radarsampit.jawapos.com-Real Madrid kembali terlihat sebagai kandidat serius juara LaLiga musim 2025/2026. Kemenangan 2-0 atas Villarreal yang berada di papan atas klasemen pada Sabtu malam (24/1) WIB, menjadi sinyal bahwa Los Blancos mulai menemukan kembali stabilitas mereka di tengah persaingan gelar.
Namun, perjalanan menuju titik ini sama sekali tidak mulus. Awal musim 2025–26 Real Madrid sempat mencapai fase terendah hanya dua minggu setelah pergantian tahun.
Saat itu, mereka tertinggal empat poin dari Barcelona di klasemen, kalah dari rival abadi di final Piala Super Spanyol, dan secara mengejutkan mengakhiri kerja sama dengan Xabi Alonso setelah hanya 34 pertandingan masa kepelatihannya.
Era Álvaro Arbeloa pun dimulai dengan cara yang jauh dari ideal. Real Madrid tersingkir dari Copa del Rey di babak 16 besar oleh Albacete, tim dari divisi kedua.
Kekalahan tersebut sempat menimbulkan tanda tanya besar soal kesiapan Arbeloa menangani klub sebesar Madrid. Namun, respons tim patut diapresiasi. Para pemain berbaju putih bangkit dan sukses memenangi tiga pertandingan beruntun di bawah pelatih baru mereka.
Situasi klasemen juga ikut berubah. Kekalahan Barcelona dari Real Sociedad pada akhir pekan sebelumnya membuat Real Madrid sempat naik ke puncak klasemen menjelang laga tim Catalan melawan Real Oviedo. Bahkan jika Barcelona kembali merebut posisi teratas, jarak kedua tim diprediksi hanya terpaut satu poin.
Melansir Sports Illustrated, berdasarkan prediksi superkomputer, persaingan gelar LaLiga musim ini tetap condong ke Barcelona. Tim Catalan itu masih difavoritkan untuk mempertahankan gelar dengan peluang juara mencapai sekitar 63 persen. Mereka diproyeksikan finis dengan sekitar 88 poin, unggul beberapa angka dari Real Madrid.
Sementara itu, Real Madrid diperkirakan akan menutup musim dengan sekitar 85 poin. Meski performa mereka menunjukkan tren positif dan sempat memimpin klasemen, superkomputer hanya memberi peluang sekitar 35 persen bagi Los Blancos untuk mengangkat trofi LaLiga di akhir musim.
Angka ini menunjukkan bahwa Madrid masih harus bekerja keras untuk benar-benar menggeser dominasi rival mereka.
Masih ada sekitar empat bulan tersisa dalam musim 2025–26, yang berarti peluang belum sepenuhnya tertutup. Namun, situasinya jauh lebih sulit bagi tim-tim lain.
Atlético Madrid dan Villarreal, yang berada di bawah dua raksasa Spanyol tersebut, hanya memiliki peluang sangat kecil untuk ikut dalam perburuan gelar. Seperti musim-musim sebelumnya, persaingan tampaknya akan kembali mengerucut menjadi duel dua tim.
Salah satu kunci kebangkitan Real Madrid di era Arbeloa adalah performa Kylian Mbappé. Penyerang asal Prancis itu langsung menunjukkan dampak besar dengan mencetak enam gol dalam tiga pertandingan awal di bawah arahan pelatih baru. Ketajamannya menjadi tumpuan utama Madrid dalam upaya mengejar Barcelona.
Mbappé kini telah mencetak 87 gol dalam 87 penampilan sejak bergabung dengan Real Madrid. Meski demikian, ia masih memburu trofi besar pertamanya bersama klub ibu kota Spanyol tersebut. Tantangan serupa juga dihadapi Arbeloa, yang baru dua minggu sebelumnya bahkan belum pernah melatih klub papan atas.
Dari pengalaman, skuad Real Madrid dipenuhi pemain yang sudah terbiasa dengan tekanan perebutan gelar. Beberapa di antaranya tahu betul apa yang dibutuhkan untuk menjuarai LaLiga maupun Liga Champions. Vinicius Junior, misalnya, kembali menunjukkan performa terbaiknya dengan dukungan penuh dari sang pelatih.
Pada akhirnya, tanggung jawab untuk membawa Real Madrid kembali ke puncak kejayaan akan dipikul oleh seluruh tim. Dan seperti yang sering terjadi dalam sejarah sepak bola Spanyol, nasib gelar LaLiga bisa saja kembali ditentukan dalam laga El Clásico.(sh/hen/jpc)
Editor : Agus Jaka Purnama