Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Menguak Akar Sejarah Reog: Warisan Abad ke-12 yang Masih Hidup, Kini Proyek Museumnya Disorot KPK

Slamet Harmoko • Selasa, 9 Desember 2025 | 09:21 WIB
Reog. (Nur Chamim/ Jawa Pos Radar Semarang)
Reog. (Nur Chamim/ Jawa Pos Radar Semarang)

Radarsampit.jawapos.com - Reog bukan sekadar simbol Ponorogo, tetapi juga karya budaya besar yang telah bertahan ratusan tahun dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Jawa Timur.

Di balik kemegahan setiap penampilannya, Reog menyimpan jejak sejarah yang panjang, nilai filosofis yang kuat, serta jaringan kesenian yang menopang kehidupan ribuan pelaku seni.

Namun ironis, tradisi sebesar ini justru terseret dalam dugaan korupsi proyek pembangunan museum yang seharusnya menjadi pusat pelestarian budaya tersebut.

Reog turut mendorong ekonomi daerah dengan perputaran uang mencapai miliaran rupiah tiap tahun.

Berdasarkan data resmi Pemkab Ponorogo, ada lebih dari 270 perajin terlibat dan ekosistem keseniannya terus diwariskan lintas generasi.

Bahkan pada 3 Desember 2024, Reog Ponorogo ditetapkan sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO, memperkokoh statusnya sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang diakui secara global.

Namun kini, sorotan publik tertuju pada kasus dugaan aliran dana haram pembangunan Museum Reog yang diduga menyeret Bupati Ponorogo nonaktif Sugiri Sancoko.

Di tengah euforia pengakuan internasional, kabar dugaan korupsi ini justru mencoreng upaya pelestarian warisan budaya berusia dua abad tersebut.

Asal-Usul Kesenian Reog: Tiga Versi Cerita yang Mengakar Kuat

1. Kisah Sindiran Ki Ageng Kutu

Salah satu versi paling populer menyebut Reog lahir dari kritik halus Ki Ageng Ketut Suryo Alam terhadap keruntuhan Majapahit di masa Prabu Brawijaya V.

Sang raja dinilai terlalu tunduk pada permaisurinya sehingga kerajaan kehilangan wibawa. Alih-alih memberontak secara frontal, Ki Ageng Kutu memilih menuangkan kegelisahannya lewat kesenian.

Setiap karakter Reog mengandung simbol. Warok menjadi figur tetua yang dihormati, Singo Barong melambangkan raja yang angkuh, jathilan mewakili lunturnya semangat keprajuritan, dan Bujang Ganong menggambarkan sosok bijak yang tak dihargai.

Selepas Ki Ageng Kutu wafat, kesenian ini diteruskan Ki Ageng Mirah dan kemudian berkembang menjadi kisah Panji, menambah lapisan cerita tentang perang Kediri dan Bantarangin.

Versi ini menggarisbawahi bahwa Reog bukan sekadar tontonan, tetapi sebuah kritik sosial dan refleksi perjalanan sejarah Majapahit.

 

2. Reog Era Bathoro Katong

Versi kedua menautkan Reog pada masa awal berdirinya Ponorogo di bawah Raden Bathoro Katong.

Pada periode ini, Reog disempurnakan menjadi kesenian lokal Ponorogo sekaligus media dakwah penyebaran Islam.

Bagian paling ikonik, kepala harimau berhias ekor merak, ditambahkan untuk menguatkan filosofi dan estetika Reog.

Gamelan yang dulu dipakai Ki Ageng Kutu sebagai pengiring adu kesaktian kini berubah menjadi alat pemanggil masyarakat.

Setelah warga berkumpul, Bathoro Katong menyampaikan ajaran Islam. Reog pun menjadi sarana komunikasi, media penyatuan masyarakat, dan simbol transisi budaya.

3. Reog Versi Bantarangin: Kisah Cinta dan Peperangan

Cerita ketiga berasal dari legenda Bantarangin yang mengisahkan perjalanan cinta Prabu Kelana Sewandana kepada Dewi Songgolangit.

Kisah ini penuh unsur drama: pelamaran yang dihadang Singobarong, pertempuran besar, hingga penggunaan pusaka Cemeti Samandiman untuk menaklukkan penjaga Kediri.

Reog kemudian menjadi wujud penghormatan terhadap perjalanan sang prabu, kemenangan atas Singobarong, serta penyatuan dua kerajaan.

Cerita ini menegaskan bahwa Reog juga menyimpan unsur heroik dan romantis yang diwariskan melalui teater dan tarian.

Pemain-Pemain Penting dalam Pertunjukan Reog

Pertunjukan Reog melibatkan banyak karakter dengan peran masing-masing, sehingga setiap adegan terasa hidup dan bertenaga.

Barongan (Dhadhak Merak): Ikon utama Reog yang dimainkan oleh penari berkekuatan fisik luar biasa.

Topeng raksasa seberat sekitar 50 kg ini digigit dan dimainkan dengan gerakan lembut namun gagah.

Jathil Cilik dan Jathil Dewasa: Penari yang memerankan pasukan berkuda.

Jathil cilik berusia 10–12 tahun, sedangkan Jathil dewasa menggambarkan prajurit tampan Majapahit.

Klana Sewandana: Tokoh raja lengkap dengan topeng dan pecut Samandiman sebagai simbol kekuasaan dan karisma.

Warok: Sosok karismatik, kuat, disiplin, dan berilmu kanuragan. Warok adalah penjaga moral dan simbol kekuatan tradisi Ponorogo.

Bujang Ganong: Tokoh yang memadukan humor, kecerdikan, dan ketangkasan. Topengnya yang khas menjadi daya tarik panggung, dengan gerakan akrobatik yang memancing sorak penonton.

Senggakan: Bagian dari tim penyemangat yang meneriakkan “Hok’e… hok’e…” untuk memacu energi pertunjukan.

Pengrawit: Pengiring musik gamelan yang menjaga tempo dan atmosfer pertunjukan dengan irama khas Ponorogo.

Peralatan Ikonik dalam Pertunjukan Reog

Reog menggabungkan unsur musik, tari, dan bela diri. Beberapa peralatan yang wajib ada di dalamnya meliputi:

* Dadhak Merak, topeng berat simbol Singobarong;

* Gamelan sebagai pengiring utama;

* Eblek atau kuda kepang dari bambu;

* Topeng Ganongan;

* Pecut sepanjang 3 meter yang menghasilkan bunyi nyaring di setiap adegan klimaks.

Setiap peralatan punya filosofi tersendiri yang memperkaya identitas Reog sebagai seni tradisional yang kompleks.

Museum Reog Disorot dalam Kasus Korupsi

Di tengah upaya menjaga warisan budaya yang telah berusia sekitar dua abad ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) justru menelusuri dugaan penyimpangan dana pembangunan Museum Reog.

Kasus ini merupakan pengembangan dari operasi tangkap tangan terhadap Bupati Ponorogo nonaktif Sugiri Sancoko, yang sebelumnya dijerat atas dugaan suap terkait proyek RSUD dr. Harjono.

KPK menduga ada aliran gratifikasi lain yang merembet ke berbagai proyek di lingkungan Pemkab Ponorogo.

Penyidik kini menelusuri lebih jauh proses dan mekanisme proyek pembangunan Museum Reog, termasuk potensi aliran dana yang diduga diterima pihak terkait. (jpg)

Editor : Slamet Harmoko
#korupsi #reog ponorogo #sejarah #Museum Reog Ponorogo