Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Jurus Bertahan Hidup di Tengah Gejolak Kebutuhan Dapur: Membaca Raport Harga Sembako Kotawaringin Barat

Slamet Harmoko • Selasa, 14 Juli 2026 | 12:55 WIB
Ilustrasi toko sembako.  (Akbar/Radar Sampit)
Ilustrasi toko sembako. (Akbar/Radar Sampit)
RADARSAMPIT.JAWAPOS.COM - Sekarang mari kita bahas urusan perut yang ndak kalah krusial dibanding gonjang-ganjing masalah piala dunia 2026 yang penuh kontroversi. Ini soal isi dompet emak-emak yang belakangan ini kudu diputar lebih kreatif biar dapur tetap bisa ngebul.

Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (DisperindagkopUKM) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) baru saja merilis analisa perkembangan harga barang kebutuhan pokok (bapok). Analisa yang dirilis hari Senin kemarin ini membandingkan harga sembako di minggu kedua bulan Juli 2026 dengan minggu sebelumnya.

Plt Kabid Perdagangan, Pak Muhammad Suhendra, membawa angin segar dengan kabar kalau secara umum, harga-harga sembako di Kobar sebetulnya masih relatif stabil dan pasokannya aman sentosa di pasar.

Tapi ya namanya juga pasar, Lur, yang namanya harga itu fluktuatifnya kadang mirip grafik mood pacar kalau lagi PMS. Ada yang naik tipis-tipis, ada yang turun buat menghibur dompet kita, dan ada juga yang harganya masih betah nangkring di angka tinggi sampai bikin elus dada.

Mari kita tengok dulu "tersangka utama" yang bikin uang belanjaan emak-emak agak tersendat minggu ini: Daging Ayam Ras.

Ayam potong ini tampaknya lagi hobi naik kelas. Di awal minggu harganya masih Rp44.000 per kilogram, eh pas akhir minggu sudah merangkak naik jadi Rp45.000.

Kalau dihitung rata-rata mingguan, kenaikannya tembus sampai 8,82 persen dibanding minggu pertama Juli. Kenaikan tipis juga dialami duo beras premium kesayangan warga, yaitu Beras Lembu dan Beras Lahap, yang kompak naik tipis 1,39 persen.

Ya, meski naiknya cuma sedikit, kalau belinya berkarung-karung ya lumayan juga bikin jatah jajan kopi bapak-bapak berkurang.

Untungnya, hukum alam itu adil. Di saat harga ayam dan beras lagi genit-genitnya naik, ada kabar baik dari sekte per-bumbuan dan protein nabati.

Harga bawang merah dilaporkan turun sekitar 3,85 persen, sekarang anteng di harga Rp50.000 per kilogram. Disusul kacang kedelai—bahan baku tempe-tahu andalan kaum semenjana—yang ikutan turun 3,75 persen, dari harga Rp16.000 menyusut jadi Rp15.000 per kilogram. Alhamdulilah, ukuran tahu-tempe di warteg langganan kita minggu ini tampaknya ndak bakal makin tipis mirip kartu ATM kosong.

Bagaimana dengan si pedas cabai? Nah, ini dia yang bikin heran. Sepanjang minggu kedua Juli ini, dinasti cabai di Kobar kompak menunjukkan sifat stabilnya yang luar biasa, walau harganya ya masih lumayan menguras air mata:

  • Cabai Merah Besar dan Cabai Merah Keriting: Rp70.000 per kilogram.

  • Cabai Rawit Merah: Rp70.000 per kilogram.

  • Cabai Rawit Hijau: Rp90.000 per kilogram (Gusti… pedasnya cabai rawit hijau ini memang sebanding sama harganya yang bikin dompet menjerit).

  • Bawang Putih: Rp45.000 per kilogram.

Menghadapi situasi naik turunnya harga sembako ini, Pak Suhendra berjanji kalau dinasnya bakal terus rajin memantau ke pasar dan rajin-rajin berkoordinasi sama para distributor. Tujuannya mulia, biar ndak ada oknum nakal yang hobi menimbun barang demi keuntungan pribadi di tengah fluktuasi harga ini.

Bagi kita rakyat biasa, kuncinya cuma satu: pintar-pintar membagi skala prioritas belanjanya. Kalau harga daging ayam lagi sensi alias naik, ya porsi makannya dikurangi sedikit, diganti sama tahu tempe yang harganya lagi bersahabat.

Yang penting gizinya tetap terpenuhi dan dapur tetap berasap, tanpa perlu ada drama utang di warung tetangga. (*)

Editor : Slamet Harmoko
Kebutuhan Dapur harga sembako kotawaringin barat bertahan hidup sembako