JAKARTA, radarsampit.jawapos.com — Perjalanan panjang Komjen Pol. Mohammad Fadil Imran di Kepolisian Republik Indonesia memasuki babak akhir. Perwira tinggi kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 14 Agustus 1968 itu genap berusia 58 tahun pada 2026, usia yang menjadi batas masa dinas bagi angkatan kelahirannya.
Lebih dari tiga dekade mengabdi di institusi kepolisian, Fadil Imran dikenal sebagai salah satu jenderal bintang tiga yang pernah menduduki sejumlah posisi strategis. Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 tersebut memiliki pengalaman panjang, terutama dalam bidang reserse dan operasional.
Kariernya tidak hanya berlangsung di lingkungan Mabes Polri. Fadil juga dipercaya memimpin dua kepolisian daerah strategis, yakni sebagai Kapolda Jawa Timur dan Kapolda Metro Jaya. Setelah itu, ia mendapat kepercayaan menduduki posisi Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri.
Pada Agustus 2025, jabatan Kabaharkam diserahkan kepada Irjen Pol. Karyoto. Fadil kemudian mendapat amanah baru sebagai Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops).
Pergantian tersebut menjadi bagian dari penyegaran organisasi di lingkungan Mabes Polri. Namun, memasuki Agustus 2026, perhatian kembali tertuju kepada Fadil karena faktor usia.
Sejumlah pemberitaan menyebut Fadil termasuk perwira tinggi Polri kelahiran 1968 yang memasuki masa pensiun tahun ini. Ketentuan perpanjangan masa dinas dalam perubahan aturan usia pensiun Polri disebut tidak berlaku bagi personel kelahiran 1968.
Ada Darah Raja Gowa dalam Silsilah Keluarga
Di balik perjalanan panjangnya sebagai perwira tinggi Polri, Fadil Imran memiliki latar belakang keluarga yang juga menarik perhatian.
Fadil merupakan putra pasangan HM Idris dan Hj Sitti Siada Dg Siang. Dari garis keluarga ibunya, Fadil disebut memiliki hubungan keturunan dengan Daeng Matanre Karaeng Manguntungi Tumapa'risi' Kallonna, Raja Gowa ke-9.
Silsilah tersebut pernah dicatat dalam buku Daeng Siang Sang Penerang. Daeng Matanre Karaeng Manguntungi dikenal sebagai salah satu penguasa penting dalam sejarah Kerajaan Gowa.
Pada masa pemerintahannya, pengaruh Kerajaan Gowa berkembang luas dan kemudian menjadi salah satu kekuatan besar di kawasan Nusantara.
Karaeng Tumapakrisik Kallonna dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah Gowa. Salah satu langkah strategis pada masa pemerintahannya adalah memindahkan pusat Kerajaan Gowa dari kawasan Bukit Tamalate menuju Somba Opu di wilayah pesisir.
Keputusan tersebut berkaitan dengan posisi Somba Opu yang dinilai lebih strategis untuk membuka akses perdagangan dan hubungan dengan wilayah lain.
Dari Somba Opu, aktivitas perdagangan dan hubungan dengan dunia luar berkembang. Kawasan tersebut kemudian menjadi salah satu pusat penting dalam sejarah Kerajaan Gowa.
Pembangunan pusat kerajaan juga diikuti dengan pembangunan benteng dan kawasan pelabuhan. Langkah tersebut memperlihatkan pentingnya posisi geografis dalam membangun kekuatan Kerajaan Gowa.
Pada era tersebut, perkembangan pemerintahan, perdagangan, kebudayaan, dan administrasi kerajaan juga terus berlangsung.
Nama Daeng Pamatte turut tercatat dalam sejarah. Ia disebut memegang posisi penting sebagai Tumailalang sekaligus Syahbandar dan dikaitkan dengan perkembangan aksara Makassar atau Lontara.
Dari Akpol 1991 hingga Jenderal Bintang Tiga
Fadil Imran mengawali perjalanan pengabdiannya setelah menyelesaikan pendidikan di Akpol pada 1991.
Puluhan tahun kemudian, kariernya terus berkembang hingga membawanya ke berbagai posisi strategis di lingkungan Polri. Pengalaman di bidang reserse dan operasional menjadi bagian penting dari perjalanan kariernya.
Ia pernah bertugas di lingkungan Bareskrim Polri sebelum dipercaya mengemban sejumlah jabatan pimpinan di tingkat kewilayahan.
Puncak perjalanan kariernya antara lain ketika Fadil dipercaya menjadi Kapolda Jawa Timur, kemudian Kapolda Metro Jaya. Dua jabatan tersebut menempatkannya sebagai salah satu perwira yang memiliki pengalaman memimpin wilayah kepolisian dengan tantangan kompleks.
Setelah itu, Fadil dipercaya menduduki jabatan Kabaharkam Polri. Pada 2025, ia kemudian bergeser menjadi Astamaops Kapolri.
Rangkaian penugasan tersebut menjadi bagian dari rekam pengabdiannya selama lebih dari tiga dekade.
Memasuki Babak Akhir di Polri
Kini, ketika usia Fadil Imran memasuki 58 tahun, perjalanan panjangnya sebagai anggota Polri berada di penghujung masa dinas.
Dari seorang taruna Akpol hingga mencapai pangkat Komisaris Jenderal, Fadil telah melewati berbagai tahapan penting dalam karier kepolisian.
Jejak pengabdiannya mencakup pengalaman di bidang reserse, operasional, kepemimpinan di tingkat polda, hingga posisi strategis di Mabes Polri.
Di sisi lain, latar belakang keluarganya yang disebut memiliki garis keturunan Raja Gowa memberikan warna tersendiri dalam perjalanan hidup jenderal kelahiran Makassar tersebut.
Kini, setelah lebih dari 30 tahun mengenakan seragam Bhayangkara, perjalanan Komjen Fadil Imran di institusi Polri memasuki fase penutup. Dari Akpol 1991 hingga jenderal bintang tiga, namanya telah menjadi bagian dari perjalanan panjang institusi kepolisian Indonesia.
Editor : Slamet Harmoko