JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Pemerintah mengandalkan belanja fiskal yang produktif dan terarah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi 2025 di jalur sekitar 5 persen sambil menunggu pemulihan investasi swasta.
Analis dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Muhammad Rizal Taufikurahman, memperkirakan pertumbuhan pada kuartal III 2025 akan berkisar antara 5,0–5,2 persen.
Menurut Rizal, upaya fiskal yang ekspansif saat ini memberi dorongan signifikan meski belum sepenuhnya mencerminkan penguatan struktural ekonomi.
”Pertumbuhan ini lebih banyak didorong kebijakan bukan lahir dari penguatan fundamental,” ujar Rizal.
Data resmi Badan Pusat Statistik menunjukkan perekonomian tumbuh 5,12 persen (y-on-y) pada triwulan II-2025 sehingga perlunya menjaga momentum menjadi fokus kebijakan makro.
Kinerja kuartal kedua menjadi basis bagi optimisme bahwa kombinasi fiskal dan moneter bisa mempertahankan laju pertumbuhan.
Di tingkat daerah Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kalimantan Selatan Catur Ariyanto Widodo menyatakan bahwa penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) dan insentif fiskal berjalan stabil dan memberi dukungan bagi layanan publik.
”Insentif fiskal telah terealisasi Rp113,73 miliar atau 64,39 persen dari pagu,” kata Catur, menekankan fungsi dana itu sebagai apresiasi bagi daerah yang berkinerja.
Namun, realisasi belanja pemerintah hingga September menunjukkan ruang fiskal yang masih bisa dipacu.
Menurut pengamatan pusat kajian Prasasti Center realisasi belanja hingga periode itu baru mencapai 59,7 persen dari target tahunan lebih rendah dibanding periode sama tahun lalu yang 64,7 persen sehingga membuka peluang akselerasi penyerapan belanja pada kuartal IV.
”Realisasi belanja hingga September baru 59,7 persen jadi ruang untuk percepatan pada kuartal IV,” ujar Gundy Cahyadi.
Dari sisi investasi Indef dan beberapa pengamat mencatat bahwa pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan investasi swasta belum menunjukkan lonjakan, sehingga mesin pertumbuhan saat ini masih banyak dipacu dari belanja pemerintah.
Kebijakan yang menggabungkan stimulus fiskal terarah dan iklim investasi yang lebih kondusif dinilai penting agar pertumbuhan bersifat lebih berkelanjutan dan tidak hanya sementara. (*/ign)
Editor : Gunawan.