Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Pariwisata Bali Makin Bergeliat tapi Okupansi Hotel Justru Turun

Farid Mahliyannor • Selasa, 19 Agustus 2025 | 21:04 WIB
SUNSET : Tamu TRIBE Bali Beach Hotel, Denpasar, bersantai di rooftop. FOTO: DOK/RADAR SAMPIT
SUNSET : Tamu TRIBE Bali Beach Hotel, Denpasar, bersantai di rooftop. FOTO: DOK/RADAR SAMPIT

Radarsampit.jawapos.com - Di tengah geliat pemulihan ekonomi pasca-pandemi, Bali memasuki fase ekspansi.

Hal ini bisa dilihat dari data perekonomian Pulau Dewata yang tumbuh 5,78 persen secara kumulatif pada semester I/2025.

Capaian itu melampaui rata-rata nasional yang berada di kisaran 5,1 persen.

Lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 2,64 juta orang dalam lima bulan pertama 2025, menjadi mesin penggerak utama.

Angka ini naik signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu.

Didorong oleh kembali maraknya agenda MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) dan festival budaya berskala internasional.

Namun, di balik tren positif ini, terselip tantangan besar.

Tingkat hunian hotel di Bali justru turun 10-20 persen dibanding tahun sebelumnya.

Penyebabnya antara lain maraknya akomodasi ilegal dan short-term rental yang tidak terdaftar, memicu kebocoran pendapatan daerah dan mengancam ekosistem pariwisata formal.

Persoalan ini menjadi bahasan utama Bali Entrepreneurship Minifest 2025 yang dihelat oleh IEF Research Institute berkolaborasi dengan Himpunan Pengusaha Kahmi (Hipka) Bali di Denpasar.

Direktur Eksekutif IEF Research Institute Ariawan Rahmat menyampaikan, acara terkait bertujuan untuk membangun sinergi pemerintah, pengusaha dan masyarakat dalam memperkuat daya saing Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Ariawan menyoroti pentingnya kesiapan administrasi dan tata kelola usaha di tengah iklim ekonomi yang kondusif di Bali agar bisnis mampu mencapai keberlanjutan.

“Bisnis yang kuat bukan hanya soal omzet besar, tapi juga administrasi yang rapi dan kepatuhan yang terjaga. Pajak adalah tiket legal untuk tumbuh tanpa bayang-bayang masalah hukum,” kata Ariawan dikutip dari liputan6, Sabtu (16/8/2025).

Ariawan merinci tiga pilar yang harus diperkuat pengusaha.

Pertama, pengelolaan keuangan dan pencatatan. Misalnya, pengusaha harus memisahkan rekening pribadi dan bisnis, mengelola arus kas, dan menggunakan perangkat akuntansi terintegrasi.

Kedua, sistem administrasi internal, seperti menetapkan SOP yang jelas, memperkuat SDM, dan membangun sistem informasi manajemen.

Ketiga, kepatuhan perpajakan. Ariawan mengimbau agar pelaku usaha tidak perlu takut dengan kewajiban perpajakan.

Ia meyakinkan, kepatuhan pajak adalah investasi untuk kelangsungan bisnis jangka panjang.

Baca Juga: Nikmatnya Wisata di Paru-Paru Kota Palangka Raya...

“Pajak tidak dibebankan kepada semua orang secara sembarangan, melainkan hanya kepada mereka yang telah memenuhi persyaratan objektif dan administratif sesuai undang-undang," ungkap dia.

Sementara itu, Ketua PHRI Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati juga menekankan bahwa legalitas adalah kunci membangun usaha yang berkelanjutan, termasuk bagi pengusaha perhotelan dan penginapan di Bali.

Mantan Wakil Gubernur Bali Periode 2018-2023 itu menegaskan bahwa legal compliance bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi untuk melindungi industri pariwisata dari persaingan tidak sehat.

“Setiap usaha penginapan harus beroperasi sesuai aturan. Legalitas bukan hanya melindungi pelaku usaha, tapi juga menjamin manfaat ekonomi kembali ke masyarakat lokal,” tegas pria yang akrab disapa Cok Ace.

Ia memaparkan lima sasaran strategis PHRI, yakni peningkatan kualitas industri, perlindungan dan pembinaan anggota, penguatan daya saing melalui inovasi, kontribusi pada promosi pariwisata berkelanjutan, serta perluasan jejaring dan kolaborasi.

Cok Ace menyampaikan, PHRI juga mendorong pengembangan akomodasi berbasis masyarakat seperti homestay dan eco lodge yang memadukan kearifan lokal, desain bangunan ramah lingkungan, dan manfaat ekonomi langsung bagi warga.

Praktisi pengembangan bisnis yang juga pengusaha di di bidang penyewaan private jet dan helikopter Khairul Mahfuz menyampaikan perspektif pengembangan sumber daya manusia.

Ia menyebut bonus demografi sebagai peluang emas yang harus dioptimalkan.

Namun, menurutnya kunci sukses pengusaha bukan hanya modal dan pasar, tapi kapasitas diri.

Pengusaha harus memiliki komitmen dan serius, mulai dari merencanakan bisnis mereka, bertindak dan serius dalam melawan pergolakan batin sendiri.

“Pengusaha muda harus visioner, responsif, dan punya keberanian mengambil inisiatif,” ujarnya. (uta/opi/jpg)

 

Editor : Farid Mahliyannor
#liburan #pariwisata #bali #tingkat hunian hotal