Timnas Jepang harus tersingkir dalam pertandingan babak 32 besar Piala adunia 2026, saat dikalahkan Timnas Brasil dengan skor 1-2, Selasa (30/6/2026) dini hari WIB.
Kekalahan dramatis ini sangat mengecewakan bagi tim asuhan Hajime Moriyasu itu, karena mereka lebih dulu membuka skor di babak pertama melalui Kaishu Sano. Namun, di babak kedua, gol Casemiro dan Gabriel Martinelli berhasil membalikan keadaan bagi Timnas Brasil.
Disayangkan lagi bagi Jepang, mereka kebobolan gol kedua pada menit ke-5 waktu tambahan.
Kekalahan semalam juga memperpanjang rekor buruk Jepang di fase gugur Piala Dunia, sejak penampilan pertama mereka pada tahun 1998. Sejak itu tim berjuluk Samurai Biru itu belum pernah memenangkan satu pun pertandingan pada sistem gugur di Piala Dunia.
Kekalahan Berharga Bagi Jepang
Pelatih Timnas Jepang, Hajime Moriyasu, tetap melihat sisi positif hasil tersebut.
Menurutnya, laga tersebut menunjukkan Jepang kini semakin mampu bersaing dengan negara-negara elite sepak bola dunia.
"Jarak antara kami dengan mereka kini semakin dekat. Tentu saja Brasil adalah tim papan atas dunia dan kami sedang mendekati level itu," ungkap Moriyasu dikutip dari Reuters.
Namun diakuinya hasil tersebut sangat menyakitkan bagi timnya. Meski begitu, ia menegaskan Jepang masih harus terus berkembang apabila ingin benar-benar mampu bersaing di level tertinggi.
"Karena hasil pertandingan ini kami sangat terpukul. Memang masih ada perbedaan level dan kami harus terus meningkatkan kemampuan. Bisa bersaing di level tertinggi adalah tujuan kami semua," ujarnya.
Meski akhirnya gagal mempertahankan keunggulan, penampilan tersebut memperlihatkan Jepang mampu memberikan perlawanan sengit kepada salah satu tim terbaik di dunia.
Moriyasu pun melihat pengalaman yang didapat para pemain kali ini sebagai modal penting untuk masa depan. Menurutnya, banyak pemain pelapis yang mendapat kesempatan tampil menggantikan rekan-rekan mereka yang cedera.
Baca Juga: Prediksi Prancis vs Swedia di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026. Rekor Pertemuan Tak Jadi Tolak Ukur
"Ini adalah salah satu kekuatan tim Jepang. Semakin banyak pemain yang mendapatkan pengalaman seperti ini akan berkontribusi terhadap perkembangan sepak bola Jepang," pungkas Moriyasu.
Sementara bagi Brasil, kemenangan Ini adalah pertama kalinya sejak 1938 di babak sistem gugur Piala Dunia, setelah tertinggal gol di babak pertama. Sejak Piala Dunia 1994, Selecao belum pernah kalah di babak gugur pertama. Brasil, yang sudah memastikan tempat mereka, akan menghadapi pemenang pertandingan antara Pantai Gading dan Norwegia di babak 16 besar.
Faktor Kecerdikan Taktik Ancelotti
Salah satu kunci kemenangan Brasil, yakni kemampuan beradaptasi sang pelatih Carlo Ancelotti.
Ketika sebuah tim tertinggal di babak pertama, setiap pelatih akan mencoba melakukan penyesuaian untuk mengubah keadaan di babak kedua, untuk mencoba menyamakan kedudukan.
Ancelotti pun demikian. Di awal pertandingan, para pemain Brasil lebih banyak menguasai bola dan mendominasi permainan melawan Jepang. Namun, permainan umpan pendek Brasil yang dikombinasikan dengan keterampilan individu tidak mampu menembus pertahanan Jepang, dengan formasi 5-4-1.
Pertahanan Jepang yang rapat beroperasi sangat fleksibel dan efektif. Hampir selalu ada dua pemain Jepang yang mengelilingi pemain lawan yang menguasai bola.
Secara statistik, pada babak ini, Brasil menguasai bola 56%, Jepang 36%, dan sisanya 8% dihabiskan untuk perebutan bola.
Jika diamati, 8% itu sebagai waktu yang dihabiskan untuk perebutan, kehilangan penguasaan bola, dan kemudian merebut kembali bola antara kedua tim. Waktu bagi kedua tim untuk bertransisi antara fase menyerang dan bertahan.
Selama 8% itulah para pemain Jepang melakukan transisi yang sangat cepat, dan hasilnya Sano Kaishu melakukan dribel dan tembakan apik sehingga menjadi gol pembuka.
Brasil langsung merespon, setelah kebobolan gol, pemain Selecao menekan ke depan, tetapi penguasaan bola mereka selama 56% sisanya tidak menciptakan banyak peluang berbahaya yang dapat menghasilkan gol.
Masuk babak kedua, kedua pelatih mencoba menyesuaikan taktik tim mereka. Meskipun Pelatih Hajime Moriyasu tampaknya tidak melakukan penyesuaian yang signifikan, karena para pemain Jepang bermain bagus di babak pertama.
Namun di sini, perubahan yang paling mencolok terjadi pada Brasil, Ancelotti mengganti seorang gelandang dengan seorang penyerang, Lucas Paqueta dengan Endrick.
Selain itu, perubahan terpenting dan menentukan skenario gol balasan Brasil adalah pergeseran pendekatan mereka ke area gawang Jepang. Pemain menggunakan umpan panjang dari sayap ke area penalti. Mereka secara khusus memanfaatkan lintasan bola menuju garis gawang, dekat tiang jauh. Ancelotti mengamati, area itu sering kali dibiarkan tanpa penjagaan oleh para pemain bertahan Jepang, lantaran mereka sibuk mempertahankan kotak penalti 5,5 meter di depan gawang mereka.
Sebelum sundulan gelandang Casemiro, dari posisi dekat tiang kanan jauh setelah menerima umpan dari sayap kiri, pemain Brasil melepas umpan serupa dari sayap kanan, dan striker Brasil itu juga menerima bola di dekat tiang jauh, dekat garis akhir, dan menyundulnya ke luar, menciptakan situasi kemelut dengan dua tembakan jarak dekat yang tampaknya akan menghasilkan gol.
Setelah banyak percobaan seperti itu, Casemiro akhirnya mencetak gol dari posisi itu.
Kecerdikan transisi brilian Don Carlo lainnya, dengan keunggulan fisik pemainnya, terutama di babak kedua ketika para pemain Jepang kelelahan, Brasil menunjukkan penguasaan bola yang superior, mengarahkan permainan ke arah pemain bertahan dengan umpan-umpan pendek dan menunggu peluang.
Kemudian, peluang itu muncul, ketika bek Jepang kehilangan bola di dekat area penalti, dan mereka kebobolan pada menit terakhir, di waktu tambahan.
Dari rekor pertemuan, tim raksasa Asia dan raksasa Amerika ini sudah berduel sebanyak 15 kali. Namun Brasil dominan dengan mencatatkan 11 kemenangan dan dua hasil seri. Sedangkan Jepang memenangi pertemuan terakhir dengan Brasil di laga uji coba pada Oktober 2025 dengan skor 3-2. Ketika itu Jepang sempat tertinggal dua gol lebih dulu.
Kekalahan Jepang di babak 32 besar Piala Dunia 2026 ini l, membuat Asia hanya menyisakan satu perwakilan, yakni Australia, yang Australia akan bertanding memperebutkan tempat di babak 16 besar melawan Mesir.(int/ko/gs).
Editor : Agus Jaka Purnama