Oleh: Marissa Ainani Salsabela, Jurusan Ilmu Pemerintahan
Pernahkah anda membayangkan bahwa adanya konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dapat membuat harga kantong plastik yang ada di pasaran melonjak tinggi?
Inilah fakta yang saat ini terjadi dan menjadi perbincangan publik. Harga plastik yang semula dianggap remeh kini kenaikannya bukan sekadar masalah domestik biasa, melainkan dampak langsung akibat terjadinya perang yang melibatkan negara-negara penghasil minyak.
Fenomena yang terjadi saat ini merupakan salah satu contoh kasus Intermestik, yaitu suatu peristiwa global yang langsung memberikan pengaruh dalam kehidupan sehari-hari masyarakat domestik tanpa negara tersebut terlibat dalam lingkup peperangan.
Secara Teknis, plastik merupakan produk yang terbuat dari minyak bumi dan gas alam. Prosesnya dimulai dari penyulingan minyak mentah menjadi bahan yang disebut naphtha, lalu diolah menjadi butiran polimer untuk dicetak menjadi berbagai produk kemasan UMKM.
Oleh karena itu, ketika terjadi konflik di kawasan penghasil minyak, rantai pasok akan terganggu dan memicu kenaikan biaya produksi plastik secara global.
Hubungan antara Selat Hormuz dan harga plastik ini merupakan salah satu contoh nyata fenomena global yang berdampak langsung pada kita.
Selat Hormuz adalah jalur laut paling vital di dunia karena menjadi pintu keluar tanker minyak dari Timur Tengah. Ketika terjadi konflik di wilayah tersebut, pasokan minyak terhambat dan mengakibatkan harga melonjak drastis.
Akibatnya barang berbahan plastik menjadi jauh lebih mahal karena biaya produksi yang meningkat mengikuti harga minyak dunia.
Kenaikan harga ini menciptakan dilema berat bagi pelaku UMKM. Melansir data dari Kompas.com per 6 April 2026, lonjakan harga plastik sudah menyentuh angka 50 persen.
Masyarakat yang terbiasa membeli plastik dengan harga Rp 10.000 kini harus merogoh kocek lebih dalam hingga Rp15.000 per pak.
Situasi ini jelas menekan keuntungan para pedagang kecil yang terjepit di antara membengkaknya biaya operasional dan risiko kehilangan pembeli jika harga di naikan. Kasus ini mengajarkan kita bahwa di zaman globalisasi, masalah di luar negeri bisa langsung terasa dampaknya.
Karena Indonesia masih bergantung impor bahan baku plastik, ekonomi kita menjadi rentan saat ada konflik di negara lain.
Namun, jika dilihat dari sudut pandang berbeda, langkah ini dapat membawa sisi positif bagi lingkungan.
Harga yang melonjak tinggi secara alami mendorong masyarakat untuk berpikir dua kali sebelum menggunakan plastik sekali pakai dan mulai beralih ke tas belanja yang ramah lingkungan.
Perubahan perilaku ini secara otomatis akan menurunkan volume konsumsi plastik nasional, mengurangi sampah di TPA, serta meminimalisir polusi di ekosistem laut kita. (*)
Editor : Slamet Harmoko