Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Ratusan Pegawai Pensiun Bersamaan, Kemenag Krisis Guru Agama

Slamet Harmoko • Minggu, 19 Oktober 2025 | 08:50 WIB
Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama (Kemenag) Supriyadi. (Hilmi/Jawa Pos)
Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama (Kemenag) Supriyadi. (Hilmi/Jawa Pos)

Radarsampit.jawapos.com - Sebanyak 117 aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) akan memasuki masa pensiun secara bersamaan.

Yang memprihatinkan, seluruhnya merupakan guru agama, sehingga berpotensi menimbulkan kekosongan tenaga pendidik di berbagai daerah.

Masalah ini terjadi di bawah Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha Kemenag.

Dirjen Bimas Buddha Kemenag Supriyadi mengatakan, salah satu pekerjaan rumah besar yang harus diakui secara terbuka adalah keterbatasan sumber daya.

“Salah satu pekerjaan rumah besar kami adalah soal keterbatasan SDM dan anggaran,” ujar Supriyadi dalam keterangannya.

Ia menjelaskan, meskipun kinerja pengelolaan Bimas Buddha terus menunjukkan kemajuan, alokasi anggaran yang terbatas membuat pihaknya belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan dan aspirasi umat yang semakin berkembang.

“Keterbatasan SDM ini terlihat jelas di sektor pendidikan. Sebanyak 117 guru agama Buddha akan segera pensiun, sementara formasi penggantinya belum mencukupi,” ungkapnya.

Kondisi ini, lanjut Supriyadi, berisiko menimbulkan kekosongan tenaga pengajar yang pada akhirnya dapat berdampak pada penurunan kualitas pembinaan generasi muda.

Selain masalah guru, tantangan juga muncul di sektor pendidikan tinggi agama Buddha, terutama terkait minimnya jumlah dosen bergelar profesor. Saat ini, kata Supriyadi, baru ada satu dosen agama Buddha di Indonesia yang menyandang gelar guru besar.

Pernyataan tersebut disampaikan Supriyadi dalam rangkaian acara peringatan Hari Ulang Tahun ke-20 Ditjen Bimas Buddha di Jakarta.

Sampai sekarang hanya ada satu guru besar bidang agama Buddha di Indonesia, yaitu Prof. Hesti Sadtyadi.

Kemenag akan melakukan percepatan, dengan mendorong dosen yang memenuhi syarat menjadi gubes.

Komitmen menambah jumlah gubes di bidang agama Buddha itu disampaikan Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha Kemenag Supriyadi.

"(Ada tantangan) Kelangkaan guru besar. Masih ada satu guru besar dari 12 kampus agama Buddha di Indonesia," kata Supriyadi.

Supriyadi menegaskan bahwa salah satu prioritas pemerintah sekarang adalah peningkatan kualitas SDM.

Upaya ini perlu didukung dengan dosen-dosen yang berkualitas. Salah satunya adalah keberadaan dosen dengan gelar Profesor atau gubes.

Supriyadi mengakui bahwa kualitas pengajar di kampus keagamaan Buddha masih belum semaju di Islam.

Pasalnya untuk di kampus keagamaan Islam, jumlah gubes keagamaan Islam sudah sangat banyak. Termasuk juga gubes di agama lain, seperti Kristen atau Katolik.

Dia menegaskan program akselerasi mencetak gubes keagamaan Buddha yang barusan harus dilaksanakan.

Dosen-dosen yang secara kepangkatan sudah memenuhi syarat sebagai gubes, didorong untuk segera meraih gelar gubes. Khususnya para dosen yang sudah berpangkat Lektor Kepala.

Tantangan untuk mendapatkan gelar gubes adalah karya atau publikasi ilmiah yang terindeks Scopus.

Untuk itu kepada kampus-kampus keagamaan Buddha, diminta lebih aktif melakukan penelitian dan publikasi. Sehingga bisa jadi tangga untuk memperbanyak jumlah gubes keagamaan Buddha.

Editor : Slamet Harmoko
#krisis guru agama #agama budha #guru agama