Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Golkar Ingatkan Bahaya Narasi Politik Tendensius untuk Lengserkan Prabowo, Minta Tak Ganggu Stabilitas Nasional

Slamet Harmoko • Senin, 6 April 2026 | 21:21 WIB
Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik, Idrus Marham menggelar konferensi pers di kantor IMC, Jakarta, Selasa (28/10). (Ridwan/JawaPos.com)
Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik, Idrus Marham menggelar konferensi pers di kantor IMC, Jakarta, Selasa (28/10). (Ridwan/JawaPos.com)

JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, mengingatkan agar narasi politik yang tendensius dan bernuansa anti pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tidak berkembang liar di ruang publik.

Ia menilai, pernyataan yang tidak utuh atau multitafsir berpotensi memicu kegaduhan politik dan mengganggu stabilitas nasional jika tidak disikapi secara bijak.

“Indonesia tidak boleh masuk ke jebakan yang sama. Kita harus belajar dari pengalaman global bahwa instabilitas sering berawal dari narasi kontraproduktif yang tidak bertanggung jawab,” ujar Idrus di kawasan Senayan, Jakarta, Senin (6/4/2026).

Pernyataan ini muncul di tengah sorotan publik terhadap komentar Islah Bahrawi yang menyebut adanya penurunan kapasitas kognitif Presiden Prabowo. Pernyataan tersebut memicu perdebatan luas di masyarakat.

Dalam pandangannya, Islah menilai kondisi kepemimpinan saat ini menjadi sumber berbagai persoalan, termasuk munculnya rasa takut dan tekanan di tengah masyarakat, serta menyebut perubahan kepemimpinan sebagai solusi.

Baca Juga: Geger! Ajakan Pelengseran Presiden Prabowo Sebelum Jabatan Berakhir 2029

Di sisi lain, pernyataan Syaiful Mujani yang dianggap menyinggung isu penjatuhan presiden turut memperkeruh situasi. Meski Syaiful telah membantah dan menyatakan ucapannya dipotong dari konteks, polemik di ruang publik terlanjur meluas.

Menanggapi hal tersebut, Idrus menegaskan bahwa persoalan ini tidak sekadar perbedaan pandangan, melainkan menyangkut etika komunikasi politik, khususnya dari tokoh publik dan kalangan intelektual.

“Dalam konteks politik yang dinamis, narasi seperti itu bisa ditafsirkan liar. Ini bukan hanya soal benar atau salah, tetapi soal dampak yang ditimbulkan,” tegasnya.

Ia pun mengajak semua pihak untuk lebih bijak dalam menyampaikan pandangan di ruang publik, dengan mempertimbangkan dampak sosial dan politik yang dapat memengaruhi stabilitas nasional.

Idrus menegaskan, demokrasi Indonesia memiliki mekanisme konstitusional yang jelas dalam proses pergantian kekuasaan. Karen itu, ia mengingatkan isu pemakzulan presiden tidak bisa dibangun dari opini atau spekulasi semata.

“Pemakzulan itu proses serius. Ada tahapan konstitusional yang panjang, melalui DPR, Mahkamah Konstitusi, hingga MPR. Tidak bisa digiring lewat opini publik atau narasi tidak utuh yang provokatif,” tegasnya.

Lebih lanjut, Idrus menyoroti realitas komunikasi publik saat ini, di mana informasi yang tidak utuh, dipotong, atau disampaikan secara provokatif dapat membentuk persepsi publik secara bias. Hal ini berpotensi mempercepat polarisasi dan merusak kepercayaan terhadap institusi demokrasi.

Ia juga menambahkan bahwa di banyak negara, krisis kepercayaan publik sering bermula dari erosi kredibilitas elite akibat pernyataan yang tidak akurat atau terkesan tendensius. Dalam situasi global yang penuh tekanan, mulai dari konflik geopolitik hingga ketidakpastian ekonomi, stabilitas politik menjadi kebutuhan mendesak.

“Ketika dunia sedang tidak pasti, yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang solid dan ruang publik yang sehat, bukan justru memperkeruh suasana dengan narasi yang memecah belah,” ujarnya.

Ia tak memungkiri, persepsi publik sangat mudah terbentuk hanya dari potongan informasi. Oleh karena itu, tanggung jawab moral seorang tokoh publik tidak hanya terletak pada substansi, tetapi juga pada cara penyampaian.

“Kalimat yang dipotong bisa mengubah makna. Di situlah awal dari disinformasi. Maka kehati-hatian adalah keharusan, bukan pilihan,” bebernya.

Idrus mengajak agar perbedaan sikap politik tidak berubah menjadi ketidakadilan dalam berpikir dan bertindak. Sebaliknya, sikap kritis dan objektif memang diperlukan dalam demokrasi, namun bukan dalam bentuk provokasi subjektif yang berpotensi memperlebar polarisasi di tengah kompleksitas tantangan bangsa.

“Jangan karena kebencian terhadap seseorang, kita kehilangan objektivitas. Demokrasi tidak boleh dirusak oleh emosi dan prasangka. Demokrasi harus dijaga dengan akal sehat, etika, kedewasaan sikap, dan tanggung jawab,” pungkasnya.

 

Editor : Slamet Harmoko
#idrus marham #Lengserkan Prabowo #golkar #stabilitas nasional