352 Siswa Diduga Keracunan MBG, Pemilik Yayasan Berkelit Pakai Riwayat Maag

Slamet Harmoko • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 21:03 WIB
Sebagian murid SDN Beber mendapat perawatan dari petugas kesehatan Puskesmas Pringgarata, Jumat (11/9). (Dewi/Lombok Post)
Sebagian murid SDN Beber mendapat perawatan dari petugas kesehatan Puskesmas Pringgarata, Jumat (11/9). (Dewi/Lombok Post)

LOMBOK TENGAH, radarsampit.jawapos.com – Dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) yang menimpa 352 siswa di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, mendapat tanggapan dari yayasan penyedia makanan.

Yayasan Budi Sain Mangkling menyebut kondisi siswa, termasuk riwayat maag, serta keterlambatan distribusi menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Yayasan Budi Sain Mangkling menaungi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lombok Tengah Mekar Bersatu yang menyuplai menu MBG ke sejumlah sekolah yang siswanya mengalami keluhan kesehatan.

Pemilik Yayasan Budi Sain Mangkling, Khaerudin, mengatakan siswa yang memiliki riwayat maag seharusnya tetap sarapan dari rumah sebelum menyantap menu MBG.

Menurutnya, kondisi perut yang kosong ditambah riwayat penyakit tersebut berpotensi memperparah dampak ketika mengonsumsi makanan yang kondisinya mulai menurun.

“Seharusnya tetap sarapan dari rumah,” cetusnya, dilansir Lombok Post (Jawa Pos Group), dikutip Sabtu (12/9).

Khaeruddin mengklaim seluruh proses pengolahan hingga pendistribusian makanan telah dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Dia membenarkan menu yang disajikan saat kejadian berupa kebab. Menu tersebut merupakan hidangan baru yang dihadirkan berdasarkan permintaan para siswa.

Menurut Khaeruddin, makanan mulai dimasak sejak dini hari, kemudian dikemas sekitar pukul 04.30 WITA dan didistribusikan ke sekolah-sekolah mulai pukul 07.00 WITA.

Dia menyebut makanan tersebut idealnya dikonsumsi sebelum pukul 09.00 WITA. Pihak SPPG juga mengaku telah menyampaikan batas waktu konsumsi kepada sekolah.

Namun, menurutnya, terdapat sejumlah sekolah yang terlambat membagikan makanan kepada siswa.

“Terlebih campuran kebab adalah saus mayonis,” ujar Khaeruddin.

Ia juga menegaskan label batas waktu konsumsi selalu ditempel pada tutup wadah makanan atau omprengan.

Terkait desakan agar operasional dapur SPPG milik yayasannya dihentikan sementara, Khaeruddin menyerahkan keputusan tersebut kepada Badan Gizi Nasional (BGN). Pihaknya juga masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari BPOM.

Namun, dia mempertanyakan dugaan bahwa sumber keracunan berasal dari dapur SPPG tersebut.

Menurutnya, jika makanan dari dapur benar-benar menjadi penyebab, seluruh penerima manfaat yang berjumlah sekitar 2.900 orang semestinya ikut terdampak.

“Ini lebih kepada persoalan teknis pendistribusian di lapangan yang agak terlambat,” pungkasnya.

352 Siswa Dilarikan ke Puskesmas

Sebelumnya, sebanyak 352 siswa di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, dilaporkan mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan konsumsi menu MBG.

Para siswa dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan setelah menyantap makanan tersebut. Mereka mengeluhkan sejumlah gejala, seperti pusing, mual, muntah, nyeri perut, hingga lemas.

Ratusan siswa tersebut berasal dari SDN 2 Lendang Tampel, SDN Repok Puyung, SDN Beber, MTs Qudwatun Hasanah, dan SDN Mertak Kesambik.

Penanganan medis dilakukan di empat puskesmas. Sebanyak 144 siswa ditangani di Puskesmas Pringgarata, 124 siswa di Puskesmas Aik Darek, 67 siswa di Puskesmas Mantang, dan 17 siswa di Puskesmas Bagu.

Sebagian siswa dilaporkan mulai membaik dan diperbolehkan pulang. Dokter penanggung jawab Puskesmas Pringgarata, dr. Dessy Jumianita, mengatakan tidak ada korban yang mengalami kondisi parah.

“Tidak ada yang parah, ada 17 siswa yang masuk ke dalam kategori sedang, sisanya kategori ringan,” kata Dessy. (jpg)

Editor : Slamet Harmoko
Yayasan Budi Sain Mangkling SPPG Mekar Bersatu keracunan mbg lombok tengah maag