Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Tren Digital vs Media Massa

Sabrianoor • Sabtu, 26 April 2025 | 08:25 WIB
Sabrianoor
Sabrianoor

Video seorang guru di Palangka Raya diduga berbuat asusila yang baru diunggah, tiba-tiba langsung jadi buah bibir di dunia maya dan nyata.

Kemudian, seorang konten kreator, dalam satu hari berubah jadi kontroversi gegara produk kreatifnya dinilai negatif.

Sementara itu, di pihak lain penuh kecemasan lantaran dirinya diintimidasi seseorang terkait video syurnya yang akan beredar viral.

Ada pula yang menangis marah karena baru saja tertipu jutaan rupiah lantaran jadi korban marketplace fiktif di Facebook.

Tak hanya sampai di situ, seorang istri tega membakar suaminya gegara judi daring hingga seseorang yang terpaksa bunuh diri akibat dikejar pinjaman online maupun frustasi yang semuanya berakar dari transformasi digital.

Rentetan kasus di atas merupakan dinamisasi kompleksitas manusia di era digital yang tidak ditemukan sebelumnya.

Kita ketahui, pandemi Covid 2019 memang telah lima tahun berlalu. Namun, efeknya cukup mampu mengubah pola hidup masyarakat dunia.

Kontak fisik yang terbatas di masa itu, telah memalingkan sebagian besar orang untuk lebih banyak mengoptimalisasi dan berinteraksi dengan teknologi digital.

Baik dari penggunaan elektronik wallet atau nontunai, komunikasi tak langsung via video call hingga kejahatan digital seperti judi online, spamming, buzzer black campaign dan pornografi.

Penggunaan media sosial tentunya juga sangat pesat, di mana informasi begitu mudah disebarkan dan dikonsumsi.

Informasi menjadi sangat mudah dan semuanya berubah begitu drastis.

Peran media informasi online apalagi cetak pun dipertanyakan eksistensinya.

Jika ada yang lebih cepat, mudah, dan praktis, mengapa harus tetap yang klasik?

Ada satu hal yang mungkin tidak tertanam di benak banyak orang terkait peran media melawan tren digital yaitu adalah kualitas.

Media seperti Kompas, Jawa Pos, Tempo hingga Radar Sampit mungkin tidak akan mampu mengimbangi Facebook, Instagram hingga Tiktok dalam hal kecepatan atau kuantitas.

Akan tetapi, dari segi kevalidan informasi, di sinilah titik vital media.

Manusia yang berliterasi digital tentunya memiliki sistem pikiran seperti sebuah komputer, di mana ada input (informasi masuk), lalu processing (pengolahan, penyaringan, hingga analisa), dan output (sikap). Tidak seperti menelan mentah-mentah informasi.

Perbedaan orang awam, ia akan menerima dan langsung memakan informasi, sehingga salah persepsi. Bahkan, kedunguannya bisa menyebar ke mereka yang awam lagi. Bahaya, bukan?

Media yang punya kredibilitas, tentu saja memiliki seperangkat sumber daya yang tidak main- main dalam meluncurkan informasi.

Ada investigasi, analisa, saring sebelum sharing hingga intuisi mengontrol arah pikiran orang banyak.

Informasi yang dihasilkan pun bukan sembarangan, karena berkaitan dengan kredibilitas.

Tentunya semuanya menjadi produk jurnalistik yang siap konsumsi, jernih dan bisa dipercaya.

Selain sebagai peluncur informasi berkualitas, hal yang tidak bisa dilakukan Facebook, Instagram, dan lainnya, namun ada pada media adalah pengontrol dan pengedukasi.

Ada sentuhan moral di sini, di mana peran media dapat mengarahkan ke masyarakat pada sikap yang seharusnya dan mengedukasi terkait hal-hal yang seharusnya diketahui masyarakat, baik dari segi efek hingga proses sebenarnya.

Radar Sampit yang merupakan media cetak dan online yang telah berdiri 19 tahun dan berafiliasi dengan media besar nasional Jawa Pos, tentunya memiliki tanggung jawab dalam menjaga kepercayaan masyarakat dalam kredibilitas dan kualitas informasi.

Jadi, jangan abaikan media yang satu ini sebagai referensi dalam mencari informasi valid. Mari berliterasi dan tumbuh bijaksana bersama-sama! )* Wartawan Radar Sampit

Editor : Slamet Harmoko
#tren digital #media massa #viral #media sosial