JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Doktrin “Polisi Bersama Masyarakat” yang dibawa Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto memasuki babak baru setelah dirinya resmi menjabat sebagai Kapolri. Suyudi meminta seluruh anggota Polri menjadikan kerendahan hati sebagai bagian dari cara melayani masyarakat.
Doktrin tersebut sebelumnya disampaikan Suyudi sebagai arah kepemimpinannya di Polri. Ia menempatkan masyarakat sebagai pusat orientasi tugas kepolisian, termasuk dalam pelayanan, perlindungan, dan penegakan hukum.
Ketua Umum Garda Satu Abdul Rohim mengatakan gagasan tersebut menunjukkan pentingnya kehadiran polisi di tengah masyarakat. Menurut dia, polisi tidak hanya dituntut menjaga keamanan, tetapi juga mendengar kebutuhan masyarakat dan memberikan kepastian hukum.
“Intinya polisi masih bersama masyarakat. Polisi hadir untuk mendengar, melayani, melindungi, memberikan kepastian hukum, serta bersama-sama masyarakat menjaga keamanan dan ketertiban,” kata Rohim, Sabtu (10/10).
Sebagai organisasi kemasyarakatan yang kerap bersinggungan dengan Polri, Rohim mengatakan Garda Satu siap membangun sinergi dengan Korps Bhayangkara di bawah kepemimpinan Suyudi.
Suyudi resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Kapolri pada 1 Oktober 2026, menggantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Pergantian tersebut menandai dimulainya kepemimpinan baru di tubuh Polri.
Sebagai bentuk penyambutan atas pergantian kepemimpinan Polri, Garda Satu menggelar syukuran sekaligus membagikan ratusan paket sembako kepada masyarakat yang membutuhkan.
Rohim mengatakan pembagian sembako telah dilakukan sejak Jumat dan mencapai puncaknya pada Sabtu.
“Sejak Jumat paket sembako sudah disebar ke masyarakat. Puncaknya hari ini,” ujarnya.
Menurut Rohim, kegiatan tersebut menjadi bagian dari dukungan organisasinya terhadap sinergi antara masyarakat dan kepolisian.
Di sisi lain, Suyudi menyampaikan pesan kepada seluruh anggota Polri agar tidak menjadikan jabatan, pangkat, maupun kekuasaan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Suyudi saat berada di sela-sela ibadah salat Jumat di Mabes Polri.
Ia meminta anggota Polri menjaga kerendahan hati dan memahami jabatan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
“Jadilah pribadi yang selalu rendah hati, jangan sombong, dan jangan pernah merasa lebih hebat daripada orang lain. Jabatan, pangkat, dan kekuasaan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Hormati sesama, bantulah mereka yang membutuhkan, dan tetaplah menjadi pribadi yang sederhana,” kata Suyudi.
Doktrin “Polisi Bersama Masyarakat” kini menjadi salah satu gagasan utama dalam kepemimpinan Suyudi. Sebelumnya, saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR, Suyudi menyebut doktrin tersebut sebagai arah transformasi Polri dengan menempatkan masyarakat sebagai pusat tugas kepolisian.
Dengan demikian, ukuran dari doktrin tersebut bukan hanya pada slogan, tetapi pada bagaimana pelayanan, penegakan hukum, dan perlindungan masyarakat dijalankan di lapangan. (jpg)
Editor : Slamet Harmoko