Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Ulama dan Akademisi Ajak Tolak Provokasi demi Menjaga Persatuan Bangsa

Gunawan. • Sabtu, 6 September 2025 | 15:25 WIB
Pendemo memberikan bunga untuk disampaikan ke Bupati Kotim Halikinnor usai menandatangani berita acara dan poin tuntutan demo, di depan Gedung DPRD Kotim, Senin (1/9/2025). (Oes/Radar Sampit
Pendemo memberikan bunga untuk disampaikan ke Bupati Kotim Halikinnor usai menandatangani berita acara dan poin tuntutan demo, di depan Gedung DPRD Kotim, Senin (1/9/2025). (Oes/Radar Sampit

JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Sejumlah tokoh agama dan akademisi menyerukan agar publik menolak segala bentuk provokasi yang berpotensi memecah persatuan dan memicu kerusuhan.

Mereka mengimbau masyarakat untuk menyalurkan aspirasi secara tertib, menjaga ketertiban umum, dan mengedepankan rasa saling menghormati demi stabilitas nasional.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Marsudi Syuhud menegaskan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat adalah hak konstitusional, tetapi harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

”Silakan sampaikan pendapat — hari ini, besok, atau lusa — asal tetap menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan bersama,” ujarnya dalam wawancara yang menggaung di sejumlah pemberitaan dan siaran televisi.

Marsudi menekankan bahwa menjaga kehormatan semua pihak penting: mulai dari warga yang menyampaikan aspirasi, aparat yang bertugas menjaga keamanan, hingga pimpinan dan perwakilan rakyat.

”Kehormatan rakyat harus tetap terjaga, begitu pula kehormatan pimpinan dan perwakilan mereka,” tegasnya.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Aditya Perdana, mengingatkan dampak berkelanjutan bila demonstrasi berlangsung terus-menerus tanpa saluran dialog yang efektif.

Menurut Aditya, demonstrasi yang berkepanjangan berpotensi menambah beban bagi aparat dan mengganggu stabilitas pemerintahan bila tidak diantisipasi dengan baik.

”Kalau demonstrasi terus bergulir tanpa upaya mediasi, itu bisa memperkeruh situasi dan menambah tantangan bagi pemerintah,” jelasnya.

Di tingkat daerah, KH Saifuddin Siroj, Ketua MUI Kota Bekasi, meminta warga untuk memelihara semangat gotong royong dan mengedepankan dialog sebagai jalan penyelesaian perbedaan.

Ia juga menyampaikan dukungan terhadap langkah aparat negara dalam menjaga ketertiban serta mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh kabar bohong (hoaks) atau ajakan anarkis.

”Kami menolak provokasi, hoaks, dan tindakan anarkis. Mari rawat persatuan demi masa depan yang lebih baik,” kata KH Saifuddin.

Seruan dari tokoh agama dan akademisi ini sejalan dengan ajakan resmi para pemimpin publik agar segala bentuk aspirasi disampaikan melalui cara-cara demokratis yang damai dan bertanggung jawab.

Pemerintah pusat dan para tokoh lintas agama juga berulang kali meminta tokoh agama untuk meredam ketegangan dan mengedepankan dialog, sehingga kohesi sosial tetap terjaga. (*/ign)

Editor : Gunawan.
#provokasi #tokoh agama #demonstrasi