JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) menuai sorotan dari kalangan ekonom.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai langkah tersebut menjadi pukulan telak bagi sektor moneter Indonesia dan berpotensi menggerus kepercayaan investor terhadap independensi bank sentral.
Bhima mengatakan, pengunduran diri Perry sangat disayangkan mengingat masa jabatannya sebagai Gubernur BI sejatinya baru akan berakhir pada Mei 2028.
"Mundurnya Gubernur BI Perry Warjiyo sangat disesalkan, pukulan telak bagi sektor moneter. Padahal masa jabatan masih berakhir pada Mei 2028," ujar Bhima, Senin (27/7).
Menurutnya, tekanan politik terhadap Bank Indonesia telah terasa sejak nilai tukar rupiah melemah pada akhir 2025. Ia menilai penyebab utama pelemahan rupiah lebih banyak berasal dari persoalan fiskal, seperti pelebaran defisit APBN, pelaksanaan sejumlah program pemerintah yang dinilai bermasalah dalam perencanaan, melemahnya penerimaan pajak, hingga peningkatan utang pemerintah.
Bhima juga menyoroti perubahan outlook utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat Moody's dan Fitch menjadi negatif sebagai cerminan meningkatnya risiko fiskal.
Namun, menurutnya, justru BI yang menjadi sasaran kritik karena dianggap gagal menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan kepercayaan investor.
Ia menilai hubungan antara otoritas fiskal dan moneter kini telah melampaui batas sinergi.
"Intervensi otoritas fiskal ke moneter juga sudah berlebihan, bukan lagi sinergi," katanya.
Selain itu, Bhima mengkritisi sejumlah perubahan regulasi, termasuk revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) serta Undang-Undang Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII), yang menurutnya berpotensi mengurangi kewenangan BI dalam mengatur lalu lintas devisa dan pengawasan transaksi keuangan lintas negara.
Ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar setelah mundurnya Perry adalah menjaga independensi Bank Indonesia. Menurut Bhima, apabila independensi bank sentral melemah, pemulihan kepercayaan investor akan menjadi pekerjaan yang tidak mudah.
"Mengembalikan kepercayaan investor tentu tidak mudah, apalagi arah kebijakan moneter berada di bawah kendali eksekutif. Selama masalah tekanan politik ke BI tidak berhenti, pengganti Perry dari internal tidak akan bertahan lama," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengumumkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menerima surat pengunduran diri Perry Warjiyo yang disampaikan pada Minggu (26/7).
Presiden juga menyampaikan apresiasi dan penghargaan atas pengabdian Perry selama tujuh tahun memimpin Bank Indonesia. Sesuai ketentuan Undang-Undang BI, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti ditunjuk sebagai Pejabat Gubernur Sementara hingga gubernur definitif ditetapkan.
Editor : Slamet HarmokoSumber : Jawa Pos, ANTARA