Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Ambisi Prof. Liswara Menyulap "Kampus Gambut" Jadi PTN-BH Kelas Dunia

Slamet Harmoko • Jumat, 17 Juli 2026 | 17:32 WIB
Prof. Dr. Liswara Neneng, S.Pd., M.Si saat memaparkan visi dan misi serta program kerja kepada seluruh senat dan para dosen,alumni UPR dalam rangkapan pemilihan rektor Universitas Palangka Raya.(dodi/radarsampit)
Prof. Dr. Liswara Neneng, S.Pd., M.Si saat memaparkan visi dan misi serta program kerja kepada seluruh senat dan para dosen,alumni UPR dalam rangkapan pemilihan rektor Universitas Palangka Raya.(dodi/radarsampit)
 
Lengkap sudah trilogi perkenalan tiga pendekar yang bakal memperebutkan takhta UPR 1. Setelah kita melihat Mbak Thea Farina dengan pesona kedekatan emosionalnya, lalu Prof. Bhayu Rhama dengan jimat internasionalisasi berbalut Huma Betang-nya, kini tibalah giliran kita berkenalan dengan kandidat terakhir yang ndak kalah sakti mandraguna.

Mari kita ketuk pintu laboratorium milik Prof. Dr. Liswara Neneng, S.Pd., M.Si.

Bagi mahasiswanya di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), perempuan asli Kalimantan Tengah ini mungkin lebih sering terlihat akrab dengan cawan petri, bakteri, tabung reaksi, dan tanah gambut. Maklum, beliau adalah Guru Besar bidang Mikrobiologi.

Baca Juga: Berebut Kursi Panas UPR 1: Saat Putri Mantan Rektor Memimpin Klasemen Sementara Menuju Singgasana

Tapi kali ini, Prof. Liswara memutuskan keluar dari zona nyaman laboratoriumnya untuk masuk ke "laboratorium sosial" yang jauh lebih menantang: kontestasi pemilihan Rektor Universitas Palangka Raya periode 2026–2030.

Mengutip radarsampit.jawapos.com  Prof. Liswara, maju jadi calon rektor ini bukan untuk menuruti nafsu berburu jabatan atau pamer gelar di kartu nama.

Beliau membawa satu mimpi yang sangat ambisius namun tetap terukur: mengantar UPR naik kelas dari status Badan Layanan Umum (BLU) menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH).

Perjalanan akademik Prof. Liswara ini pancen tipe-tipe peneliti tulen yang merangkak dari bawah. Beliau menempuh S1 di IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang), lanjut S2 ke kampus IPB Bogor yang terkenal ketat itu, lalu balik lagi ke Malang buat merengkuh gelar Doktor konsentrasi Pendidikan Biologi.

Fokus risetnya selama puluhan tahun ndak pernah selingkuh dari identitas bumi Kalimantan Tengah, yakni ekosistem rawa gambut.

Beliau meneliti bakteri pasca-kebakaran tanah gambut di Pulang Pisau, mengulik limbah sawit untuk tanah kritis bekas tambang emas, sampai sukses mematenkan inovasi biofertilizer (pupuk hayati) organik khusus tanah gambut.

Jejak akademiknya juga mentereng sampai ke Jepang (Tokyo dan Osaka), bahkan di tahun 2026 ini beliau dipercaya menjadi reviewer jurnal internasional bereputasi kelas Q2.

Di level birokrasi kampus, beliau juga sudah kenyang makan asam garam. Pernah jadi Ketua Prodi S1 dan S2 Pendidikan Biologi, Sekretaris LP3MP, sampai Wakil Dekan Bidang Akademik FMIPA UPR.

Nah, berbekal otak peneliti yang serba terstruktur ini, Prof. Liswara ndak mau jualan program pakai bahasa ngambang. Beliau langsung menyodorkan Peta Jalan 4 Tahun yang sangat sistematis:

  • Tahun ke-1 (Fondasi): Beres-beres internal lewat digitalisasi tata kelola, pembenahan kurikulum, dan audit internal.

  • Tahun ke-2 (SDM): Ngegas melahirkan guru besar baru (biar syarat PTN-BH terpenuhi) dan membenahi fasilitas tridarma.

  • Tahun ke-3 (Ekspansi): Buka prodi baru, hilirisasi riset ke industri, dan memperbanyak publikasi internasional.

  • Tahun ke-4 (Gong Utama): Menyiapkan akreditasi unggul, membentuk regulasi PTN-BH, dan mulai komersialisasi aset kampus biar mandiri secara anggaran.

Beliau sadar betul, saat ini akreditasi unggul prodi di UPR baru sekitar 30%. Padahal untuk jadi PTN-BH, minimal harus menyentuh angka 60%.

Makanya, jalan pintasnya adalah lewat empat program unggulan: merombak kurikulum (biar mahasiswa magang kerja nyata, bukan cuma dengerin dosen ceramah), revitalisasi LPPM biar hasil riset ndak cuma jadi pajangan perpustakaan, mengoptimalkan aset kampus biar dapet pemasukan selain dari keringat UKT mahasiswa.

Selanjutnya membangun birokrasi yang bersih dengan prinsip meritokrasi (the right man on the right place, yang pinter dan jujur yang dapet jabatan, bukan karena jalur "orang dalam").

Mimpi besarnya adalah menjadikan UPR sebagai kiblat alias rujukan dunia untuk urusan sains rawa gambut tropika dan daerah aliran sungai (DAS).

Logikanya masuk akal. Kampus di Jawa atau Sumatra mana punya laboratorium alam gambut sehebat Kalteng? Ini adalah kekuatan lokal yang mau beliau sulap jadi identitas global.

Sama seperti dua kandidat sebelumnya, Prof. Liswara juga berjanji untuk tetap membuka telinga lebar-lebar mendengar suara mahasiswa dalam setiap kebijakan kampus.

Dengan profil terakhir ini, lengkap sudah hidangan menu pilihan buat Senat UPR dan Kementerian. Kita disuguhi tiga opsi yang sama-sama berkelas:

  1. Dr. Thea Farina: Menawarkan kedekatan emosional, kepemimpinan muda, kolaborasi internal, dan pembenahan tata kelola.

  2. Prof. Bhayu Rhama: Menawarkan koneksi global, integrasi industri, living laboratory, dan komitmen memutus kemiskinan lewat pendidikan.

  3. Prof. Liswara Neneng: Menawarkan keahlian sains murni, peta jalan sistematis menuju PTN-BH, dan optimalisasi riset gambut berkelas dunia.

Pertarungan gagasan ini pancen indah betul ditonton. Sekarang bolanya ada di tangan Senat UPR dan pejabat Kementerian di Jakarta.

Semoga saja, siapa pun yang nanti disematkan kalung jabatan rektor, bener-bener berjuang demi masa depan ribuan mahasiswa UPR dan kemajuan bumi Tambun Bungai.

Mari kita kawal bareng-bareng prosesnya. (*)

Catatan buat rakyat jelata (termasuk saya): PTN-BH itu adalah kasta tertinggi untuk perguruan tinggi negeri di Indonesia. Kalau sudah PTN-BH, kampus punya otonomi penuh buat mengatur rumah tangganya sendiri. Mulai dari keuangan, buka-tutup jurusan, sampai mengelola aset tanpa harus dikit-dikit lapor dan minta izin birokrasi kementerian di Jakarta. Istilahnya, kampus mandiri secara finansial dan akademik.

Editor : Slamet Harmoko
Calon Rektor UPR Prof. Dr. Liswara Neneng upr universitas palangka raya