JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Buku berjudul Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam tengah menjadi perbincangan publik.
Selain mengulas sisi keagamaan Presiden Prabowo Subianto, penggunaan frasa “Islam ala Prabowo” dalam judul buku turut memantik beragam tanggapan dari warganet.
Dikutip dari Radar Solo (Jawa Pos Group), buku tersebut disusun Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas. Diterbitkan Atmosphere Publishing House, buku setebal sekitar 346 halaman itu pertama kali dirilis pada April 2025.
Mengulas Islam dalam Kehidupan Prabowo
Buku Islam ala Prabowo membahas nilai-nilai Islam yang disebut tercermin dalam kehidupan pribadi, perjalanan karier militer, hingga kiprah Prabowo sebagai Presiden RI.
Sejumlah aspek yang diangkat antara lain perdamaian, keadilan, spiritualitas serta perjuangan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Buku tersebut juga menghimpun pandangan sejumlah tokoh publik dan akademisi. Ketua MPR RI Ahmad Muzani turut menulis bagian prolog yang membahas kepemimpinan Prabowo dan perannya dalam sejumlah persoalan dunia Islam, termasuk isu Palestina.
Buku itu kemudian resmi diluncurkan oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar bersama Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Prof. Dr. Noor Achmad.
Dijual hingga Rp129 Ribu
Bagi masyarakat yang ingin membaca, buku Islam ala Prabowo telah beredar secara komersial melalui sejumlah toko buku dan marketplace.
Di Gramedia maupun platform belanja daring, buku tersebut dibanderol sekitar Rp125 ribu hingga Rp129 ribu.
Kehadiran buku ini pun memunculkan pro dan kontra. Pendukungnya menilai buku tersebut memberikan perspektif mengenai penerapan nilai-nilai Islam dalam kepemimpinan serta kebijakan publik.
Namun, sebagian kritik justru diarahkan pada penggunaan judul Islam ala Prabowo. Frasa tersebut dinilai tidak lazim oleh sejumlah warganet dan dianggap menimbulkan kesan seolah terdapat corak atau versi Islam yang secara khusus dikaitkan dengan sosok Prabowo.
Tak hanya soal judul, sebagian masyarakat juga menyoroti muatan politik buku tersebut. Narasi yang terlalu menonjolkan sisi positif Prabowo bahkan dinilai berpotensi menjadi bentuk glorifikasi terhadap Presiden.
Perdebatan itu membuat buku Islam ala Prabowo tak hanya menjadi bacaan mengenai hubungan Islam dan kepemimpinan, tetapi juga memunculkan diskusi lebih luas mengenai batas antara kajian keagamaan, narasi politik, dan pencitraan seorang pemimpin. (*)
Editor : Slamet HarmokoSumber : Radar Solo