Radarsampit.jawapos.com – Ada satu hal yang agaknya mulai akrab dengan warga Kalimantan Tengah belakangan ini: asap. Bukan asap dari sate atau bakaran jagung di pinggir jalan, melainkan kabut asap karhutla yang membuat udara semakin tidak bersahabat.
Senin (12/10/2026), kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kalteng, termasuk Kota Palangka Raya. Jarak pandang terbatas. Keluhan gangguan pernapasan meningkat. Dan tentu saja, warga kembali diminta bersabar sambil menunggu kebakaran selesai.
Masalahnya, karhutla ini bukan kejadian kemarin sore.
Berbulan-bulan warga menghadapi kualitas udara buruk. Dampaknya bahkan sudah masuk ke fasilitas kesehatan. Data kesehatan yang dihimpun pada minggu pertama Oktober 2026 mencatat 5.031 kasus baru infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan 1.127 kasus diare.
Angka tersebut cukup untuk menunjukkan bahwa karhutla bukan cuma persoalan hutan dan lahan. Ada manusia yang ikut menanggung akibatnya.
Dan kebakarannya sendiri belum benar-benar pergi.
Data BPBD Kota Palangka Raya mencatat terdapat 19 titik api dan lokasi penanganan karhutla. Total lahan yang terbakar di wilayah tersebut mencapai 1.441,30 hektare dalam 876 kejadian.
Sementara itu, data BRIN dan Sipongi mencatat 3.908 titik panas atau hotspot di seluruh Kalteng. Dalam periode 24 jam, terdapat 62 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 64,82 hektare.
Kabupaten Seruyan menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi, yakni 1.308 titik. Di sana tercatat tujuh kejadian kebakaran dengan luas lahan terbakar 19 hektare.
Kotawaringin Timur menjadi daerah dengan frekuensi penanganan karhutla tertinggi. Tercatat 21 kejadian, 431 hotspot, dan luas lahan terbakar 9,25 hektare.
Kebakaran juga tercatat di Katingan dengan luas 18,30 hektare, Kapuas 9,50 hektare, Pulang Pisau 5,70 hektare, Barito Selatan 3 hektare, serta Palangka Raya 0,07 hektare dalam periode pelaporan tersebut.
Jadi, kalau ada yang mengira persoalan selesai hanya karena hujan turun sebentar atau asap menipis beberapa jam, data tadi barangkali perlu dibaca ulang.
Di fasilitas kesehatan, efek kabut asap juga bukan cerita abstrak.
Kepala UPTD Puskesmas Bukit Hindu, Hellyana, mengatakan keluhan saluran pernapasan mendominasi pasien yang datang berobat. Menurut dia, kondisi kualitas udara yang buruk menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai.
“Kebanyakan pasien yang datang mengeluhkan sakit saluran pernapasan. Memang terjadi peningkatan, terutama karena polusi udara yang bisa dikatakan berbahaya. Terus meningkat masyarakat terpapar ISPA,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi kebutuhan pasien, pelayanan unit gawat darurat (UGD) dan Rumah Oksigen di Puskesmas Menteng disiagakan selama 24 jam. Fasilitas tersebut digunakan untuk membantu penanganan gangguan pernapasan dan ISPA.
“Semoga segera berlalu. Dan langkah konkret itu dilakukan pemerintah kota untuk masyarakat,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPB-PK Provinsi Kalteng Ahmad Toyib meminta seluruh pihak menghentikan aktivitas pembakaran lahan dalam bentuk apa pun.
Menurutnya, selain pemadaman dan penegakan hukum, kolaborasi seluruh elemen masyarakat diperlukan untuk mewujudkan Kalteng bebas kabut asap.
Di jalur hukum, sebanyak 49 kasus tindak pidana karhutla saat ini sedang diproses kepolisian.
Ahmad Toyib juga menyebut sebanyak 12.717 personel gabungan dikerahkan ke lokasi-lokasi kritis. Operasi tersebut didukung tujuh helikopter pemadam atau water bombing dan satu pesawat patroli OMC.
“Menegaskan bahwa seluruh personel gabungan yang berjumlah 12.717 orang dikerahkan ke lokasi-lokasi kritis dengan dukungan armada udara berupa 7 unit helikopter pemadam (water bombing) dan 1 unit pesawat patroli OMC,” tegasnya.
Ia kembali menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak dalam penanganan karhutla.
“Semoga cepat berlalu kondisi ini,” tandasnya.
Semoga tentu saja. Sebab warga mungkin sudah cukup lama berkenalan dengan asap.
Di lapangan, personel Polda Kalteng masih berjibaku memadamkan karhutla di sejumlah lokasi Palangka Raya.
Pemadaman dilakukan di Jalan Tjilik Riwut Km 39, belakang Sekolah Rakyat, Jalan D.A. Tawa, Jalan Hiu Putih Lanjutan, serta Jalan Tanjung Taruna.
Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan melalui Dansat Brimob Kombes Pol Dieno Hendro Widodo mengatakan personel tetap bekerja tanpa mengenal hari libur. Alasannya sederhana: api harus segera dipadamkan agar asap tidak semakin mengganggu masyarakat.
Terutama anak-anak yang masih mengikuti kegiatan pendidikan.
“Karhutla harus segera dipadamkan agar asap tidak mengganggu aktivitas masyarakat dan anak-anak di sekolah,” tegasnya.
Persoalannya, memadamkan kebakaran lahan gambut memang tidak sesederhana menyiram api yang terlihat.
Dieno menjelaskan, api dapat merambat di bawah permukaan tanah. Karena itu, meski api di permukaan terlihat padam, bara di bawah tanah masih bisa menyala dan memicu kebakaran kembali.
Personel melakukan penyisiran titik panas menggunakan drone sebelum dilanjutkan dengan pemadaman manual. Pembasahan lahan dan pembuatan sekat bakar juga dilakukan untuk mengendalikan perambatan api.
“Personel kami terus melakukan penyisiran titik panas dengan bantuan drone, kemudian dilanjutkan pemadaman manual. Ini demi kenyamanan masyarakat agar terhindar dari kabut asap. Metode pembasahan lahan dan pembuatan sekat bakar juga terus dilakukan untuk mengendalikan perambatan api. Upaya tersebut menjadi penting karena kebakaran gambut berpotensi menyisakan bara di bawah permukaan meskipun api di permukaan telah padam,” tandasnya.
Di tengah situasi tersebut, Kabidhumas Polda Kalteng Kombes Pol Budi Rachmat kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Imbauan tersebut bukan tanpa alasan. Risiko kebakaran masih tinggi selama musim kemarau.
Namun, persoalan karhutla tentu tidak selesai hanya dengan meminta masyarakat tidak membakar. Data ribuan hotspot, ratusan hingga ribuan hektare lahan terbakar, serta ribuan kasus gangguan kesehatan menunjukkan persoalannya jauh lebih besar.
Di satu sisi, petugas terus memadamkan api. Di sisi lain, masyarakat harus menghirup asap dan mendatangi fasilitas kesehatan karena gangguan pernapasan.
Budi mengajak masyarakat ikut menjaga lingkungan dan mencegah karhutla. “Mari kita bersama menjaga lingkungan kita agar tetap aman dan terjaga dari terjadinya karhutla,” tutupnya. (daq/sla/jpg)
Editor : Slamet Harmoko