RADARSAMPIT.JAWAPOS.COM - Hari Minggu (12/7/2026), Pak Kapolda Kalteng, Irjen Pol Iwan Kurniawan, bareng Pak Gubernur Agustiar Sabran dan Wakil Gubernur Edy Pratowo, kompakan naik ke langit. Rutenya ndak main-main: muterin Palangka Raya, Pulang Pisau, sampai Kapuas.
Tujuannya mulia, Lur. Bukan mau pamer feed Instagram berlatar awan, tapi memantau musuh bebuyutan masyarakat Kalimantan kalau musim kemarau tiba: Karhutla alias Kebakaran Hutan dan Lahan. Mereka mantau berdasarkan data dari aplikasi Sipongi. Sebuah aplikasi yang gunanya mendeteksi titik panas, bukan mendeteksi mantan yang lagi panas melihat sampeyan gandengan sama orang baru.
Baca Juga: Kalteng Sedang Tidak Baik-Baik Saja: Urusan Duit Rakyat Dikorupsi, Anak Mudanya Terancam Narkoba
Nah, pas helikopternya lagi anteng terbang di atas kawasan Tumbang Nusa—daerah perbatasan Palangka Raya sama Pulang Pisau—pandangan mata rombongan ini mendadak terhenti. Di bawah sana, ada lahan gambut seluas 16 sampai 19 hektare yang lagi membara.
Bayangkan, 19 hektare! Itu kalau dijadikan lapangan sepak bola, mungkin bisa buat turnamen antar-kecamatan sekalian parkiran motornya.
Tragisnya, yang terbakar ini lahan gambut. Sifat lahan gambut itu persis kayak omongan tetangga yang hobi ghibah: di permukaan kelihatan adem atau cuma asap kecil, tapi di dalam tanah, apinya berkobar-kobar dan merembet ndak karuan. Susah mati!
Baca Juga: Sensus Ekonomi Kok Dikira Razia Pajak, Tolonglah Jangan Gampang Kagetan
Melihat pemandangan yang bikin elus dada itu, Pak Kapolda ndak pakai nunggu rombongan turun buat bikin kopi dulu. Dari atas langit, instruksi langsung meluncur deras.
Semua satgas penanganan Karhutla, mulai dari level provinsi sampai kabupaten, langsung digerojok perintah: “Woy, gerak cepat, padamkan!” (Ya kira-kira begitu lah bahasanya kalau diterjemahkan ke versi warung kopi).
Segala personel dan peralatan pemadam langsung dikerahkan ke lokasi kejadian. Langkah taktis ini diambil biar apinya ndak makin ngelunjak dan meluas ke mana-mana.
Pak Iwan Kurniawan juga berpesan (yang menurut saya ini penting banget) soal sinergi. Kata beliau, Pemerintah Daerah, TNI, Polri, BPBD, sampai Manggala Agni itu harus kompak, kudu manunggal.
Ndak boleh ada yang jalan sendiri-sendiri egois kayak konsep pacaran anak zaman sekarang. Kalau satgasnya padu, penanganan karhutla bisa cepat dan efektif.
Patroli udara begini memang jadi senjata andalan pas kemarau. Biar titik api sekecil apa pun bisa langsung ketahuan sebelum menjelma jadi naga api yang raksasa.
Ujung-ujungnya, kalau api bisa diredam, kita semua juga yang enak. Ndak perlu ada drama kabut asap yang bikin mata perih, jemuran bau sangit, dan napas megap-megap mirip ikan kekurangan air. Lingkungan lestari, masyarakat pun bisa tidur nyenyak tanpa perlu batuk-batuk.
Satu hal yang menggelitik dari naskah sampeyan, di akhir ada catatan kalau Kapolda juga memerintahkan buat menyelidiki penyebab kebakaran di Pulang Pisau.
Nah, ini dia. Semoga saja penyelidikannya lancar. Biar ketahuan, ini lahan terbakar murni gara-gara alam yang lagi sensi karena cuaca panas, atau kelakuan oknum warga tak bertanggung jawab yang pengin buka lahan dengan modal korek api seribuan demi menghemat biaya.
Kalau beneran ada oknumnya, ya mohon maaf, rasanya pengin saya sentil ginjalnya pakai pemadam kebakaran sekalian. Bagaimanapun, urusan napas orang banyak kok ya dibuat main-main. (*)
Editor : Slamet Harmoko