Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Denda Suporter Persebaya Surabaya Tembus Rp590 Juta

Agus Jaka Purnama • Minggu, 15 Maret 2026 | 18:00 WIB

Salah satu Koreografi suporter Persebaya Surabaya saat di stadion Gelora Bng Tomo
Salah satu Koreografi suporter Persebaya Surabaya saat di stadion Gelora Bng Tomo

radarsampitjawapos.com- Persebaya Surabaya kembali menjadi sorotan di kompetisi Super League 2025/2026, lantaran akumulasi denda suporter yang tembus Rp 590 juta sepanjang musim ini.

Jumlah tersebut membuat Persebaya Surabaya menjadi klub dengan total denda terbesar dibanding tim lain di Super League 2025/2026 lainnya.

Fakta itu memicu diskusi panjang di kalangan suporter Green Force mengenai pentingnya menjaga sikap di stadion.Situasi ini muncul di tengah performa Persebaya Surabaya yang tidak sepenuhnya stabil pada putaran kedua musim ini.

Dalam lima pertandingan terakhir, tim asal Kota Pahlawan itu mencatat tiga kekalahan, satu hasil imbang, dan satu kemenangan.Rangkaian hasil tersebut dimulai pada pekan ke-21 saat Persebaya Surabaya kalah 1-2 dari Bhayangkara FC pada 14 Februari 2026.

Kekalahan kembali terjadi di pekan berikutnya ketika Persijap Jepara menundukkan Persebaya Surabaya dengan skor 3-1 pada 21 Februari 2026.

Persebaya Surabaya sempat bangkit ketika menjamu PSM Makassar pada 25 Februari 2026, dengan meraih kemenangan tipis 1-0 yang sempat memberi angin segar bagi tim dan suporter. Namun, saat menghadapi Persib Bandung pada 2 Maret 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, pertandingan berakhir imbang 2-2.

Laga tersebut justru menjadi awal munculnya sanksi disiplin dari Komite Disiplin PSSI. Insiden penyalaan petasan dan kembang api oleh suporter di tribun utara menjadi perhatian serius pengawas pertandingan.

Dalam dokumen resmi Komdis PSSI dijelaskan kronologi pelanggaran yang terjadi pada pertandingan tersebut. Peristiwa itu dinilai melanggar Kode Disiplin PSSI Tahun 2025.

“Bahwa pada tanggal 02 Maret 2026 bertempat di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya telah berlangsung pertandingan BRI Super League 2025/2026 antara Persebaya Surabaya melawan Persib Bandung, dimana Klub Persebaya Surabaya melanggar Kode Disiplin PSSI Tahun 2025 karena selama pertandingan hingga pertandingan berakhir terjadi penyalaan petasan dan kembang api dalam jumlah banyak yang dilakukan oleh suporter Persebaya Surabaya di Tribun Utara dan diperkuat dengan bukti-bukti yang cukup untuk menegaskan terjadinya pelanggaran disiplin.”

Berdasarkan fakta dan pertimbangan tersebut, Komdis PSSI menjatuhkan sanksi tegas kepada Persebaya Surabaya. Hukuman tidak hanya berupa denda, tetapi juga penutupan sebagian stadion.

Merujuk kepada Pasal 70 ayat (1), ayat (2) jo lampiran 1 nomor 5 jo Pasal 138 Kode Disiplin PSSI Tahun 2025, Persebaya Surabaya dikenakan sanksi penutupan sebagian stadion, tepatnya Tribun Utara, selama satu pertandingan kandang terdekat. Selain itu klub juga harus membayar denda sebesar Rp 250 juta.

Keputusan tersebut ditetapkan oleh Komite Disiplin PSSI pada 9 Maret 2026 dan ditandatangani langsung oleh ketua Komdis.Dalam dokumen itu juga disebutkan potensi hukuman lebih berat jika pelanggaran serupa kembali terjadi.

“Pengulangan terhadap pelanggaran terkait di atas akan berakibat terhadap hukuman yang lebih berat.”

Pihak Persebaya Surabaya sendiri merespons keputusan tersebut melalui akun resmi Instagram klub. Mereka mengajak seluruh suporter untuk bersama-sama menjaga nama baik tim kebanggaan Kota Surabaya. “Ayo Bersama Kita Jaga Persebaya.”

Sementara itu salah satu fanbase Bonek melalui kanal aplikasi sepak bola @soccer__app juga mengungkap data total denda suporter di Super League 2025/2026.Dalam data tersebut, Persebaya Surabaya berada di posisi teratas dengan total Rp 590 juta.

Persis Solo berada di posisi kedua dengan total denda Rp 540 juta. Disusul Bali United Rp 425 juta, Persib Bandung Rp 255 juta, dan PSM Makassar Rp 210 juta.

Data tersebut memicu diskusi luas di kalangan suporter berbagai klub. Banyak yang menilai fanatisme perlu diimbangi kesadaran agar tidak merugikan tim sendiri.

“Sebagai suporter, kita harus sadar bahwa fanatisme yang tidak pada tempatnya justru menjadi beban finansial bagi tim kebanggaan, di mana dana denda tersebut sebetulnya bisa jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk memperbaiki fasilitas, mendatangkan pemain baru, atau membina akademi usia muda,” tulis @soccer__app.

Pesan tersebut ditutup dengan kalimat yang cukup menohok bagi banyak suporter sepak bola Indonesia. “Cinta klub berarti melindunginya, bukan menguras kasnya.”

Kolom komentar di unggahan tersebut juga dipenuhi berbagai tanggapan dari suporter lintas klub. Banyak yang mengajak semua pihak untuk introspeksi demi kemajuan sepak bola nasional.

Suporter lain bahkan menyinggung potensi pemanfaatan dana yang terbuang akibat denda. “Dana segitu bisa memperbagus stadion GBT gasih,” tulis salah satu suporter Persebaya Surabaya.

Diskusi itu menunjukkan satu hal penting dalam kultur sepak bola modern. Fanatisme tetap menjadi kekuatan utama suporter, tetapi tanggung jawab kolektif juga semakin dibutuhkan.

Jika tidak dikendalikan, dukungan yang seharusnya menjadi energi justru berubah menjadi beban finansial bagi klub. Persebaya Surabaya kini berada di titik refleksi penting bersama para pendukungnya.

 

“Maaafkan supporter mu ya sis,” tulis suporter Persis Solo. Komentar lain menambahkan, “Bagus min, biar pada introspeksi untuk kemajuan tim dan sepakbola Indonesia.”(moc/hen/jpc)

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#bonek #green force #suporter #persebaya surabaya #pssi #persis solo #kompetisi Super League