Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Pena yang Menembus Barikade: Menenun Kemerdekaan Timor Leste dari Sebuah Restoran di Paris

Admin • Sabtu, 6 Juni 2026 | 12:09 WIB
José Ramos Horta, Presiden Republik Demokratik Timor Leste dan Kusni Sulang, kontributor Harian Radar Sampit, dua sahabat lama berjumpa kembali setelah puluhan tahun tidak bertemu. Pada Senin (18/5/2026), mereka bertemu pada Acara Prezidente Horta Show yang diselenggarakan menjelang hari kemerdekaan Timor-Leste lalu pada Selasa (19/5/2026), Kusni Sulang dianugrahi Tanda Kehormatan Ordem Timor-Leste Cola (The Order of Timor-Leste) bertempat di Salaun China. Foto: Bagian Pers Presidensial Timor-Leste/2026
José Ramos Horta, Presiden Republik Demokratik Timor Leste dan Kusni Sulang, kontributor Harian Radar Sampit, dua sahabat lama berjumpa kembali setelah puluhan tahun tidak bertemu. Pada Senin (18/5/2026), mereka bertemu pada Acara Prezidente Horta Show yang diselenggarakan menjelang hari kemerdekaan Timor-Leste lalu pada Selasa (19/5/2026), Kusni Sulang dianugrahi Tanda Kehormatan Ordem Timor-Leste Cola (The Order of Timor-Leste) bertempat di Salaun China. Foto: Bagian Pers Presidensial Timor-Leste/2026

 Oleh: Dr. Setia  Budhi* | Editor: Andriani SJ Kusni

PALANGKARAYA – Paris di era 1980-an, jika Anda berjalan menyusuri sudut sibuk Kota Paris dan melangkah masuk ke Restoran Indonesia, Anda akan disambut oleh aroma tajam rendang dan kepulan asap rokok. Namun, bagi para pergerakan politik, aktivis, dan pencari suaka global, tempat yang dikelola sebagai koperasi oleh para eksil politik Indonesia pasca-1965 ini bukan sekadar rumah makan. Ia adalah sebuah kedutaan besar tanpa rupa untuk nurani yang terlantar.

Di balik salah satu meja di restoran tersebut, seorang lelaki asal pedalaman Borneo bernama JJ Kusni—atau Kusni Sulang—duduk di depan mesin tiknya. Sementara rezim militer Orde Baru di Jakarta berusaha keras menghapus namanya dari sejarah, Kusni justru sedang merakit sesuatu yang melampaui batas-batas geopolitik: sebuah perang kata-kata melawan penindasan di sebuah pulau kecil berjarak ribuan mil dari Paris, bernama Timor Timur.

Ketika bumi Lorosae berdarah akibat pendudukan militer dan dunia internasional memilih untuk memalingkan wajah demi stabilitas kawasan, Kusni menolak untuk bungkam. Baginya, menjadi orang Indonesia tidak berarti harus mengamini ketidakadilan sebab narasi pembukaan undang-undang dasar menyatakan kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dari pengasingannya yang sunyi, ia mulai menulis puisi-puisi yang mengobarkan semangat perlawanan rakyat Timor Leste.

Sastra, di tangan Kusni, dimurnikan kembali fungsinya menjadi senjata tak terlihat. Puisi-puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dan disebarkan di forum-forum Eropa, menembus barikade sensor ketat Jakarta, dan memberikan narasi tandingan yang mentah serta jujur tentang kemanusiaan yang koyak di Timor Leste.

Gerakan literasi bawah tanah inilah yang mempertemukan Kusni dengan José Ramos-Horta, diplomat muda Timor Leste yang kala itu berpindah dari satu ibu kota barat ke ibu kota lainnya untuk mencari keadilan. Di Paris, di sela-sela meja makan Restoran Indonesia, sebuah persahabatan historis lahir.

Hubungan antara Kusni dan Ramos-Horta adalah anomali yang indah pada masanya: seorang eksil Indonesia dan seorang pejuang kemerdekaan Timor Leste, bersatu atas nama martabat manusia, membuktikan bahwa musuh bersama mereka bukanlah sebuah bangsa, melainkan sebuah tirani.

"Negara yang besar tidak pernah melupakan mereka yang berjalan bersama mereka di masa-masa gelap". Waktu, bagaimanapun, selalu memiliki cara yang puitis untuk menyelesaikan utangnya pada sejarah. Puluhan tahun setelah bait-bait puisi itu diketik di Paris, sepucuk surat dengan stempel resmi kepresidenan dikirim dari Dili. Presiden José Ramos-Horta mengirimkan undangan kehormatan kepada Kusni Sulang untuk menghadiri Perayaan Hari Restorasi Kemerdekaan Timor Leste pada tanggal 20 Mei.

Undangan tersebut bukan sekadar seremoni diplomatik biasa. Ini adalah sebuah maklumat moral dari sebuah bangsa merdeka untuk menjemput pulang salah satu pahlawan sunyinya. Kehadiran Kusni di Dili pada Hari Kemerdekaan menunjukkan kepada dunia tentang bagaimana sebuah negara kecil menghargai utang budi sejarahnya. Di bawah kibaran bendera Timor Leste yang berdaulat, kedua sahabat lama itu berpelukan—sebuah pelukan yang mengakhiri perjalanan panjang dari sebuah meja restoran di Paris menuju panggung kemerdekaan sebuah bangsa.

Kisah Kusni Sulang adalah pengingat penting bagi dunia hari ini, di mana konflik geopolitik sering kali mereduksi manusia menjadi sekadar angka statistik. Kisahnya menegaskan bahwa sebuah pena yang digerakkan oleh ketulusan dan solidaritas kemanusiaan sejati, pada akhirnya, akan selalu lebih abadi daripada moncong senapan rezim mana pun. (***)

 26 Mei 2026

*Dr. Setia Budhi, Antropolog Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin

 

Editor : Heru Prayitno
#Prezidente Horta Show #Ramos Horta #Kusni Sulang