JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Sebanyak 8.000 siswa di Sekolah Rakyat berasrama kini mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar pemerintah sebagai upaya memastikan kondisi fisik dan mental peserta didik.
Program yang telah dimulai di Kabupaten Lebak, Banten, ini akan dilanjutkan ke berbagai daerah lainnya.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan, setiap murid Sekolah Rakyat wajib menjalani pemeriksaan kesehatan karena model pembelajaran boarding school menuntut lingkungan yang sehat dan aman.
”Wajib cek kesehatan bagi siswa Sekolah Rakyat penting agar kita dapat menjamin keamanan dan kenyamanan mereka di asrama,” ujarnya.
Program CKG merupakan hasil kolaborasi lintas kementerian, terutama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) yang memfasilitasi infrastruktur dan sistem pendataan.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menjelaskan, Kemkomdigi menyiapkan jaringan konektivitas serta platform nasional untuk mengelola data hasil pemeriksaan secara cepat dan terintegrasi.
”Program pemerintah perlu disampaikan dan dikomunikasikan dengan baik, dalam rangka transparansi dan pertanggungjawaban publik,” tuturnya.
Selain komunikasi publik, pihaknya juga menyiapkan jaringan konektivitas digital untuk mempercepat pemrosesan data kesehatan para siswa.
”Ketika dilakukan secara masif, data-datanya akan luar biasa banyak. Maka penting untuk dilakukan sistem pendataan dengan baik dan terkoneksi secara nasional,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa setiap siswa akan menerima kartu kesehatan yang memuat hasil cek CKG.
Kartu ini akan diserahkan ke Puskesmas terdekat untuk tindak lanjut apabila ditemukan masalah kesehatan, baik secara individual maupun kelompok.
”Apabila ada siswa dengan kebugaran di bawah standar, Puskesmas bersama sekolah akan merancang intervensi kolektif,” jelas Abdul Mu’ti.
Dengan cakupan program yang menyasar anak-anak dari keluarga kurang mampu, pemerintah berharap CKG Sekolah Rakyat dapat menjadi model pendidikan holistik yang memadukan aspek akademik, gizi, dan kesehatan mental.
Ke depan, program ini akan diperluas dan diperkuat melalui integrasi layanan gizi, konseling kesehatan jiwa, serta pemantauan berkala untuk membangun ekosistem pembelajaran yang inklusif dan berkelanjutan. (*/ign)
Editor : Gunawan.