Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

 Menakar Visi Prof. Bhayu Rhama, Membawa Huma Betang Terbang ke Panggung Dunia

Slamet Harmoko • Jumat, 17 Juli 2026 | 11:14 WIB
Prof Bhayu Rhama saat memaparkan visi dan misi serta program kerja kepada seluruh senat dan para dosen,alumni UPR dalam rangkapan pemilihan rektor Universitas Palangka Raya. (dodi/radarsampit)
Prof Bhayu Rhama saat memaparkan visi dan misi serta program kerja kepada seluruh senat dan para dosen,alumni UPR dalam rangkapan pemilihan rektor Universitas Palangka Raya. (dodi/radarsampit)

Setelah kita menguliti profil Mbak Thea Farina yang memimpin klasemen suara pemilihan calon Rektor UPR, sekarang saatnya kita geser kursi ke kandidat berikutnya. Pertarungan menuju kursi UPR 1 ini pancen makin malam makin hangat, mirip wedang ronde yang jahenya mantap betul.

Kini giliran kita bertamu ke ruang kerja Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UPR. Di sana ada Prof. Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D.

Dari pemberitaan radarsampit.jawapos.com Guru besar di bidang pariwisata ini datang membawa isi kepala yang ndak kalah mentereng. Bagi Prof. Bhayu, kampus itu sudah ndak zaman lagi cuma jadi pabrik pencetak kertas ijazah. 

Universitas kudu menjelma jadi dapur umum yang memproduksi inovasi, riset, dan solusi konkret buat memajukan Kalimantan Tengah.

Dalam kontestasi ini, beliau mengusung jimat manifesto yang kedengarannya keren dan ndak kaleng-kaleng: Borneo Impact and Global Recognition.

Sebuah mimpi yang memadukan dua kutub, tetap membumi berpijak pada falsafah Huma Betang, tapi punya nyali buat berdiri sejajar dengan kampus-kampus top di level internasional.

Secara rekam jejak, masa kecil Prof. Bhayu ini sebetulnya sangat lokal dan dihabiskan di Kota Cantik Palangka Raya. Mulai dari TK Tunas Rimba sampai SMP Katolik di sana. Tapi pas masuk SMA, petualangan merantaunya dimulai.

Beliau melipir ke Solo, lanjut kuliah S1 di Atma Jaya, lalu terbang jauh menyeberang lautan ke Inggris buat menggondol gelar Magister di University of Wolverhampton dan gelar Doktor dari University of Central Lancashire.

Nah, berbekal isi kepala yang sudah disuntik perspektif ala bule-bule Inggris sana, Prof. Bhayu ndak lupa rumah. Beliau memilih pulang kampung buat mengabdi di UPR. Karir birokrasi kampusnya melesat cepat jadi Dekan FISIP, merangkap asesor BAN-PT, sampai asesor BNSP.

Logika berpikir Prof. Bhayu ini sebetulnya cerdas memanfaatkan momentum, Lur. Beliau melihat UPR punya modal alam yang ndak dimiliki kampus lain di dunia: letaknya pas di jantung Pulau Borneo. Daerah yang selalu seksi di mata dunia karena punya hutan tropis, lahan gambut, dan isu perubahan iklim.

Makanya, beliau ndak mau UPR cuma jago kandang jadi universitas regional. UPR harus jadi pusat pengetahuan Borneo yang diperhitungkan dunia.

Tapi catat, internasionalisasi versi beliau ini bukan cuma gaya-gayaan pamer foto kerja sama luar negeri atau sibuk mengejar peringkat di ranking dunia. Bagi beliau, pengakuan global itu otomatis datang kalau kampus sukses menyelesaikan masalah lokal di sekitarnya.

Untuk mengeksekusi mimpi itu, Prof. Bhayu menawarkan Delapan Agenda Perubahan. Beberapa di antaranya cukup unik dan ramah industri. Contohnya, beliau pengin bikin living laboratory untuk sektor sawit, pertambangan, dan lahan gambut.

Biar hasil riset dosen ndak cuma berakhir jadi tumpukan kertas kusam di perpustakaan atau pajangan jurnal ilmiah, tapi bisa dipakai industri dan pemda.

Beliau juga melirik potensi carbon trading alias perdagangan karbon berbasis riset kampus. Cerdas memang, melihat isu lingkungan jadi ladang duit baru buat kemandirian dana universitas.

Di level akar rumput mahasiswa, Prof. Bhayu juga punya program yang menyentuh urusan perut dan masa depan pasca-lulus.

Beliau pengin memperkuat career center, bikin English Zone biar mahasiswa ndak gagap bahasa asing, sampai mendukung penuh program Satu Keluarga Satu Sarjana. Baginya, pendidikan itu cara paling masuk akal buat memutus rantai kemiskinan.

Inti dari visi Prof. Bhayu ini sebetulnya cuma satu kata: Impact alias dampak nyata. Kampus terbaik itu bukan cuma yang namanya terkenal di luar negeri, tapi seberapa kerasa manfaatnya buat masyarakat sekitar dan mahasiswa yang kuliah di sana.

Dari gelagatnya ini Prof. Bhayu masuk membawa jaringan internasional dan integrasi industri. Makin seru, toh? Sekarang tinggal tersisa satu profil lagi, yaitu Prof. Liswara Neneng. Kira-kira apa pula jimat yang dibawa beliau? Kita tunggu sambil memesan gorengan kloter berikutnya. (*)

Editor : Slamet Harmoko
Calon Rektor UPR Prof. Bhayu Rhama Pemilihan Rektor UPR