BANDUNG – Mahasiswa S3 Doktoral Administrasi Publik Kombes Pol Yade Setiawan Ujung berhasil meraih gelar Doktor di Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat dengan predikat nilai Cumlaude.
Pada sidang promosi gelar Doktor yang diadakan di ruang sidang Program Pasca Sarjana FISIP Universitas Padjadjaran, Kamis (4/3), Yade Setiawan Ujung menjelaskan terkait adanya temuan baru dalam evaluasi penanganan Covid-19 di wilayah Kota Bandung, Jawa Barat.
Dalam Disertasinya yang berjudul Evaluasi Kebijakan Operasi Aman Nusa II Dalam Penanganan Covid-19 oleh Polrestabes Bandung, Yade Setiawan mengupas secara komprehensif mulai dari hulu ke hilir dalam penanganan Covid-19 di Kota Bandung dalam Operasi Aman Nusa II.
Yade Setiawan Ujung mengatakan, vaksinasi sebagai Game Changer keberhasilan Operasi Aman Nusa II Polri dalam menangani Covid-19.
Salah satu temuan menarik Yade Setiawan dalam disertasinya, yakni adanya perubahan kebijakan penambahan vaksinasi yang menjadi game changer policy.
”Pada tahap awal operasi aman Nusa II di tahun 2020 berubah setelah program vaksinasi digulirkan, karena Polri aktif melakukan vaksinasi door to door dan di titik keramaian,” ujar Yade.
Penelitian Yade berhasil menemukan bahwa partisipasi masyarakat menjadi tinggi dalam program vaksinasi ini khususnya di periode tahun 2021, sehingga mampu melandaikan kurva Covid-19.
”Program vaksinasi menjadi salah satu kunci keberhasilan Operasi Aman Nusa II dalam melakukan penanggulangan Covid-19 yang turut dilaksanakan oleh Polri,” imbuhnya.
Kebijakan tersebut memerlukan keterlibatan masyarakat untuk menerima dan melakukan program vaksinasi. Bentuk pengayaan dari proses preventif yang diinstruksikan langsung oleh pemerintah pusat untuk melengkapi kebijakan penanggulangan Covid-19 selain protokol kesehatan dan penguatan 3T (Testing, Tracing, dan Treatment).
”Polrestabes Bandung memprioritaskan program vaksinasi dalam operasi Aman Nusa II sebagai bentuk pelaksanaan instruksi langsung dari pemerintah pusat,” tuturnya.
Temuan ini berimplikasi pada elemen dalam model kebijakan publik yang selama ini disepakati para Scholar Administrasi Publik seperti Dye (2013), Thedoulou (1995), Dunn (2003), dan Patton (1993). Elemen tersebut adalah perumusan kebijakan, formulasi kebijakan, implementasi kebijakan dan evakuasi kebijakan.
”Dengan adanya temuan ini, maka ternyata ada elemen lain dalam kebijakan publik agar objektif dalam perumusan kebijakan dapat dicapai, yaitu elemen proaktif,” ungkapnya.
Tanpa adanya pendekatan proaktif dari Polri untuk turun door to door serta masifnya kampanye terkait efektivitas vaksinasi, maka partisipasi publik tidak akan setinggi yang diharapkan. Selain itu, perubahan kebijakan yang responsif ini mengindikasikan adanya proses evaluasi yang dilakukan Polri, khususnya Polrestabes Bandung secara dinamis dengan temuan di lapangan.
”Pada tahap awal operasi aman Nusa II di tahun 2020 berubah setelah program vaksinasi digulirkan, karena Polri aktif melakukan vaksinasi door to door dan di titik keramaian,” katanya. (*)
Editor : Gunawan.