JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Badan Gizi Nasional intensif memperluas cakupan MBG dalam dua bulan terakhir tahun ini untuk mengejar target 82,9 juta penerima manfaat.
Kepala BGN Dadan Hindayana menyatakan, upaya percepatan dilakukan lewat penambahan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harian dan koordinasi nasional agar layanan sampai ke daerah yang sulit dijangkau.
”Kami bekerja semaksimal mungkin supaya target itu dapat dikejar sampai akhir tahun,” kata Dadan.
Hingga laporan terakhir, tercatat 13.514 SPPG beroperasi di 38 provinsi 509 kabupaten dan 7.022 kecamatan dengan potensi melayani sekitar 39,5 juta penerima dan proyeksi naik mendekati 40 juta pada akhir bulan berjalan.
Angka tersebut menunjukkan perluasan jangkauan yang signifikan dalam waktu singkat.
Sejalan dengan peningkatan jangkauan MBG, BGN melaporkan penyerapan anggaran program sebesar Rp35,6 triliun atau sekitar 50,1 persen dari pagu tahunan.
Pemerintah memandang realisasi anggaran ini sebagai langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan dan akses gizi bagi masyarakat rentan.
Meski MBG memberi manfaat sosial besar, pelaksanaan program juga berdampak pada permintaan komoditas pangan tertentu.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pada Oktober 2025 komoditas telur ayam ras dan daging ayam ras mencatat kenaikan harga yang turut menjadi penyumbang utama inflasi bulanan 0,28 persen serta inflasi komponen harga bergejolak sebesar 6,59 persen.
BPS mengaitkan sebagian kenaikan permintaan tersebut dengan pelaksanaan program MBG.
Kepala Ekonom BCA David Sumual menilai, MBG memberi dorongan permintaan pada pangan lokal namun menekankan pentingnya penguatan data pasokan dan manajemen distribusi agar implementasi program lebih efisien.
”Menu bergizi perlu disesuaikan berdasarkan ketersediaan bahan di tiap daerah dan pemerintah harus memperkuat data pasokan agar tahu produk mana yang berpotensi defisit,” ujarnya. (*/ign)
Editor : Gunawan.