Radarsampit.jawapos.com – Dahulu, bersepeda mungkin identik dengan olahraga atau sekadar hobi akhir pekan.
Namun kini, roda sepeda berputar membawa pesan yang lebih dalam—tentang perubahan iklim, keadilan sosial, dan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Di Amerika Serikat, sekelompok aktivis menjadikan sepeda sebagai simbol perlawanan dan alat untuk menyuarakan berbagai isu mendesak.
Salah satunya adalah Patrick Scheuermann, sosok di balik gerakan Climate Ride, sebuah perjalanan bersepeda lintas negara yang mengusung misi menyadarkan publik akan pentingnya menjaga lingkungan.
“Setiap pedal yang kami kayuh adalah bentuk aksi nyata. Kami ingin menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil,” ujar Patrick, dikutip dari Experiencelife.
Perjalanan ini bukan sekadar menguji ketahanan fisik. Setiap kilometer yang ditempuh menjadi ruang dialog dengan masyarakat, mengajak mereka untuk lebih peduli pada bumi dan ikut ambil bagian dalam aksi lokal seperti penghijauan, pengurangan sampah, dan penggunaan energi bersih.
Tak hanya soal lingkungan, isu sosial pun turut diangkat lewat pedal. Kelompok Ride for Racial Justice misalnya, menuntut akses yang setara bagi komunitas kulit hitam dan minoritas dalam menikmati ruang publik, termasuk jalur sepeda yang aman.
“Bersepeda adalah kebebasan. Tapi kalau hanya sebagian orang yang bisa menikmatinya, maka itu bukan kebebasan yang adil,” tegas Marcus Robinson, aktivis dan pelatih sepeda.
Gerakan ini menekankan bahwa kota yang ramah pesepeda adalah kota yang ramah manusia. Dengan infrastruktur yang mendukung, masyarakat diajak untuk hidup lebih sehat, hemat, dan terhubung dengan sesama.
Apa yang mereka lakukan adalah bentuk nyata dari aktivisme modern—sunyi, konsisten, dan menginspirasi. Mereka tidak turun ke jalan dengan spanduk, tapi dengan helm dan pedal. Mereka tidak berteriak lewat pengeras suara, tapi menyampaikan pesan lewat perjalanan panjang yang bermakna.
Jadi, jangan heran jika suatu hari Anda melihat iring-iringan sepeda dengan semangat yang berbeda. Bisa jadi mereka sedang mengayuh untuk perubahan, demi bumi yang lebih baik, dan masa depan yang lebih adil bagi semua. (*)
Editor : Slamet Harmoko