Suatu saat siang itu, tiga koper besar menunggu di sudut Stadion Fortuna Sittard. Tak ada yang tahu ternyata kemudian koper-koper itu mengiringi Calvin Verdonk menuju sesuatu yang lebih besar, dari sekadar kepindahannya.
Langit Sittard-Geleen siang itu cerah berawan. Cuacanya tenang, nyaris seperti pertandingan biasa. Namun bagi Calvin Verdonk, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Verdonk datang bukan hanya membawa sepatu, jersey, serta perlengkapan pertandingan. Ia juga membawa kemungkinan hari itu akan menjadi perpisahan.
Beberapa hari terakhir kepalanya penuh sesak.
Di luar lapangan, semuanya bergerak terlalu cepat. Telepon, negosiasi, kabar yang berubah setiap saat.
Sesaat, kabar kepindahannya ke Liga Prancis terdengar hampir selesai. Seketika kemudian nyaris gagal. Pasalnya NEC Nijmegen tak ingin kehilangan pemain bertahannya itu, karena stok bek mereka sedang menipis.
"Saya mengerti jika NEC tidak setuju, meskipun saya menunjukkan bahwa saya senang untuk pindah," kata Verdonk.
"Selama negosiasi, situasinya berfluktuasi jauh dari 'hampir selesai' hingga 'kesepakatan gagal!'"
Sulit memikirkan hal lain. Tetapi ketika peluit dalam pertandingan itu dibunyikan, Verdonk tetap melakukan apa yang selalu ia lakukan: bermain dengan seluruh tenaganya.NEC kalah 2-3 dalam pertandingan itu.
Namun setelah pertandingan selesai, Verdonk tidak langsung masuk ke ruang ganti. Ia berjalan menuju tribun suporter NEC.Berdiri lebih lama dari biasanya.
Lima musimnya hampir berlalu di Nijmegen.
Torehan seratus enam puluh lima pertandingan bukan angka kecil. Bagi Verdonk, terlalu banyak kenangan yang tumbuh di sana.
Memang, kalanya seseorang memang harus meninggalkan tempat yang nyaman untuk mengetahui seberapa jauh dirinya bisa berjalan.
Beberapa jam kemudian, tiga koper itu benar-benar mengiringinya meninggalkan Belanda.Menuju Prancis.
Tes medis menunggu. Kontrak baru menunggu. Bahkan malam berikutnya, ia masih harus terbang ke Surabaya untuk bergabung dengan Timnas Indonesia. Di tengah semua itu, Verdonk sempat mencari satu suara yang dikenalnya. Patrick Kluivert.
Kluivert yang saat itu masih menjadi pelatih Timnas Indonesia, pernah bermain untuk Lille. Verdonk ingin tahu seperti apa tempat yang akan menjadi rumah barunya itu.
Telepon itu mungkin berlangsung singkat. Percakapan hanya hal-hal baik tentang Lille.
Namun, beberapa menit percakapan sudah cukup untuk membuat seseorang yakin melangkah.
Beberapa waktu setelah diperkenalkan sebagai pemain Lille, Verdonk pernah mengucapkan sebuah mimpi. "Kami ingin mendapatkan satu tempat di Liga Champions."
Musim pun berjalan. Terkadang Verdonk bermain sejak awal. Sesekali masuk dari bangku cadangan. Namun ia terus melakukan pekerjaan yang sering luput dari perhatian, yaknk menjaga konsistensi.
Lalu tibalah pertandingan terakhir musim itu.
Stade Pierre-Mauroy dipenuhi harapan. Lille membutuhkan hasil untuk mengamankan tiket Liga Champions. Di sisi lain, Auxerre membawa misi bertahan hidup di Ligue 1 Prancis.
Pertandingan tidak berjalan sesuai rencana.
Verdonk masuk pada babak kedua, mencoba membantu mengubah keadaan. Tetapi hingga menit-menit akhir, skor tetap bertahan.
0-2.
Pemain-pemain nampak menunduk, serasa bukan akhir musim yang sempurna. Tetapi sepak bola punya caranya sendiri menulis sejarah. Di tempat lain, Lyon juga kalah. Dan perlahan kabar itu datang. Lille tetap bertahan di posisi tiga besar, dan lolos ke Liga Champions.
Beberapa bulan setelah tiga koper itu menemani Verdonk meninggalkan Nijmegen, perjalanannya yang dimulai dari sebuah telepon, membawa ke
UEFA Champions League (UCL) musim 2026/2027.(int/tik)