Ramai Dibahas, Teori Konspirasi Argentina ‘Dipaksa’ Mengalah di Final Piala Dunia 2026 

Agus Jaka Purnama • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 21:01 WIB
Kapten timnas Argentina, Leonel Messi usai kekalahan di final Piala Dunia 2026, saat melawan Spanyol, Senin (20/7) WIB.(net)
Kapten timnas Argentina, Leonel Messi usai kekalahan di final Piala Dunia 2026, saat melawan Spanyol, Senin (20/7) WIB.(net)

radarsampit.jawapos.com-Kekalahan Timnas Argentina dari Spanyol di final Piala Dunia 2026 masih menjadi perbincangan hangat. Bahkan baru-baru ini muncul teori konspirasi yang menyebut La Albiceleste - julukan Timnas Argentina - ‘dipaksa’ kalah dalam laga final melawan Spanyol tersebut.

Argentina menelan kekalahan pahit dari Spanyol dengan skor tipis 0-1 dalam partai final Piala Dunia 2026. Permainan La Albiceleste dalam laga tersebut menjadi sorotan besar, karena tidak mencatat satu pun tembakan yang mengarah ke gawang selama 120 menit pertandingan berlangsung.

Setelah performa buruk tersebut menjadi sorotan, muncul pula teori konspirasi yang menyebut Argentina jadi tumbal mafia di media sosial seperti X, instagram, TikTok, hingga Youtube. Jagat dunia maya dipenuhi unggahan yang menyebut Argentina sengaja ‘dikorbankan’ oleh kekuatan besar yang melibatkan FIFA, UEFA, hingga mafia.

Salah satu penyebab Argentina menjadi tumbal berkaitan dengan aksi sejumlah pemain yang mengibarkan spanduk bertuliskan ‘Las Malvinas son Argentina’ usai mengalahkan Inggris di semifinal. Spanduk tersebut mengacu peperangan yang melibatkan kedua negara tersebut dalam perebutan Pulau Malvinas pada 1982 silam.

Baca Juga: FIFA Rilis Peringkat Klasemen Akhir Peserta Piala Dunia 2026

Akibat pengibaran spanduk tersebut, muncul narasi bahwa ada pemain Argentina yang mendapat ancaman dari pihak yang tidak senang. Bahkan, disebutkan ada ancaman pembunuhan ke keluarga pemain dari mafia.

Akan tetapi, narasi tersebut dipastikan tidak benar. Dua organisasi pemeriksa fakta, Chequedo Argentina dan Maldita.es dari Spanyol menegaskan bahwa klaim-klaim yang beredar tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu, teori konspirasi lainnya muncul dari potongan video Lionel Messi yang berbicara kepada rekan-rekannya sebelum pertandingan dimulai. Dalam video tersebut, Messi menyampaikan kalimat “Mari kita lupakan semuanya’ yang justru ditafsirkan warganet sebagai tanda bahwa ada masalah dalam ruang ganti Argentina.

Dalam video tersebut juga terlihat wajah Enzo Fernandez seperti habis menangis, sebelum akhirnya diganjar kartu merah dalam pertandingan melawan Spanyol. Narasi konspirasi tersebut lagi-lagi tidak benar adanya.

Maksud dari video Messi yang beredar luas tersebut adalah ia meminta kepada para pemain Argentina melupakan berbagai tekanan dan fokus menghadapi Spanyol di laga final. Enzo Fernandez sendiri juga dipastikan tidak menangis sebelum pertandingan.

Viralnya teori konspirasi tersebut membuat tim kepelatihan ikut angkat bicara. Asisten pelatih Argentina, Roberto Ayala, mengaku tidak habis pikir dengan narasi liar seperti itu. Dia mengatakan bahwa kekalahan La Albiceleste dalam laga tersebut karena Spanyol bermain sangat baik.

"Kami tidak memahami semua itu karena tidak ada hal seperti itu yang terjadi. Ada tim yang bermain lebih baik daripada kami, tidak lebih dari itu. Yang seharusnya dibahas adalah sepak bolanya,” ujar Ayala, dilansir dari Mundo Albiceleste.

Sebelumnya, Lionel Scaloni selaku pelatih juga telah memberikan bantahan. Sama seperti Ayala, Scaloni menyebut Spanyol bermain lebih baik dibandingkan Argentina.

"Saya tidak melihat media sosial, saya tidak tahu apa-apa. Kami kalah karena mereka (Spanyol) bermain lebih baik, bagus untuk mengakui itu,” ujar Scaloni.

Sebelum konspirasi ini bermunculan, Argentina justru disebut ‘anak emas’ FIFA. Pasalnya, skuad La Albiceleste kerap diuntungkan oleh beberapa keputusan wasit selama kampanye di Piala Dunia 2026.(an/ed/jpc)

Editor : Agus Jaka Purnama
timnas argentina La Albiceleste mafia spanyol konspirasi