Juara 3 Piala Dunia 2026, Timnas Inggris Diminta Tetap Bangga. Capaian Terbaik setelah Penantian 60 Tahun

Agus Jaka Purnama • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 21:20 WIB
Para pemain timnas Inggris, setelah meraih peringkat ketiga di Piala Dunia 2026, Minggu (19/7/2026) dini hari WIB. (net)
Para pemain timnas Inggris, setelah meraih peringkat ketiga di Piala Dunia 2026, Minggu (19/7/2026) dini hari WIB. (net)
radarsampit.jawapos.com-Timnas Inggris menang atas Prancis dengan skor 6-4 dalam pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026. Laga tersebut berlangsung di Stadion Miami, Florida, Amerika Serikat, Minggu (19/7/2026) pukul 04.00 WIB.

Prancis sejatinya nyaris comeback dalam pertandingan tersebut karena sempat memperkecil jarak menjadi 4-5. Namun, semua itu buyar setelah Jude Bellingham cetak gol fantastis di menit-menit akhir, sekaLigus membawa Inggris menang.

Dengan demikian, Inggris keluar sebagai peringkat ketiga di Piala Dunia 2026. Sementara Prancis yang berstatus finalis, tinggal mengharapkan sepatu emas yang berpeluang besar diraih sang kapten, Kylian Mbappe yang menempati posisi teratas top skor.

Bagi timnas Inggris, sang pelatih Thomas Tuchel meminta anak asuhnya tetap bangga dengan pencapaian di Piala Dunia 2026 kali ini, meski gagal melaju ke final. Tuchel menyebut keberhasilan finis di peringkat ketiga dapat menjadi fondasi kuat untuk meraih kesuksesan di turnamen berikutnya.

Baca Juga: Prediksi Prancis vs Inggris di Perebutan Juara ke 3 Piala Dunia 2026

Kemenangan itu menjadi pencapaian terbaik Inggris di Piala Dunia sejak 1966, sekaligus catatan terbaik mereka di turnamen yang digelar di luar negeri. Usai pertandingan, Thomas Tuchel mengungkapkan bahwa persepsi masyarakat bisa sangat fluktuatif dan tidak selalu mencerminkan realitas performa tim.

“Sejujurnya, konferensi pers kemarin terasa seolah-olah kami tersingkir di fase grup tanpa satu pun kemenangan. Namun, 24 jam kemudian, kami meraih kesuksesan terbesar dalam 60 tahun. Jadi, kami berusaha untuk tidak terlalu terpuruk saat berada di titik terendah dan tidak terlalu larut dalam euforia saat berada di puncak,” ujar Tuchel dikutip dari ESPN.

Menurut dia, respons tim di lapangan menjadi kunci kebangkitan Inggris. “Hal terbaik yang dapat Anda lakukan adalah bereaksi di lapangan dan meraih kemenangan berikutnya. Segala hal lainnya hanyalah sekadar bicara dan bicara tidak menghasilkan poin. Anda harus menghadapinya, tetap kuat, dan terus percaya,” kata dia.

Tuchel mengakui kegagalan mencapai final tetap menyisakan rasa sakit. Namun, Tuchel berharap para pemain tetap bangga dengan pencapaian itu seiring waktu. “Ini merupakan medali pertama dalam 60 tahun dan pencapaian terbaik di Piala Dunia yang digelar di luar negeri, jadi saya berharap para pemain nantinya bisa merasa bangga akan hal itu,” ujar dia.

“Kami sangat ambisius dengan impian untuk melaju ke final dan menjuarai Piala Dunia, jadi rasanya sangat menyakitkan saat gagal mencapainya. Rasa sakitnya mungkin akan berlalu, tetapi bekas lukanya akan tetap membekas. Begitulah kenyataan dalam dunia olahraga tingkat tinggi,” lanjut Tuchel.

Pelatih asal Jerman itu juga meyakini hasil kali ini dapat menjadi dorongan bagi Timnas Inggris, terlebih Tuchel masih akan menangani tim hingga 2028. Tuchel menilai kemenangan atas Prancis membantu mempersempit jarak dengan tim-tim elite dunia.

“Kemarin saya sampaikan di sini bahwa kami ingin menutup kesenjangan ini. Kami merasa masih ada jarak yang perlu dipangkas, jarak dengan tiga tim teratas yang berada di atas kami dalam peringkat dunia dan upaya itu dimulai hari ini,” kata Tuchel.

Pelatih berusia 52 tahun itu turut memuji peran Jordan Henderson yang memberikan pidato emosional sebelum laga. “Jordan Henderson menyampaikan pidato yang sangat mengesankan hari ini di hotel untuk menempatkan situasi ini dalam konteks yang tepat dan membangun pola pikir yang tepat bagi semua orang. Perannya hari ini sungguh luar biasa. Pidato itu sangat emosional dan benar-benar mengesankan,” puji Tuchel.

Meskipun demikian, Tuchel menegaskan masih ada banyak aspek yang harus diperbaiki, terutama dalam menghadapi tekanan. “kami perlu mengambil keputusan yang lebih baik saat berada di bawah tekanan. kami perlu bertahan dengan lebih efisien dan lebih disiplin,” tegas dia.

“Jika Anda ingat babak pertama saat melawan Kroasia (di laga pembuka grup), misalnya, ketika kami unggul 2-1, kami menerapkan blok pertahanan yang sangat, sangat dalam, hampir seperti formasi enam atau tujuh bek. Lalu kami kebobolan lewat tembakan terakhir. Persis di momen-momen seperti itulah kami harus tampil lebih baik dan memahami caranya,” tambah Tuchel.

Setelah turnamen berakhir, Tuchel memastikan para pemain akan mendapatkan waktu istirahat sebelum kembali bersiap menghadapi musim baru dan kompetisi berikutnya, termasuk UEFA Nations League. “Saat ini, penting bagi para pemain untuk mengambil waktu libur. Musim kompetisi akan segera dimulai dan Nations League akan segera tiba sebagai kompetisi penting berikutnya bagi kami,” tutup Tuchel.(apr/la/jpc)

Editor : Agus Jaka Purnama
Juara ketiga Jude Bellingham Thomas Thuchel timnas inggris piala dunia