Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Pelari Asal Kenya, Sabastian Sawe Pecahkan Rekor Dunia Marathon

Agus Jaka Purnama • Selasa, 28 April 2026 | 21:59 WIB
Sabastian Sawe saat memasuki garis finish London Marathon 2026. (int)
Sabastian Sawe saat memasuki garis finish London Marathon 2026. (int)

Pelari asal Kenya Sabastian Sawe mencatatkan sejarah dengan memecahkan rekor dunia maraton di ajang London Marathon, Minggu (26/4). Dalam kondisi cuaca musim semi yang tidak menentu, Sawe berhasil menyelesaikan lomba 42 kilometer hanya dalam waktu 1 jam 59 menit 30 detik, sebuah pencapaian yang sebelumnya dianggap mustahil dalam kompetisi resmi.

Catatan itu membuat Sawe menjadi pelari pertama yang menembus batas dua jam dalam maraton resmi, melampaui rekor sebelumnya milik Kelvin Kiptum dengan waktu 2:00:35.

Prestasi itu pun langsung dibandingkan dengan momen bersejarah lain dalam dunia atletik, seperti lari satu mil di bawah empat menit oleh Roger Bannister pada 1954, serta rekor dunia 100 meter milik Usain Bolt.

“Saya merasa sangat baik, saya sangat bahagia. Ini adalah hari yang akan selalu dikenang. Saya telah membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil,” ujar Sawe usai lomba dikutip dari The Guardian.

Baca Juga: Persaingan Perebutan Juara Super League 2025/2026 Makin Sengit, di Sisa Lima Pertandingan

Tak hanya Sawe, dua pelari lain juga mencatatkan waktu di bawah rekor lama Kiptum. Pelari Ethiopia Yomif Kejelcha finis hanya 11 detik di belakang Sawe dalam debut maratonnya, sedangkan Jacob Kiplimo mencatatkan waktu 2:00:28. Menariknya, London tidak dikenal sebagai lintasan tercepat jika dibandingkan dengan kota lain, seperti Berlin atau Chicago.

Balapan berlangsung ketat sejak awal. Sawe mulai meningkatkan tempo drastis setelah 30 kilometer. Bersama Kejelcha, Sawe mencatat waktu 13:54 untuk 5 km antara kilometer 30 hingga 35, lalu meningkat menjadi 13:42 pada segmen berikutnya.

Kejelcha akhirnya menyerah menjelang kilometer ke-41. “Sebelum 41 kilometer, saya merasa santai dan menikmati lomba. Tapi tepat di 41 kilometer, tubuh saya berhenti. Kaki saya sudah tidak kuat,” ungkap Kejelcha.

Sawe justru semakin melesat dan menyelesaikan paruh kedua lomba hanya dalam waktu sedikit di atas 59 menit. Catatan waktunya bahkan lebih cepat 10 detik dari rekor tidak resmi milik Eliud Kipchoge saat percobaan di Wina tahun 2019 yang tidak diakui oleh World Athletics karena menggunakan bantuan teknis khusus seperti pacemaker bergantian dan kendaraan penghalang angin.

Di balik pencapaian gemilang itu, perjalanan hidup Sawe juga penuh perjuangan. Sawe tumbuh di desa terpencil di Kenya tanpa listrik dan dikenal sangat pemalu hingga kerap bersembunyi sebelum lomba. Namun, dorongan dari gurunya Julius Kemei mengubah arah hidupnya.

Karier Sawe mulai berkembang pesat setelah bergabung dengan kelompok latihan 2Running yang dipimpin pelatih Italia Claudio Berardelli. “Apa yang terjadi hari ini, 90 persen adalah hasil dari Sabastian sendiri,” ujar Berardelli saat ditanya tentang pencapaian atletnya.

Meskipun demikian, pencapaian itu juga tidak lepas dari isu doping yang kerap menghantui atlet Kenya. Untuk menjamin transparansi, Adidas sebagai pihak yang mensponsori Sawe bekerja sama dengan Athletics Integrity Unit melakukan pengujian intensif. Sawe bahkan telah menjalani puluhan tes sebelum lomba, termasuk analisis mendalam untuk mendeteksi zat terlarang dalam kadar sangat kecil.

Sementara itu, pada kategori putri, pelari Ethiopia Tigst Assefa berhasil mempertahankan gelarnya dengan mencatat rekor dunia kategori women-only sebesar 2:15:41, unggul 12 detik dari pesaingnya, Hellen Obiri.(apr/hen/jpc)

Editor : Agus Jaka Purnama
#london #pelari #rekor dunia #marathon #sejarah