JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) mempercepat langkah untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Hal itu dilakukan melalui peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) di sektor hulu, sambil menyiapkan transisi menuju energi rendah karbon.
Langkah strategis ini ditempuh untuk menjawab kebutuhan energi domestik dan target jangka panjang Indonesia menuju 2045.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan, perusahaan mengombinasikan upaya menguatkan bisnis migas tradisional dengan akselerasi energi rendah karbon.
”Seluruh program strategis Pertamina dirancang selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto terutama untuk memperkuat swasembada energi melalui penerapan dual growth strategy,” ujar Baron.
Di level angka, Pertamina melaporkan produksi migas yang tetap solid. Hingga Oktober 2025, total produksi terpantau berada di kisaran 1,032 juta barel setara minyak per hari.
Sebuah capaian yang menunjukkan upaya menahan laju penurunan produksi di lapangan-lapangan tua.
Kontribusi dari unit-unit hulu Pertamina juga nyata. Subholding Hulu Pertamina berhasil menempatkan tujuh anak usaha dalam daftar 10 produsen minyak terbesar nasional.
Di lapangan operasi, Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) mencatat capaian penting melalui pengembangan Area Dondang.
Lapangan Mutiara dan Pamaguan rata-rata memproduksi sekitar 3.600 barel minyak per hari dan 2 juta standar kaki kubik gas per hari sepanjang 2025 yang berkontribusi signifikan terhadap output PHSS.
”Penerapan inovasi dan teknologi memainkan peranan penting dalam mempertahankan tingkat produksi migas,” kata Widhiarto Imam Subarkah, Manager PHSS Field.
Pemerintah juga menegaskan dukungan kebijakan untuk mendorong penguatan hulu migas.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, sektor hulu tetap menjadi penopang utama ketahanan energi nasional, sehingga perlu percepatan reformasi perizinan optimalisasi lapangan eksisting pengembangan wilayah kerja baru dan reaktivasi sumur tua yang masih ekonomis.
”Ini tantangan bagi ketahanan energi dan pertumbuhan industri oleh karena itu selain memperkuat suplai migas pemerintah juga mempercepat pemanfaatan energi alternatif,” ujarnya.
Kolaborasi antara pemerintah lembaga negara BUMN energi dan pelaku industri dinilai menjadi kunci.
Fokusnya adalah menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan jangka pendek melalui produksi migas sekaligus menata strategi jangka panjang menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. (*/ign)
Editor : Gunawan.