan, mengontaminasi sumber air tawar milik warga.

Baca Juga: Ambisi Prof. Liswara Menyulap "Kampus Gambut" Jadi PTN-BH Kelas Dunia

Alhasil, air sumur berubah jadi payau dan ndak layak lagi buat dikonsumsi. Kalau situasi darurat ini sampai jebol, BPBD harus memutar otak memakai taktik lawas tahun 2015 dan 2019 lalu: mengirim logistik air bersih lewat jalur sungai menggunakan perahu-perahu besar yang sarat muatan tandon air.

Untuk urusan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) alias bikin hujan buatan, hilalnya masih buram. Pak Mulyono dari BMKG menjelaskan kalau prosedur pengajuan ke BNPB pusat baru bisa digolkan oleh pemerintah provinsi kalau minimal ada tiga kabupaten/kota yang kompak menetapkan status Siaga Darurat Karhutla.

Kita yang hidup semenjana cuma bisa mengetuk pintu langit, berharap angin tenggara yang bertiup kencang itu ndak makin egois mengusir awan-awan hujan.

Di sisi lain, mari kita dukung para relawan dan petugas BPBD yang mukanya gosong di lapangan demi memadamkan api. Dan bagi sampeyan yang masih hobi bakar-bakar sampah atau bersihin lahan pakai korek api di cuaca sekering ini, tolong lah diredam dulu nafsunya.

Jangan sampai ego kita malah bikin tetangga satu kabupaten kudu patungan beli tabung oksigen gara-gara kabut asap. (*)

Editor : Slamet Harmoko
Kotim zona merah karhutla kabuta sap kotim karhutla kotim sampit