Radarsampit.jawapos.com – Aktivitas gempa bumi terjadi beruntun di wilayah Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (6/2/2026) dini hari.
Dalam kurun waktu kurang dari satu jam, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat tiga kali gempa dengan magnitudo berbeda, dengan gempa terkuat mengguncang wilayah tenggara Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.
Gempa pertama terjadi pada pukul 00.46 WIB dengan magnitudo 2,1. Episenter gempa berada di koordinat 7,88 Lintang Selatan dan 110,51 Bujur Timur, atau sekitar 16 kilometer barat laut Gunungkidul, DIY. Gempa dangkal ini memiliki kedalaman 18 kilometer.
Selang sekitar 12 menit kemudian, gempa kedua tercatat pada pukul 00.58 WIB. Gempa bermagnitudo 2,8 itu berpusat di koordinat 8,77 Lintang Selatan dan 112,05 Bujur Timur, sekitar 73 kilometer barat daya Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dengan kedalaman 30 kilometer.
Gempa ketiga sekaligus yang paling kuat terjadi pada pukul 01.06 WIB. BMKG mencatat gempa bermagnitudo 6,5 dengan pusat di koordinat 8,98–8,99 Lintang Selatan dan 111,17–111,18 Bujur Timur, atau sekitar 89–90 kilometer tenggara Pacitan, Jawa Timur.
Gempa ini memiliki kedalaman 10 kilometer dan tergolong gempa dangkal sehingga guncangannya dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah Jawa Timur bagian selatan, seperti wilayah Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar hingga Kabupaten Malang.
BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Pusat gempa berada di laut, di wilayah tenggara Pacitan.
“Hingga saat ini, gempa Pacitan tidak berpotensi tsunami,” demikian keterangan resmi BMKG yang disampaikan sesaat setelah kejadian.
Sampai berita ini ditulis, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat rangkaian gempa tersebut.
Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Masyarakat juga diminta terus memantau informasi resmi dari BMKG, terutama bagi warga yang berada di wilayah rawan gempa. (*)
Editor : Slamet Harmoko