radarsampit.jawapos.com-Nama Vozinha (Josimar Jose Evora Dias) mendadak jadi sorotan setelah Tanjung Verde secara mengejutkan menahan imbang timnas Spanyol di laga pertama Grup H Piala Dunia 2026, Senin (25/6) malam WIB. Kiper veterean berusia 40 tahun itu tampil gemilang di bawah mistar gawang hingga dinobatkan sebagai Man of the Match alias pemain terbaik dalam laga tersebut.
Timnas Spanyol sejatinya tampil sangat dominan dalam laga di Atlanta Stadium, Atlanta, Amerika Serikat itu. Skuad berjuluk La Furia Roja itu tercatat melepaskan 27 tembakan ke gawang Tanjung Verde, dan delapan tembakan yang mengarah ke gawang. Mereka juga menguasai penguasaan bola 70 persen lebih.
Akan tetapi, Blue Sharks, julukan Timnas Tanjung Verde bermain sangat disiplin. Kejutan tim asal Afrika itu juga tak luput dari performa gemilang Vozinha yang jatuh bangun di bawah mistar gawang. Penjaga gawang dengan tinggi 189 cm itu benar-benar menjadi momok bagi skuad Spanyol dalam laga tersebut.
Vozinha total melakukan tujuh penyelamatan, termasuk menepis sundulan Mikel Oyarzabal di mulut gawang. Penyelamat-penyelamatannya sukses membuat para pemain bintang Spanyol frustrasi. Penampilan gemilang tersebut pun membuatnya keluar sebagai pemain terbaik dalam laga tersebut.
Baca Juga: Fakta -Fakta dari Laga Perdana Piala Dunia Meksiko vs Afrika Selatan
Diketahui, Vozinha baru mencatatkan namanya sebagai pemain profesional di usia 25 tahun atau tepatnya pada tahun 2011 lalu. Klub pertamanya adalah Batuque, salah satu klub lokal di Tanjung Verde.
Dari situ, Vozinha mulai menapaki kariernya ke luar Tanjung Verde. Dia berlabuh ke klub Angola, Progresso, pada tahun 2015. Setelah itu mulai berpindah-pindah klub ke Zimbru Chisinau (Moldova), Gil Vicente (Portugal), AEL Limassol (Siprus), AS Trencin (Slovakia), dan Chaves (Portugal).
Chaves menjadi klub Vozinha saat ini. Hanya saja, kontraknya bersama klub kasta kedua Portugal itu akan berakhir pada awal Juli mendatang dan belum diketahui pasti apakah kontraknya bakal diperpanjang atau justru berlabuh ke klub lain seiring performa gemilangnya di Piala Dunia 2026.
Vozinha bergabung ke AS Trencin dari AEL Limassol pada tahun 2022. Menariknya, dia saat itu menjadi rekan setim Witan Sulaeman.
Vozinha dan Witan berjuang bersama AS Trencin di Liga Slovakia pada musim 2022/2023. Kebersamaan mereka disana hanya berjalan satu musim saja.Sebab, Witan pindah ke Persija Jakarta pada musim 2023. Setahun berselang, giliran Vozinha yang cabut meninggalkan AS Trencin dan merapat ke Chaves.
Nama Vozinha terbilang cukup unik. Namun itu bukanlah nama sebenarnya, melainkan hanya nama panggilan. Nama asli kiper veteran Tanjung Verde itu adalah Josimar Jose Evora Dias.
Namun, dia memakai Vozinha untuk nama punggung. Dalam bahasa Inggris, julukan itu diartikan sebagai Voice atau Sang Suara, sebuah sebutan yang sangat cocok untuk merepresentasikan perannya sebagai pemimpin di lapangan.
Kiper kelahiran 3 Juni 1986 itu menceritakan kenapa dirinya memakai nama punggung Vozinha. Dia mengungkapkan bahwa sebutan itu melekat sejak masa kecilnya di Pulao Sao Vicente, Tanjung Verde.
“Julukan itu berasal dari kakek dan nenek saya,” ujar Vozinha kepada FIFA, dikutip dari Olympics, Selasa (16/6).
“Saya tidak pernah tinggal bersama orang tua saya. Saat saya lahir, ayah saya sedang menjalani wajib militer dan ibu saya harus bekerja keras untuk mencari nafkah. Karena itu, saya tumbuh besar bersama kakek dan nenek,” sambung dia.
Sementara itu, hasil imbang itu saja yang menjadi sorotan. Tanjung Verde ternyata hanya melakukan satu pelanggaran sepanjang pertandingan. Catatan tersebut menjadi jumlah pelanggaran paling sedikit yang dilakukan sebuah tim nasional dalam satu laga Piala Dunia sejak edisi 1966.
Statistik ini terasa semakin istimewa mengingat lawan yang mereka hadapi adalah Spanyol. Tim berjuluk La Roja dikenal sebagai salah satu negara dengan kemampuan penguasaan bola terbaik di dunia, dan juara baru saja menjadi Piala Eropa 2024.
Dalam banyak pertandingan besar, tim yang menghadapi Spanyol sering kali harus bermain lebih agresif dan mengandalkan kontak fisik untuk memutus aliran bola. Namun hal berbeda justru diperlihatkan oleh Tanjung Verde.
Sepanjang pertandingan, para pemain Tanjung Verde tampil disiplin dalam menjaga posisi dan organisasi pertahanan.Mereka lebih mengandalkan pembacaan permainan serta penutupan ruang dibanding melakukan tekel-tekel keras yang berisiko menghasilkan pelanggaran.
Pendekatan tersebut terbukti efektif. Meski Spanyol mendominasi penguasaan bola dan terus menekan sepanjang laga, Tanjung Verde mampu menjaga konsentrasi hingga peluit panjang berbunyi.(an/lat/jpc)
Editor : Agus Jaka Purnama