Radarsampit.jawapos.com – Fenomena erupsi beruntun enam gunung api di Indonesia dikaitkan dengan rekayasa teknologi dan teori konspirasi asing seperti High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP).
Spekulasi tersebut langsung dibantah pakar kebumian yang menilai tidak ada mekanisme ilmiah yang memungkinkan teknologi buatan manusia memicu letusan gunung api.
Pegiat mitigasi bencana dan pakar sains Dr. Daryono menegaskan, aktivitas vulkanik merupakan konsekuensi dari dinamika tektonik dan proses alamiah di dalam bumi. Energi yang menggerakkan magma berasal dari sistem geologi yang bekerja jauh di bawah permukaan.
Pernyataan tersebut merespons spekulasi Deputi Bakom Ulta Levenia Nababan yang sebelumnya mempertanyakan kemungkinan hubungan erupsi beruntun dengan HAARP serta momentum geopolitik setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia.
Ulta menyebut pandangannya sebagai pertanyaan pribadi dan belum didukung bukti ilmiah. Namun, pernyataan tersebut kemudian menjadi perhatian publik.
Energi Erupsi Jauh Melampaui Teknologi Manusia
Daryono menjelaskan, erupsi gunung api merupakan proses pelepasan energi endogenik bumi dalam skala sangat besar. Magma terbentuk dan bergerak akibat proses geologi di kedalaman bumi, kemudian naik ke permukaan karena sejumlah faktor, termasuk perbedaan densitas dan tekanan gas di dalam sistem magma.
Menurut dia, tekanan di dalam sistem magma dapat mencapai skala sangat besar. Karena itu, tidak terdapat dasar ilmiah untuk menyatakan gelombang elektromagnetik seperti yang dikaitkan dengan HAARP mampu mengendalikan atau memicu pergerakan magma di kedalaman.
“Tekanan di kantong magma ini mencapai ratusan MegaPascal. Tidak ada teknologi gelombang elektromagnetik maupun ledakan buatan manusia yang sanggup menembus kedalaman kerak bumi untuk mengubah tekanan fluida silikat tersebut secara sengaja,” tegas Daryono, Selasa (8/9/2026).
Ia menambahkan, batuan penyusun kerak bumi bukan medium yang memungkinkan sinyal elektromagnetik dari permukaan digunakan untuk mengendalikan magma yang berada jauh di bawah tanah.
Selain persoalan mekanisme, skala energi juga menjadi persoalan utama. Manusia tidak memiliki sumber energi yang realistis untuk mengendalikan pergerakan magma dalam jumlah sangat besar dan pada suhu ekstrem di bawah permukaan bumi.
Cincin Api Membuat Erupsi Bukan Hal Aneh
Indonesia memiliki kondisi geologi yang memang membuat aktivitas vulkanik relatif tinggi. Wilayah Nusantara berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan menjadi tempat bertemunya sejumlah lempeng tektonik aktif.
Lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina berinteraksi melalui proses pergerakan dan penunjaman. Dalam zona subduksi, material dari lempeng yang menunjam dapat memengaruhi proses pembentukan magma di mantel.
Sistem tersebut telah berlangsung dalam skala waktu geologis yang sangat panjang. Karena itu, munculnya aktivitas vulkanik di sejumlah gunung api dalam periode berdekatan tidak otomatis menunjukkan adanya satu penyebab buatan yang mengendalikan semuanya.
Daryono menjelaskan, perubahan tegangan regional akibat aktivitas tektonik juga dapat memengaruhi sistem gunung api yang memang sudah berada dalam kondisi aktif. Beberapa gunung dapat menunjukkan peningkatan aktivitas dalam periode yang berdekatan tanpa harus memiliki satu pemicu buatan yang sama.
Erupsi juga tidak terjadi begitu saja tanpa tanda-tanda geologi. Aktivitas gunung api umumnya dapat dipantau melalui berbagai parameter sebelum terjadi letusan.
Pergerakan magma dapat menghasilkan gempa vulkanik, tremor, serta perubahan tekanan di dalam tubuh gunung. Instrumen geodesi seperti GPS dan tiltmeter dapat mendeteksi deformasi atau perubahan bentuk tubuh gunung api.
Selain itu, perubahan komposisi dan konsentrasi gas vulkanik serta perubahan suhu juga dapat menjadi bagian dari parameter pemantauan aktivitas gunung api.
Berbagai data tersebut dikumpulkan oleh jaringan pemantauan gunung api untuk membaca perkembangan aktivitas vulkanik. Dengan demikian, erupsi merupakan proses yang dapat ditelusuri melalui indikator geofisika dan geokimia, bukan peristiwa yang muncul karena sebuah “tombol kendali” dari luar.
Daryono menilai narasi yang mengaitkan erupsi beruntun dengan HAARP tidak memiliki dasar ilmiah yang memadai.
“Ini merupakan bentuk disinformasi yang mengabaikan sains dasar, mengingat aktivitas vulkanik Indonesia adalah keniscayaan dinamis dari geologi bumi yang terus bergerak,” imbuhnya. (jpg)
Editor : Slamet Harmoko